Suami-Istri di Cianjur Meninggal Dipatuk Ular, Ini 6 Jenis Ular Paling Berbisa

Sebagai negara tropis, di Indonesia banyak hidup beragam jenis satwa termasuk ular yang berbisa. Banyak kisah orang yang meninggal setelah dipatuk ular.

JEDA.ID— Sebagai negara tropis, di Indonesia banyak hidup beragam jenis satwa termasuk ular yang berbisa. Banyak kisah orang yang harus kehilangan nyawa setelah dipatuk ular berbisa.

Seperti yang dialami pasangan suami-istri, Maksum,40, dan Nuryani,38, yang meninggal dunia setelah dipatuk ular yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah mereka. Maksum tewas pada 2018, sedangkan Nuryani pada Sabtu (12/10/2019). Empat anaknya kini tinggal di rumah tetangga.

Warga menduga, ular berkulit belang hitam dan putih, yang dikenal dengan sebutan ular welang, itu masuk lewat lubang lantai rumah. “Lantai plesteran rumah mereka itu memang banyak lubang, diduga ular itu masuk lewat tempat itu,” kata Asbim, 38, tokoh pemuda Kampung Pasir Kampung, Desa Sukatani, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, seperti dilansir detikcom, Kamis (17/10/2019).

Menurut Asbim, ular-ular itu diduga ada habitatnya di area tebing yang tidak jauh dari permukiman padat di kampung tersebut. “Kalau keterangan warga di sini, ular itu ada dua ekor. Satu sudah mati dibunuh warga. Tersisa satu ekor lagi,” ucapnya.

Senada diungkap Abah Onih, warga yang kini mengurus empat anak Maksum dan Nuryani. Ia mengaku waswas ular itu akan kembali meneror warga kampung. “Kami khawatir takut ular itu datang lagi, apalagi sudah masuk musim hujan seperti sekarang. Kalau ular yang belum ketangkap panjangnya sekitar dua meteran, di sini disebutnya ular welang,” ucap Abah Onih.

Maksum menjadi saksi ganasnya ular jenis itu yang menewaskan suami-istri tersebut. “Bengkak-bengkak, penglihatan juga jadi buram. Kondisi ini dialami almarhum Maksum dan istrinya Nuryani, dikasih obat juga cuma sampai leher keluar lagi,” ujar Abah Onih.

Kisah Satpam Tangerang

Belum lama ini, kisah serupa dialami Iskandar, 44, seorang satpam di Perumahan Cluster Michella, Gading Serpong, Tangerang. Iskandar meninggal dunia setelah jarinya dipatuk ular berbisa, pada Selasa (20/8/2019) malam.

Saat itu, Iskandar diminta bantuan oleh warga untuk mengamankan seekor ular jenis weling. Iskandar kemudian mendatangi lokasi bersama rekannya, Jaelani. Iskandar berhasil menangkap ular itu dengan tangan kosong hingga telunjuk kirinya dipatuk ular tersebut.

Iskandar mencoba mengeluarkan bisa ular dengan mengisap darah dari telunjuknya. Iskandar tak langsung merasakan efek bisa ular itu, bahkan memainkan ular tersebut setelah digigitnya. Polisi menduga Iskandar tidak mengetahui jika ular tersebut berbisa. Iskandar juga tidak langsung mencari pertolongan pertama setelah digigit ular.

“Karena kita lihat dari rentang waktu dia kena, itu lukanya juga dikit, rentang waktu digigit 10 jam, baru meninggalnya Rabu (21/8) pagi,” Kapolsek Kelapa Dua Kompol Effendi kepada detikcom, Jumat (23/8/2019).

Racun

Ular mungkin menjadi salah satu hewan yang paling ditakuti oleh manusia dan predator di kalangannya. Umumnya, kehadiran binatang melata ini di lingkungan kita akan membuat kehebohan. Di Indonesia, sebagai negara beriklim tropis, terdapat beragam spesies ular berbisa maupun tak berbisa, namun tetap mematikan. Begitu pula di negara-negara lain di dunia, keberadaan satwa ini identik dengan racun yang berbahaya. Berikut sejumlah ular yang berbahaya yang patut diwaspadai.

1. Ular Laut Belcher

Menduduki urutan teratas dan pertama dalam “Daftar Ular Berbisa Paling Mematikan di Dunia” versi List Verse adalah ular laut Belcher (Hydrophis belcheri). Ular ini umumnya punya panjang antara 0,5 sampai 1 meter. Badannya berwarna belang-belang cokelat pasir dan cokelat pucat. Kepalanya pendek dan berwarna cokelat gelap. Ekor berbentuk pipih, sebagaimana umumnya ular laut.

Belcher termasuk golongan ular berbisa keras. Dosis racunnya mencapai 0,24 mg/kg, cukup kuat untuk membunuh 1.000 orang dalam waktu 20 menit, meski reptil air dan darat ini tergolong jinak. Biasanya, mereka yang menjadi korban gigitan ular laut Belcher adalah nelayan. Sementara itu, ular ini ditemukan di seluruh perairan di Asia Tenggara (lautan kepulauan Filipina bagian tenggara) dan Australia Utara, juga tersebar di perairan Indonesia timur (Maluku utara dan selatan) hingga Oseania.

2. Taipan Pedalaman

Taipan pedalaman (Oxyuranus microlepidotus) memiliki racun paling mematikan dari semua ular darat di dunia. Hasil maksimum yang tercatat untuk satu gigitan adalah 110 mg, cukup untuk membunuh sekitar 100 manusia atau 250.000 tikus.

Untungnya, ular ini tidak terlalu agresif dan jarang ditemui oleh manusia di alam liar. Tidak ada korban jiwa yang pernah dicatat, meskipun berpotensi membunuh manusia dewasa dalam waktu 45 menit. Ular ini kali pertama ditemukan oleh Frederick McCoy pada 1879. Lalu dideskripsikan oleh William John Macleay pada 1882.

Namun, sembilan puluh tahun setelahnya, komunitas ilmiah tidak lagi menemukan spesimen ular tersebut dan tidak ada lagi tambahan pengetahuan mengenai hewan ini selama kurun waktu itu. Sampai akhirnya, taipan pedalaman ditemukan kembali pada 1972. Panjang seekor taipan pedalaman dapat mencapai 2,5 meter. Namun, yang sering ditemui umumnya adalah 1,8 meter.

Warna tubuh biasanya cokelat tua atau oranye gelap, tergantung pada musim. Pada musim dingin, warna tubuhnya cenderung cokelat gelap dengan kepala dan tengkuk (leher belakang) berwarna hitam mengkilap. Sedangkan pada musim panas, ia menjadi oranye-kuning cerah atau kuning pucat, dengan kepala dan tengkuk berwarna sama dengan badannya.

Menurut data Queensland Museum, taipan pedalaman tersebar di antara Boulia dan Hamilton (Queensland barat), Goyder’s Lagoon (Australia Selatan), Bourke (New South Wales) dan persimpangan Sungai Murray dan Darling. Populasi yang terisolasi ada di dekat Coober Pedy (Australia Selatan).

3. Ular Cokelat Timur

Ular cokelat timur (Pseudonaja textilis) adalah jenis ular cokelat endemik yang tersebar luas di Australia bagian timur (Adelaide, Melbourne, Canberra, Sydney, Brisbane) dan Papua bagian selatan. Tubuh ular ini sangat mirip dengan ular sendok Jawa, dari bentuk kepala, mata, dan penampang badannya.

Yang berbeda adalah susunan sisiknya yang lebih mirip taipan. Warna tubuhnya bervariasi, mulai dari cokelat cerah, cokelat muda (cokelat tanah), terkadang cokelat kekuningan atau keabu-abuan. Warna perut sama dengan warna punggung hingga ekor.

Untuk spesimen dari Papua, warnanya lebih gelap, biasanya cokelat tua dengan bagian perut berwarna lebih muda. Bentuk kepala mirip seperti ular kobra, dengan mata berwarna hitam pekat. Panjang cokelat timur dewasa rata-rata 1,4 meter sampai 2 meter, namun pernah ditemukan yang panjangnya mencapai 2,4 meter.

Secara klinis menurut WHO, racun ular coklat timur menyebabkan masalah sistemik yang serius, termasuk hipotensi dan kolaps, perdarahan hebat, dan henti jantung. Gejala sistemik umum lainnya termasuk mual dan muntah, diaforesis (berkeringat deras), dan sakit perut. Cedera ginjal akut dan kejang juga dapat terjadi.

Timbulnya gejala bisa sangat cepat. Sakit kepala dapat berkembang dalam 15 menit dan pembekuan darah dalam 30 menit. Kolaps terjadi hanya dua menit setelah digigit. Bahkan, 1 per 14.000 ons racunnya sudah cukup untuk membunuh satu manusia dewasa. Ular cokelat timur bergerak cepat, bisa agresif dalam keadaan tertentu. Ia akan mengejar predator yang mengganggunya dan berulang kali menyerang mereka.

4. Weling

Weling (Bungarus candidus) adalah sejenis ular berbisa yang tersebar di Asia Tenggara hingga ke Jawa, Bali dan Sulawesi. Dalam bahasa Inggris, umumnya dikenal sebagai blue krait atau Malayan krait. Ular ini punya tubuh ramping. Ukuran panjang biasanya hanya sampai sekitar 100 cm, dengan panjang maksimal berkisar 155 cm. Sisi dorsal (punggung) berbelang hitam dan putih, terdapat sekitar 30-an belang hitam dari kepala hingga ke ekor.

Biasanya terdapat titik-titik kehitaman atau kecokelatan pada bagian putihnya. Warna hitamnya terkadang agak kecokelatan atau kebiruan, dan putihnya terkadang agak kekuningan. Sisi ventral (perut) berwarna putih keseluruhan atau sedikit kekuningan.

Pada siang hari, ular weling cenderung bergerak lamban dan penakut, karena ia adalah makhluk nokturnal. Bila diganggu, ia acap berupaya menyembunyikan kepalanya di bawah gulungan badannya. Weling berburu dan membunuh ular lain, bahkan mengkanibal weling lainnya. Racunnya cenderung menyerang sistem saraf mangsa atau korban, 16 kali lebih kuat daripada bisa kobra.

Bisa ular weling dengan cepat menginduksi kelumpuhan otot dengan mencegah kemampuan ujung saraf untuk melepaskan bahan kimia yang mengirim pesan ke saraf berikutnya dengan benar. Kemudian diikuti dengan munculnya gejala seperti kram, tremor, sesak nafas hebat, yang akhirnya berujung pada kelumpuhan atau gagal jantung. Kematian akibat gigitan ular weling bisa terjadi setelah 6-12 kemudian.

5. Mamba Hitam

Mamba hitam (Dendroaspis polylepis) banyak ditemukan di Afrika bagian tengah, timur dan selatan. Mamba hitam dikenal sangat agresif dan gemar menyerang dengan presisi yang mematikan ketika merasa terancam –bisa sampai 12 kali berturut-turut.

Mereka juga menjadi ular darat tercepat di dunia, yang mampu melaju hingga 20 km/jam. Mamba hitam aktif pada siang hari. Panjang tubuhnya antara 1,5 sampai 4 meter. Ular ini berkerabat dekat dengan ular sendok, namun ular ini hanya bisa memipihkan lehernya dan tidak bisa mengembangkannya.

Jika ancaman datang, ular ini hanya memberi peringatan dengan mengangkat kepala, menggepengkan leher, dan membuka mulutnya lebar-lebar sehingga terlihat jelas bagian dalam rongga mulut yang berwarna hitam pekat. Semua jenis mamba berbisa keras. Satu gigitan saja mampu membunuh 10-25 orang dewasa. Racunnya bersifat melumpuhkan saraf (neurotoxin). Patukannya menghasilkan rata-rata 100-120 mg bisa. Namun, dapat juga 400 mg.
Jika racun mencapai vena manusia, 0,25 mg/kg-nya saja sudah cukup untuk membunuh korban. Gejala awal adalah nyeri hebat di daerah gigitan.

Korban kemudian mengalami sensasi kesemutan atau mati rasa di mulut dan ekstremitas (anggota badan, seperti lengan dan tungkai), penglihatan kabur dan gelap, linglung, demam, air liur menetes deras (bisa juga mulut dan hidung berbusa) dan kurangnya kontrol otot.

Jika korban tidak mendapatkan pertolongan medis segera, gejala tersebut dengan cepat berkembang menjadi sakit perut yang parah, mual dan muntah, pucat, syok, nefrotoksisitas (disfungsi ginjal), dan kelumpuhan. Akhirnya, korban mengalami kejang-kejang, sesak nafas, koma dan kemudian kematian dalam kurun 15 sampai 3 jam setelah gigitan.

6. Death Adder

Death adder (Acanthophis antarticus) atau beludak Australia umum ditemukan di seluruh Negeri Kanguru (kecuali tenggara) dan Papua bagian selatan.  Death adder terlihat sangat mirip dengan ular beludak, karena mereka memiliki kepala berbentuk segitiga dan tubuh pendek dan gemuk, kepala berbentuk kapak, sisik-sisik di atas kepala berukuran kecil, pupil mata vertikal, taring agak panjang dan agar besar.

Ular ini memiliki ekor berbentuk seperti cacing. Fungsinya untuk memancing mangsa agar tidak takut mendekat. Tubuhnya berwarna dasar cokelat kelabu dengan belang-belang berwarna pucat, terkadang cokelat kemerahan atau abu-abu dengan belang-belang berwarna oranye pucat dan putih. Mereka biasanya menyuntikkan sekitar 40-100 mg racun. Bisanya menyerang saraf, menyebabkan kelumpuhan dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu 6 jam, karena gagal napas. Gejala umumnya memuncak dalam 24 sampai 48 jam.

Antivenom sangat berhasil dalam mengobati racun death adder, karena perkembangan gejalanya relatif lambat. Namun, sebelum menjalar ke seluruh tubuh korban atau mangsanya, bisa death adder memiliki tingkat kematian 50%. Seekor death adder dewasa dapat menyerang dalam 0,13 detik.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Menarik Juga

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.