Rp93,1 Triliun Berputar dari Gojek dan Grab

Go-Food dan Grab Food bersaing ketat dengan dampak ekonomi dari Go-Food Rp18 triliun dan Grab Food Rp20,8 triliun.

JEDA.ID–Gojek atau Grab? Dua aplikator ini bersaing ketat untuk menjadi penguasa transportasi online di Indonesia. Keduanya sama-sama mengaku menjadi yang terdepan dibandingnya pesaing mereka. Lalu Gojek atau Grab yang lebih memberi dampak bagi perekonomian Indonesia.

Dua decacorn ini sama-sama memiliki survei mengenai dampak ekonomi yang dihasilkan dari aktivitas bisnis mereka. Gojek

Lembaga Demografi (LD) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) pada Maret 2019 memaparkan hasil survei yang menyebutkan kontribusi mitra Gojek dari layanan Go-Ride, Go-Car, Go-Food, dan Go-Life kepada perekonomian Indonesia paad 2018 mencapai Rp 44,2 triliun.

Sedangkan CSIS dan Tenggara Strategics mamaparkan hasil survei tentang kontribusi Grab terhadap perekonomian Indonesia pada 2018 mencapai Rp48,9 triliun.

Survei LD FEB UI dilakukan November 2018-Januari 2019. Survei ini menyasar 6.732 responden di sembilan wilayah yaitu Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Balikpapan, Makassar, dan Palembang.

Survei CSIS dan Tenggara Strategics dilakukan pada November-Desember 2018 terhadap 3.418 responden di lima kota yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan dan Makassar. Kontribusi Grab itu dihasilkan dari empat lini usaha yaitu yakni Grab Bike, Grab Car, Grab Food, dan Kudo.

Sektor Informal

gojek atau grab

Grab Food (Grab)

Grab Food adalah penyumbang terbesar yaitu Rp20,8 triliun, diikuti oleh Grab Bike Rp15,7 triliun, Grab Car Rp9,7 triliun, dan Kudo Rp2,7 triliun.

Kepala Departemen Ekonomi CSIS Yose Rizal Damuri mengatakan pendapatan di dalam sektor informal di Indonesia sangat rendah. Salah satu penyebabnya adalah karena rendahnya permintaan terhadap produk dan jasa sektor informal.

“Penggunaan dan pemanfaatan teknologi, dalam hal ini Grab, dapat membantu mempertemukan dan menghasilkan permintaan terhadap produk dan jasa pekerja informal tersebut, sehingga pendapatan yang didapatkan bisa meningkat,” kata dia dari keterangan tertulis.

Berdasarkan survei, rata-rata pendapatan mitra pengemudi Grab Bike dan Grab Car di lima kota meningkat 113% dan 114% menjadi Rp4 juta dan Rp7 juta per bulan setelah bermitra dengan Grab.

Untuk Grab Bike, 50% mitra pengemudi memiliki pendapatan pada kisaran Rp3 juta-Rp5 juta setelah bermitra. Sebelumnya, hanya 22% dari mitra pengemudi yang memiliki pendapatan pada kisaran ini. Kemudian terdapat 18% mitra pengemudi memiliki pendapatan Rp5 juta-Rp7 juta setelah bermitra dengan Grab Bike.

Sedangkan untuk Grab Food, disebutkan 60% mitra Grab Food menikmati tambahan penjualan Rp11 juta/bulan tanpa investasi tambahan. Penjualan rata-rata mitra Grab Food rata-rata naik 25% menjadi Rp1,85 juta/hari dari sebelumnya Rp1,4 juta/hari.

Sedangkan Wakil Kepala LD FEB UI Paksi C.K. Walandouw menjelaskan kontribusi mitra Gojek terhadap perekonomian Indonesia pada 2018 yaitu mitra Go-Ride Rp16,5 triliun, mitra Go-Car Rp8,5 triliun, mitra UMKM Go-Food Rp18 triliun, dan Go-Life Rp1,2 triliun.

“Kontribusi mitra UMKM Go-Food tahun 2018 naik hampir tiga kali lipat dibanding tahun 2017. Pertumbuhan kontribusi mitra UMKM Go-Food ini antara lain disebabkan oleh optimalisasi fitur teknologi Gojek yang digunakan oleh mitra UMKM Go-Food,” kata Paksi sebagaimana dikutip dari laman ldfebui.org.

gojek atau grab

Grafis: Galih Ertanto

Pacu UMKM

Untuk G0-Food disebutkan mitra UMKM menyatakan mereka go-online karena bermitra dengan Go-Food. Disebutkan 93% mitra mengalami peningkatan volume transaksi dan 55% mitra mendapatkan peningkatan klasifikasi omzet setelah bergabung dengan Go-Food. Peningkatan omzet bisnis memacu mitra UMKM terus mengembangkan usaha. Sebanyak 85% responden yang menginvestasikan kembali pendapatan mereka ke dalam usaha.

Sedangkan untuk mitra Go-Ride disebutkan rata-rata penghasilan mereka Rp3,8 juta (luar Jabodetabek) dan Rp4,9 juta (Jabodetabek). Untuk Mitra Go-Car pendapatan rata-rata mereka Rp5,5 juta (luar Jabodetabek) dan Rp6 juta (Jabodetabek). Pendapatan rata-rata mitra Go-Ride dan Go-Car ini disebut di atas upah minimum yang ditetapkan pemerintah.

Nadiem Makarim, pendiri dan CEO Gojek, yang baru saja menerima Nikkei Asia Prize di Jepang mengatakan para mitra Gojek merasa percaya diri dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka melalui kemitraan dengan Gojek.

“Seluruh pencapaian Gojek merupakan hasil kerja keras para mitra driver, mitra merchant, serta penyedia layanan kami, yang telah memberikan manfaat luar biasa bagi jutaan masyarakat pengguna layanan aplikasi kami,” kata dia sebagaimana dikutip dari laman Gojek.

Ridzki Kramadibrata, President of Grab Indonesia, mengatakan mereka berada di jalur yang tepat untuk menjadi pemimpin pasar. Grab yakin menjadi pemimpin dalam layanan transportasi on-demand karena menguasai 60 persen pangsa pasar roda dua dan menguasai 70 persen pangsa pasar roda empat. “Bisnis Grab di Indonesia berkembang pesat, dengan pendapatan dua kali lipat di tahun 2018.”

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.