Karena Dunia Dalam Berita Adalah Legenda

Bila dihitung sejak kali pertama ditayangkan di TVRI pada 20 Juli 1973 hingga 2019, Dunia Dalam Berita sudah berusia 46 tahun.

JEDA.ID–Pukul 21.00 WIB adalah ”jam keramat” bagi generasi yang tumbuh di era 1980-an akhir dan 1990-an awal. Stasiun TV swasta mulai tumbuh sebagai alternatif tontonan televisi. Namun, pukul 21.00 WIB, semuanya mata hanya akan tertuju pada satu siaran bernama Dunia Dalam Berita.

Kala itu, semua stasiun TV swasta wajib menyiarkan Dunia Dalam Berita atau DDB dengan merelay langsung dari TVRI. Bila dihitung sejak kali pertama ditayangkan di TVRI pada 20 Juli 1973 hingga 2019, program berita TVRI ini sudah berusia 46 tahun.

Bukan tidak mungkin program berita mancanegara di TVRI yang ditayangkan setiap pukul 21.00-21.30 WIB ini menjadi program berita paling tua dalam sejarah pertelevisian Indonesia.

Jalan panjang Dunia Dalam Berita bukan berarti mulus-mulus saja. Tentu masa jaya DDB terjadi pada era 1988 sampai 2000-an awal saat semua stasiun TV swasta di Indonesia wajib menyiarkan acara berita ini.

Nama Yan Partawijaya atau Anita Rachman yang kerap membawakan Dunia Dalam Berita kala itu akrab di telinga masyarakat. Keduanya jurnalis kawakan di TVRI sekaligus pembawa berita untuk beberapa program acara.

Dunia Dalam Berita

Dunia Dalam Berita zaman dulu (Youtube)

Masa jaya DDB sempat meredup pada 2008. Per 31 Desember 2008, program acara ini dihentikan dengan alasan buruknya jumlah penonton. Dunia Dalam Berita terlahir kembali pada 1 Maret 2015 dengan jam tayang cukup larut sekitar pukul 23.00 WIB.

Mulai 1 Januari 2018, Dunia dalam Berita kembali ke ”jam keramat” yaitu pukul 21.00 WIB. Kini, DDB tayang tiap Senin-Jumat di jam yang sudah membuatnya tenar.

Lahir Kembali

Kelahiran kembali Dunia Dalam Berita bukan tanpa alasan. Dalam survei bertajuk Survei Indeks Kualitas Program dan Berita TVRI 2018 yang dilakukan Provetic pada April-Mei 2018 sebagaimana dikutip dari laman resmi TVRI, tvri.go.id, disebutkan Dunia Dalam Berita menjadi acara TVRI paling ikonik.

Untuk urusan acara terfavorit di TVRI, DDB nangkring di urutan pertama dengan 15% mengungguli program berita lainnya seperti , Indonesia Pagi 7%, Indonesia Malam 3%, atau program siaran lain seperti Serambi Islami 3%, Semangat Pagi Indonesia 2%, dan Ria Jenaka 2%.

Survei yang sama pada 2019 juga menempatkan DDB sebagai program unggulan TVRI hingga saat ini. Bahkan, saat harus bersaing dengan program berita dari berabgai TV swasta, DDB masih unggul.

Dalam survei yang dilakukan Provetic pada April-Mei 2019, DDB ada di urutan ketiga untuk Top 20 Acara TV Favorit. Dengan 3,56%, Dunia Dalam Berita hanya kalah dari Ini Talkshow dari NET TV dengan 7,7% dan Pesbukers dari ANTV dengan 3,62%.

Bahkan, DDB menjadi satu-satunya program berita yang masuk top 20 itu. Memang ada program berita, namun konsepnya talkshow seperti Mata Najwa dari Trans7 dengan 2,99%, dan Indonesia Lawyers Club dari TVOne juga dengan 2,99%.

”Dari semua acara berita di televisi, Dunia Dalam Berita merupakan yang paling banyak disebut responden, menegaskan status ikoniknya. Dapat diasumsikan bahwa popularitas acara Dunia dalam Berita merupakan faktor yang menyebabkan asosiasi TVRI sebagai TV berita,” sebagaimana tertulis dalam laporan survei itu.

Begitu pula untuk sesama program acara TVRI, Dunia Dalam Berita tetap menjadi jawara seperti 2018 lalu. Bila pada 2018, hanya ada 15% yang menyebut DDB sebagai acara terfavorit di TVRI, pada 2019 melonjak menjadi 21,78%.

Acara berita ini mengungguli Rumah Bulu Tangkis dengan 5,5%, Selamat Pagi Indonesia 4,96%, dan berbagai program lainnya. Provetic menyebut DDB paling disukai oleh responden asal Riau dan Kalimantan Barat. Sedangkan yang berada di urutan terbawah adalah Aceh.

Saking kuatnya pesona DDB, survei itu merekomendasikan kepada TVRI untuk memproduksi program unggulan selain Dunia dalam Berita. ”Sehingga dapat mengundang lebih banyak orang untuk membicarakan TVRI, khususnya dari kalangan anak muda,” sebagaimana tertulis di laporan itu.

Posisi TVRI

Helmy Yahya

Direktur Utama LPP TVRI Helmy Yahya (TVRI)

Posisi TVRI dalam ketatnya industri pertelevisian sesungguhnya tidak terlalu buruk. Dalam survei itu disebutkan 74% responden masih menonton TVRI dalam sebulan terakhir (April-Mei 2019). Perubahan logo TVRI juga mendapatkan apresiasi dari penonton.

TVRI berada di urutan kelima untuk stasiun TV yang sering ditonton dalam sebulan terakhir. Untuk TV terfavorit, TVRI bersama NET TV berada di puncak dengan 37%.

Namun, kata jadul alias zaman dulu yang terasosiasi dengan TVRI belum luntur. ”Hal ini menguatkan pentingnya bagi TVRI untuk lebih proaktif dalam mempromosikan tayangannya, terutama dengan menggarisbawahi perubahan-perubahanyang telah dinanti oleh masyarakat.”

Sayangnya, mayoritas responden tidak menonton TVRI lebih dari 2 jam. Artinya, kebanyakan responden hanya memutar TVRI untuk menonton satu acara spesifik.

Responden dalam survei itu mengusulkan agar TVRI memperbanyak konten yang menarget anak-anak/kaum muda, memperbaiki kualitas teknis dan menambah konten hiburan. Namun, sebagian responden juga ingin agar TVRI tetap mempertahankan ciri khasnya, yakni konten yang mendidik dan berbudaya.

”Kami berharap TVRI ini konsisten menjadi TV publik, jadi fokus ke kearifan lokal. Sering kali publik minta TVRI meniru TV swasta lain yang kejar rating, seolah-olah TVRI ini harus jualan. Padahal kita justru berharap TVRI berbasis pada faktual dan kearifan lokal,” Agus, warga Mataram.

Direktur Utama LPP TVRI Helmy Yahya menyebutkan di negara maju seperti Inggris dan Jepang, TV publik mendapat perhatian lebih dari negara dalam hal pembiayaan.

Sedangkan di Indonesia pembiayaan tv publik berasal dari APBN dan PNBP. Hal ini menjadi hambatan bagi TVRI untuk menjadi lembaga penyiaran kelas dunia sesuai dengan visi LPP TVRI.

”Padahal geografis Indonesia jauh lebih luas dibandingkan dengan Inggris dan Jepang,” sebut Helmy sebagaimana dikutip dari tvri.go.id.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.