Masa Depan Mobil Listrik di Indonesia

Meski berjalan lambat, pertumbuhan pengguna mobil listrik di Indonesia tetap terjadi di tahun ini.

JEDA.ID – Perusahaan otomotif asal Jepang, Honda meluncurkan lima produk mobil listrik bernama “Fit” pada Tokyo Motor Show 2019. President Representative Director and CEO Honda Motor Co., Ltd. Takahiro Hachigo memamerkan mobil sejenis Jazz di pembukaan Tokyo Motor Show ke-46 di Tokyo, Jepang, Rabu (23/10/2019).

Honda menjadi salah satu diantara, hampir semua perusahaan otomotif yang terus menggenjot manufaktur mobil listrik. Perusahaan otomotif dunia tampaknya menyadari permintaan akan kendaraan dengan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan banyak diminati.

Eropa dan Amerika Serikat sudah lebih banyak peminat mobil listrik. Sementara sebagian negara Asia, permintaan mobil listrik masih cenderung sedikit.

Sedangkan di Indonesia, pertumbuhan minat kendaraan listrik terbilang masih melambat. Merespons hal ini, Pemerintah justru bergerak cepat.

Langkah Pemerintah

Presiden Joko Widodo ingin membangun industri mobil listrik sebagai lompatan kemajuan seiring dengan perkembangan bahan bakar nonfosil. Jokowi mengatakan industri mobil listrik adalah salah satu bentuk dari lompatan kemajuan yang harus dilakukan dari sekarang.

Lompatan kemajuan itu, kata Presiden, dimulai dari Program B20 dan akan masuk ke B30 campuran solar dengan 30 persen biodiesel, serta Indonesia diyakini mampu membuat bahan bakar dengan jenis Biodiesel 100 persen berasal dari nabati atau B100.

Untuk industri mobil listrik, Pemerintah resmi menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang mobil listrik.

Perpres tersebut adalah Perpres No. 55/2019 tentang Percepatan Progam Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) Untuk Transportasi Jalan dan telah diundangkan sejak 12 Agustus 2019.

Berdasarkan salinan perpres yang Bisnis.com peroleh Kamis (15/8/2019), beleid anyar itu mengatur bahwa kendaraan bermotor listrik berbasis baterai atau yang disebut KBL berbasis baterai dikelompokkan menjadi dua jenis yakni KBL roda dua dan roda tiga serta KBL roda empat atau lebih.

Percepatan KBL berbasis baterai diselenggarakan melalui percepatan pengembangan industri KBL berbasis baterai dalam negeri, pemberian insentif, penyediaan infrastruktur pengisian listrik dan pengaturan tarif tenaga listrik unuk KBL berbasis baterai, pemenuhan ketentuan teknis KBL berbasis baterai, dan pelindungan terhadap lingkungan hidup.

Dalam rangka percepatan KBL berbasis baterai dalam negeri, industri kendaraan bermotor dan industri komponen kendaraan bermotor yang telah memiliki izin usaha industri dapat mengikuti program percepatan KBL berbasis baterai.

Perusahan industri KBL berbasis baterai wajib membangun fasilitas manufaktur KBL berbasis baterai di dalam negeri.

Selain itu, Tingkat komponen dalam negeri dari KBL berbasis baterai untuk KBL berbasis baterai roda dua adalah sebesar 40% untuk 2019 dan seterusnya, 60% untuk 2024 dan seterusnya, dan 80 untuk 2026 dan seterusnya.

KBL berbasis baterai roda empat atau lebih tingkat komponen dalam negerinya per 2019 hingga 2021 minimal sebesar 35%, untuk 2022 dan 2023 sebesar 40%, minimal 60% untuk 2024 hingga 2029, dan 80% untuk 2030 dan seterusnya.

Kendala Utama

Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Johannes Nangoi mengungkapkan sejumlah kendala yang dihadapi mobil listrik murni di Indonesia.

“Untuk mobil listrik murni yang bukan hybrid, masih banyak kendala di Indonesia, oleh karena itu masih butuh waktu pengembangnya,” kata Johannes di Jakarta, Jumat (23/8/2019).

Salah satu kendala utama adalah jarak, jarak tempuh di Indonesia, rata-rata membutuhkan waktu tempuh yang jauh, mengingat luasnya jarak antar wilayah. Sedangkan mobil listrik murni sendiri masih terbatas jarak 300-350 kilometer jarak tempuhnya.

“Jika jarak tempuh sudah habis, pasti membutuhkan waktu lagi untuk mengisi ulang daya baterai, sedangkan stasiun pengisian listrik masih sangat terbatas,” katanya.

Ketersediaan stasiun pengisian masih menjadi kendala utama, jika mobil harus menempuh jarak yang jauh, antar kota misalnya. Selanjutnya adalah biaya produksi, untuk produksi mobil listrik murni di Indonesia masih membutuhkan biaya yang cukup mahal, sehingga harga jualnya masih tinggi.

Perbedaan biaya mobil jenis ICE dengan hibrida, memiliki margin sekitar 15 persen, sedangkan PHEV sekitar 60 persen. Oleh karena itu harga jual mobil listrik murni sangat mahal.

[block]1[/block]

Kelebihan Mobil Listrik

  • Ramah lingkungan. Emisi karbon menjadi lebih rendah dan mengurangi polusi dibandingkan penggunaan BBM.
  • Penggunaan energi yang lebih irit terutama saat terjadi kemacetan.
  • Lebih Cerdas dan Canggih. Hanya kendaraan listrik yag memiliki Intelligent Transport System (ITS). Maksudnya, kendaraan bisa melakukan pengereman sendiri jika terjadi tabrakan.
  • Perawatan Lebih Mudah karena tidak memerlukan pergantian oli dan lain dan perawatan hanya perlu perawatan batere.
  • Hemat Ruang dan Praktis. Baterai pada mobil listrik lebih flaksibel, sehingga bentuk mobilnya pun bisa lebih mungil. Beberapa mobil listrik mungil di antaranya BMW i3s atau Renault Twizy.

Kekurangan Mobil Listrik

  • Kapasitas daya baterai dan waktu pengisian menjadi kelemahan.
  • Meski memliki torsi yang melimpah karena penyaluran tenaganya langsung, sayangnya kecepatan mobil listrik ini masih terbatas.
  • Mahal. Baterai mobil listrik ternyata harus rutin dilakukan penggantian setiap 3-10 tahun sekali, dan harga baterainya cukup mahal.
  • Belum Teruji. Saat ini pengetahuan masyarakat tentang mobil listrik tentu masih minim. Karenanya, hal ini tentu berpengaruh pada harga bekas. Selain itu, mobil listrik juga belum teruji.
Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.