KPopers Garis Keras Habiskan Rp10 Juta demi Idola

KPopers garis keras lahir dari Korean wave yang disebarkan melalui drama korea (drakor), film, dan musik.

JEDA.ID–Lauren adalah cerminan KPopers garis keras. Ia rela merogoh kocek yang tidak sedikit untuk membeli album Blackpink yang orisinal.

Korea Foundation mencatat pada 2017 ada lebih dari 70 juta KPopers di seluruh dunia. Terbanyak ada di Asia, kemudian Amerika Serikat, Eropa, Afrika, serta Timur Tengah.

Dikutip dari Kedutaan Besar Republik Korea untuk Republik Indonesia, tertulis terdapat 987 organisasi terkait Hallyu atau Korean wave.

Jumlah anggotanya sekitar sembilan juta orang yang tersebar di Asia Pasifik, Amerika, Eropa, Afrika, dan Timur Tengah.

Dilansir dari Liputan6.com, Senin (30/9/2019), KPopers (fans K-Pop) garis keras rela mengucurkan dana yang tidak sedikit. Tujuannya, untuk membeli album, merchandise, hingga tiket konser dengan harga selangit.

Jeda.id mewawancarai Devina Mailoor, 20, fangirl dari grup musik di bawah naungan SM Entertainment, Sabtu (28/9/2019).

Sebagai KPopers garis keras ia rela merogoh kocek yang tidak sedikit untuk mengoleksi album dan merchandise dari grup musik idolanya.

”Aku kalau beli album bisa dua sampai tiga. Alasannya, supaya penjualannya grup idolaku juga tinggi dan enggak kalah sama grup lainnya. Ya, walaupun ujungnya pasti aku jual lagi sih,” ujar perempuan yang akrab disapa Devina.

Selain mengoleksi album, Devina juga mengoleksi merchandise resmi dari agensi, contohnya lightstick.

Walau sudah mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membeli album dan merchandise resmi. Devina tetap rela membeli harga tiket konser dengan harga yang fantastis.

”Kalau harga tiket nonton konser, aku biasanya beli yang festival. Itu harganya sekitar Rp2 juta sampai Rp3 juta lah,” ujar dia.

Tidak hanya sekali atau dua kali menonton konser grup musik idolanya. Devina mengaku rutin menonton konser grup idolanya di Indonesia.

Devina bukan satu-satunya KPopers garis keras. Ada Laurensia Pinka, 21, fangirl dari grup musik di bawah naungan YG Entertainment.

Berhemat dan Menabung

Ia rela berhemat dan menabung demi membeli album dan photobook dari grup musik idolanya.

”Aku lebih suka beli album sama photobook sih. Pokoknya setiap ada barang baru, wajib dan harus beli. Ya pokoknya tabungan langsung ludes hehe,” ujar perempuan yang akrab disapa Lauren.

Lauren menjelaskan berapa uang yang harus digelontorkan untuk membeli produk terbaru milik grup musik idolanya.

”Kalau album orisinal sekitar Rp250.000 sampai Rp270.000. Terus kalau photobook harganya bisa Rp 400.000 sampai Rp500.000,” katanya.

Setiap grup musik idolanya comeback atau rilis album baru. Lauren bisa menghabiskan Rp500.000 untuk membeli album versi Korea dan Jepang.

Kpopers garis keras

Koleksi Kpopers (Ist)

Tidak hanya menggelontorkan uang untuk membeli album dan photobook. Lauren juga menyiapkan dana yang tidak sedikit, untuk menonton konser grup idolanya.

”Aku sudah dua kali nonton konsernya sih. Biasanya aku beli tiket konser yang Rp2,7 juta, itu sudah termasuk biaya jastip (jasa titip) Rp200.000. Walaupun berdiri tapi itu lebih dekat ke panggung sih,” tuturnya.

Lauren secara blak-blakan mengatakan, jika ia sudah merogoh kocek sebanyak Rp3,5 juta untuk mengoleksi album dan photobook.

Uang ini belum termasuk anggaran tiket menonton konser serta akomodasinya. Jika ditotal, kira-kira Lauren bisa merogoh kocek sebanyak Rp10 juta demi grup idolanya.

Hal ini dikarenakan harga album orisinal belum termasuk pajak pemerintah dan biaya pengiriman. Sedangkan harga tiket konser yang paling murah adalah Rp1 juta hingga Rp2 juta.

Murah bagi Kpopers Garis Keras

Harga yang sangat fantastis bagi orang awam. Namun, harga yang tergolong murah bagi KPopers garis keras demi menyaksikan idolanya secara langsung.

Dikutip Pola Perilaku Konsumtif Pecinta Korea di Korea Lovers Surabaya Community (Kloss Community), perilaku konsumtif KPopers terlihat jelas ketika membeli beragam barang dari grup musik idolanya.

Membeli barang dari grup musik idolanya, tidak semata-mata membuktikan kecintaan KPopers. Hal ini juga menunjukkan identitas mereka sebagai KPopers.

Istilah Korean wave tidak dapat dipisahkan dari kehidupan KPopers. Persebaran dan pengaruh dari budaya Korea, menyebabkan jutaan anak muda terkena virus Korean wave.

Dilansir dari Gaya Hidup Mahasiswa Untirta melalui Korean Wave, Sabtu (28/9/2019), istilah Korean wave pertama kali digaungkan pada 1999, oleh jurnalis di Beijing, Tiongkok.

Korean wave didengungkan atas kekagumannya pada budaya Korea yang berhasil merambah Negeri Tirai Bambu.

Korean wave disebarkan di Indonesia melalui drama korea (drakor), film, dan musik. Persebarannya dimulai pada 2002.

Drama Korea Endless Love menjadi jalan masuk bagi budaya Korea ke Indonesia, kala itu. Drakor yang ditayangkan di stasiun televisi swasta Indosiar ini, berhasil mendapat respons positif dari masyarakat.

Pada 2011, stasiun televisi swasta Trans TV turut menjadi agen persebaran budaya Korea di Indonesia. Sinetron Cinta Cenat Cenut dikemas dengan gaya hidup ala Korea pada pemeran utamanya, yakni grup musik SM*SH.

Mulai dari gaya berpakaian hingga gaya rambut ala Korea, tergambar secara gamblang dalam sinetron ini. Drama Korea seakan menjadi jalan masuk bagi industri budaya Korea. Kisah romantisnya yang sukses membuat anak muda baper, hingga soundtrack yang bikin galau.

Setelah drakor merajalela di berbagai stasiun televisi swasta Indonesia, boyband dan girlband Korea mulai merambah masuk ke Indonesia.

Genre musik R&B dan Hip-Hop serta video klip yang ciamik berhasil membius jutaan anak muda. Seketika jutaan anak muda otomatis menjadi KPopers sebagian di antaranya garis keras alias fans berat.

Ubah Gaya Hidup

Walau begitu, secara tidak langsung Korean wave memengaruhi lifestyle anak muda Indonesia. Mulai mengubah gaya berpakaian hingga cara merias wajah ala Korea.

Devina menceritakan jika Korean wave mengubah caranya dalam merias wajah. ”Gara-gara Korea aku jadi suka banget pakai eyeliner, lip tint, masker wajah, sama skin care produk Korea sih hehe,” ucap dia.

Selain Devina, Korean wave juga memengaruhi cara berpakaian Lauren. ”Kalau aku, lebih ke baju sih. Kalau mau tiru make up belum kuat karena mahal hehe,” tutur dia.

Nam Joo Hyuk

Nam Joo Hyuk (Channel Korea)

Bukan hanya Devina dan Lauren yang terpengaruh dengan Korean wave. Helena Corelly Haryana, 21, juga merasa ada perubahan dalam dirinya.

Perempuan yang akrab disapa Helen mengaku dahulu ia enggan berdandan. Namun, kini Korean wave membuatnya lebih suka berdandan.

”Dulu aku enggak suka dandan dan kalau pakai baju suka aneh-aneh. Tapi sekarang kalau mau pakai baju, tas, sama sepatu harus pilih yang cocok. Sekarang aku juga suka banget dandan,” kata dia.

Belajar Bahasa Korea

Nyatanya, Korean wave tidak hanya memengaruhi cara berpakaian atau cara merias wajah. Melainkan, juga membuat orang mempelajari bahasa Korea.

Salah satunya Bernetta Nindya, 20. Kecintaannya pada Korea membuatnya memelajari bahasa Korea secara autodidak.

”Aku belajar bahasa Korea sejak akhir SMA sampai kuliah sih. Belajarnya autodidak dari website, mulai dari cara penulisan sampai cara pengucapannya,” tutur perempuan yang akrab disapa Nindy.

Lantas, apa penyebab Korean wave mudah memengaruhi lifestyle anak muda? Dikutip dari Jurnal Holistik, ada dua faktor penyebab percepatan penyebaran korean wave di kalangan anak muda:

– Globalisasi

Globalisasi membuat dimensi ruang dan waktu semakin sempit. Globalisasi terjadi dalam berbagai sektor, salah satunya budaya.

– Teknologi informasi dan komunikasi

Adanya internet dan smartphone, mempermudah seseorang dalam mengakses konten informasi dan hiburan.

Dikutip dari Liputan6.com, Korean wave memiliki dampak positif dan negatif yang seimbang. Dampak positif dari Korean wave ialah dapat menambah pengetahuan tentang bahasa dan budaya Korea.

Adanya Korean wave juga membuat kita mengetahui perkembangan zaman. Walau begitu, Korean wave juga memberi dampak negatif.

Salah satunya adalah lunturnya budaya Indonesia. Perlahan masyarakat Indonesia mulai meniru budaya Korea. Mulai dari mengonsumsi makanan khas Korea hingga tren busana.

Sejatinya, tidak masalah jika memiliki kecintaan pada budaya Korea. Asalkan hal ini tidak mengubah budaya asli Indonesia. Bagaimana pun, semua masyarakat harus tetap menjunjung tinggi budaya asli Indonesia.

Ditulis oleh : Vanya Karunia Mulia Putri/Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.