5 Alasan Running Man Versi Indonesia Mending Tak Usah Dibuat

Salah satu persoalan yang nanti berpotensi menggangu Running Man versi Indonesia adalah bagaimana show ini bisa diterima di kalangan penggemar berat Running Man Korea.

JEDA.ID – Running Man menjadi TV show Korea Selatan yang paling banyak diterima penonton global. Tayangan bergenre variety show (tayangan varietas) ini telah memperoleh popularitasnya di banyak negara di Asia, Afrika hingga Amerika Selatan seperti Brazil dan Meksiko. Kabar terbaru, Running Man bakal dibuat versi Indonesia.

Saking populernya, variety show yang tayang perdana pertengahan 2010 ini bahkan dibuat di dua negara lain, China dan Vietnam. Di China show ini diberi nama Hurry Up, Brother yang sudah tayang sejak 2014. Vietnam menginisiasi show serupa bernama Chạy đi chờ chi pada April 2019.

Setelahnya, Running Man bakal dibuat versi Indonesia. Indonesia dipilih lantaran dianggap menjadi salah satu basis penggemar paling besar setelah China, Vietnam, dan Thailand.

Menurut pemimpin konten SBS Global Kim Yong Jae, dilansir Soompi, Indonesia juga memegang peran besar dalam perkembangan Korean Wave di Asia Tenggara. “SBS telah resmi memasuki Indonesia, pasar terbesar Asia Tenggara setelah China dan Vietnam,” kata Kim Yong Jae.

Jika jadi dibuat versi Indonesia, maka diprediksi Running Man bakal mendapati sejumlah kendala.

Tak Sesuai Bayangan Fans

Hal pertama yang menjadi kendala adalah fanatisme penonton Running Man lawas. Jangankan dibuat versi lain, saat Running Man mengumumkan Yang Se Chan dan Jeon So Min jadi member terbaru pada April 2017, fans-fans lawas langsung mengungkap protesnya.

Se Chan dan So Min menjadi sasaran perundungan fans. Akun media sosial kedua member tetap Running Man ini menjadi sasaran kemarahan. So Min dianggap mengambil peran Song Ji Hyo, yang sudah ada di Running Man sejak lama.

Sedangkan humor Se Chan dianggap tidak cocok dengan Running Man. Se Chan juga dianggap kurang ajar terhadap member laws seperti Lee Kwang Soo.

Meski perundungan terhadap kedua member ini mereda, nyatanya komentar bernada kebencian masih sering terlihat. Apalagi ketika kedua member ditampilkan di postingan media sosial Running Man.

Fans akan menganggap Running Man versi terbaru tidak cocok dengan selera mereka. Menawarkan Running Man dengan konsep asli akan membuat penonton jenuh. Fans akan tetap membandingkan Running Man negara lain dengan versi aslinya.

Menggagas konsep Running Man di banyak negara juga harus mempertimbangkan selera fans lama atau tidak sama sekali. Ada potensi jika show ini diusung dengan konsep yang berbeda total, maka Running Man versi negara lain akan meraup penggemar baru. Bukan tidak mungkin show ini akan lebih berhasil dari versi aslinya.

Tradisi Variety Show di Indonesia

Kendala kedua dari Running Man versi Indonesia soal tradisi variety show. Di Indonesia tidak banyak variety show yang berkembang dan memperoleh tempat.

Ada beberapa yang menjadi besar namun justru menuai kritika. Sebut saja Mamamia Show, Hapy Show, Rumah Mama Amy, atau Eat Bulaga. Ada pula variety show ala ala Running Man, Mission X, yang juga gagal secara rating acara. Variety show yang terbilang berhasil adalah Indonesian Idol atau Dangdut Academy. Ada pula Dahsyat dan Inbox.

Namun acara-acara ini dikemas dengan drama yang cukup intensif. Karenanya, orang menjadi jauh dengan konsep variety show seperti di Korea Selatan. Alih-alih menjadi variety show, acara-acara itu menjadi lebih mirip reality show yang dituntut untuk selalu jujur tanpa settingan.

Padahal di Korea, sebagaimana juga terjadi di variety show, ada pula drama-drama ringan yang menghibur. Love line misalnya. Simulasi hubungan percintaan ini banyak berhasil. Running Man punya love line antara Song Ji Hyo dan Kang Garry dengan sebutan Monday Couple.

Mission X Indonesia yang dianggap jiplakan Running Man. (Istimewa)

Mission X Indonesia yang dianggap jiplakan Running Man. (Istimewa)

Fans tidak menuntun mereka untuk jujur mengakui hubungan, tapi menikmati itu sebagai bagian dari hiburan.

Lucu-Lucu Romantisnya Monday Couple Bikin Fans Running Man Kangen

Humor Disensor

Sensor tayangan di Indonesia akan lebih ketat dari Korea Selatan. Apalagi jika masuk TV. Untungnya, sementara ini, FCL sebagai perusahaan yang bekerjasama dengan SBS, bakal menempatkan Running Man Indonesia sebagai tayangan daring.

Salah satu yang tidak akan bisa ditampilkan tentu humor Slapstick. Slapstick adalah jenis komedi fisik yang mengandalkan kelucuan gerak adegan. Spapstick meliputi mencakup tiga hal utama yaitu derita, celaka dan aniaya.

Di Indonesia humor slapstick pernah berjaya di masa OVJ generasi pertama, Pesbukers atau banyak show yang ditampilkan Trans TV. Namun, banyak diprotes dan diupayakan untuk tak tayang di TV.

Sedangkan Running Man kerap menampilkan slapstick. Bahkan, slapstick menjadi salah satu unsur utama yang mengundang kelucuan.

Selain slapstick, menertawakan fisik juga menjadi bagian dari show. Penonton Running Man tentu tahu, Garry terkenal karena wajahnya yang dianggap mirip cumi-cumi. Garry bahkan punya panggilan “Garry the Squid.”

Ji Suk Jin juga kerap diledek karena hidungnya yang besar. Atau tubuh jangkung Le Kwang Soo yang kerap disamakan dengan jerapah.

Humor-humor seperti ini tentu akan sulit diterima apalagi bagi para SJW (social justice warior) di Indonesia.

8 Alasan Kenapa Running Man Digemari di Banyak Negara

Member Bisa Jaga Komitmen?

Salah satu faktor yang membuat Running Man sukses adalah konsistensinya. Kerja keras kru di lapangan dan member membuat Running Man menjadi show yang besar dan diterima di banyak negara.

Kredit lebih diberikan kepada para member. Yoo Jae Suk, Ha Dong Hoon (Haha), dan Le Kwang Soo tampil sejak episode pertama (11/7/2010) hingga episode 483 (1/2/2020) tanpa jeda. Song Ji Hyo sudah tampil sejak menjadi member episode 7 hingga sekarang.

Ji Suk Jin dan Kim Jong Kook cuma absen di satu episode karena masalah fisik. Bahkan, Kim Jong Kook pernah sekali memaksa tampil meski dalam keadaan cedera berat.

Tidak ada satupun member yang absen di banyak show. Song Joong Ki memutuskan untuk berhenti menjadi member Running Man di episode 41 karena kesibukan. Begitu pula Kang Garry di Oktober 2016 setelah konsisten tampil di setiap episode Running Man.

Konsistensi ini yang menjadi ujian bagi Running Man di negara lain. Di China, Running Man sudah berganti format dan member. Judul acara dari Hurry Up Brother berganti menjadi Keep Running.

Skuad Running Man setelah Garry pergi, sebelum Jeon So Min dan Yang Se Chan datang. (Istimewa)

Skuad Running Man setelah Garry pergi sebelum muncul member terbaru So Min & Se Chan. (Istimewa)

Sudah ada delapan sesi dengan berulang kali mengganti member tetap. Totap sudah ada tujuh orang yang keluar dari show itu. Bahkan saat menjadi member tetap, para pemain beberapa kali bergantian absen.

Hal ini yang membuat Running Man versi China tak menarik bagi penggemar Running Man asli. Salah satu yang membuat Keep Running menarik adalah member wanita yang cantik. Mereka menggaet Dilraba Dimurat, gadis cantik keturunan Uighur, dan Angelababy yang wajahnya bak boneka.

Berani Keluarkan Bugdet Mahal?

Kendala teknis yang dihadapi Running Man Indonesia meliputi biaya produksi dan pemasukan. Barangkali jika ditayangkan via daring maka tayangan tak perlu membutuhkan rating.

Jika tidak mampu mendatangkan banyak penonton, tentu tidak banyak sponsor yang bakal masuk. Jika hal ini terjadi, pengeluaran untuk biaya produksi tentu tak bisa maksimal.

Padahal, variety show seperti Running Man membutuhkan biaya lebih. Bukan cuma untuk membayar gaji artis dan bintang tamu, tapi juga untuk akomodasi lain seperti sewa tempat, transportasi, atau jika diperlukan penginapan.

Selain kendala ekonomi, produksi ide juga bakal menghantui. Running Man terkenal dengan variasi tantangannya yang beragam. Bahkan dengan satu permainan, Running Man punya beragam cara untuk mengemasnya secara berbeda.

Hal ini juga menjadi kendala Running Man versi Korea. Produser Running Man, Gong Hee Chul , dilansir dari Koreaboo, 10 April 2019, mengakui bahwa ide-ide untuk permainan baru adalah salah satu tantangan kru produksi.

“Tidak ada yang belum kami lakukan. Masalahnya dengan program lama adalah tidak ada yang baru karena sudah berlangsung begitu lama. Ketika ide baru muncul, produser harus melihat ke belakang dan melihat apakah itu sudah atau belum. Termasuk ide yang belum pernah dilakukan karena suatu alasan,” katanya.

Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.