Instagram, antara Candu dan Iri Hati

Jika orang mudah membandingkan hidupnya dengan orang lain, hal ini gejala awal rendah diri dan iri hati. Fenomena ini terjadi di sebagian pengguna Instagram.

JEDA.ID–Menjadi media sosial yang mengalami pertumbuhan paling pesat di Indonesia, pengguna Instagram menembus batas-batas usia. Dari anak SD sampai paruh baya menggandrungi Instagram

Riset dari CupoNation menunjukkan jika pengguna aktif Instagram di Indonesia menduduki peringkat empat di dunia.

Sedangkan We Are Social 2019 menyebutkan ada 62 juta pengguna aktif Instagram di Tanah Air. Secara jumlah memang masih jauh dari Facebook yang memiliki 130 juta pengguna aktif.

Namun, pengguna Instagram tumbuh sekitar 5,4%. Kondisi berbeda dialami Facebook yang pertumbuhan pengguna aktifnya 0% alias stagnan.

Disebutkan pengguna Instagram didominasi pria dengan segmentasi usia 18 hingga 34 tahun. Salah satu pengguna Instagram, Verell, 14, mengaku sudah menggunakan Instagram sejak kelas III SD.

Dia menggunakan Instagram untuk mencari konten hiburan seperti meme, dan informasi. Menurutnya, Instagram memiliki manfaat untuknya. “Hiburan itu fungsi utamanya bagi aku. Terus cari info dan mengikuti perkembangan zaman sih,” katanya kepada jeda.id, Kamis (26/9/2019).

Pengguna Instagram lainnya Mella, 14, menggunakan Instagram untuk melihat foto temannya, foto artis, hingga gambar fan art. Mella mengatakan dengan adanya Instagram mempermudah dirinya dalam menjalin komunikasi dan mengakses informasi.

”Kayak misalnya mau tanya tugas bisa lewat direct message (DM), terus bisa tahu banyak informasi yang baik,” ucap dia.

Beda Usia Beda Tujuan

Beda usia beda juga tujuan serta manfaat Instagram bagi setiap individu. Anton, 22, menjelaskan jika awalnya, ia hanya sekadar ikut temannya dalam membuat akun Instagram.

”Aku buat Instagram tahun 2015, tapi aku enggak tahu buat apa sih. Soalnya aku cuman ikut teman saja waktu itu. Tapi untuk sekarang, ya biar dapat informasi lebih mudah,” jelas dia.

Berbeda dengan Anton, Irna Pramesty, 21, membuat Instagram karena tertarik dengan fiturnya yang berbeda dari Facebook dan Twitter. Dia menyebut Instagram lebih menarik karena konten utamanya adalah foto dan video.

Pengguna aktif Instagram ini yang akrab disapa Irna ini menyebut Instagram memiliki manfaat hiburan serta memudahkan ia mengakses serta menyebar informasi.

pengguna Instagram

Aktivitas pengguna Instagram (Freepik)

Hal serupa juga dirasakan Theresia Diyah Wulandari, 39. Perempuan yang akrab disapa Wulan ini, menjelaskan jika awalnya ia hanya penasaran dengan Instagram. Sebagai pengguna Instagran, Wulan kerap mendapatkan banyak informasi.

Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta Yohanes Widodo mengatakan jika anak SD dan SMP sudah menjadi pengguna Instagram adalah hal yang tidak bisa dihindari.

”Anak-anak lebih suka konten yang berbasis visual, seperti foto dan video dibanding teks. Instagram mampu memenuhi kebutuhan mereka,” jelas pria yang akrab disapa Mas Boi.

Walau begitu, orang tua tetap harus mengawasi konten yang ditonton anak-anak. Menurutnya pengawasan penting dilakukan, karena Instagram punya sisi positif dan negatif.

”Pengawasan tetap perlu dilakukan, karena Instagram bisa menyebabkan kecanduan hingga akhirnya merasa ketergantungan,” katanya.

Dua Opsi

Ia memberi opsi kepada orang tua untuk melarang sepenuhnya atau mengawasi anak ketika bermain Instagram. Varell dan Mella mengaku kadang-kadang diawasi orang tua mereka terkait penggunaan Instagram.

”Jarang diawasi, enggak mesti tiap minggu atau tiap bulan sih tapi pasti diawasi kok. Paling kalau pas main Instagram ya dilihatin saja sih,” ujar Verell.

Hal yang sama dialami Mella yang terkadang orang tuanya, mengawasi dirinya ketika sedang bermain Instagram. Orang tua juga kadang mengecek direct message (DM). Orang tuanya pun cenderung rutin mengecek akun Instagramnya setiap sebulan sekali.

Mas Boi memberikan beberapa saran sebagai bentuk pengawasan kepada anak-anak ketika bermain Instagram:

  • Usahakan bisa mengakses akun Instagram anak
  • Usahakan untuk mengakses akun Instagram anak. Salah satu caranya buat akun pribadi sehingga bisa mengikuti akun anak. Selain itu,
  • Cobalah untuk melihat list follower anak.
  • Sarankan agar akun anak dalam kondisi di-private. Hal ini membatasi siapapun untuk mengakses konten Instagram milik anak. Ketika akun tidak di-private, maka konten dapat diakses dengan bebas.
  • Sebaiknya cek juga direct message, agar tetap dalam pengawasan orang tua.
  • Hati-hatilah dengan konten pornografi. Konten di Instagram seperti foto dan video rentan mengandung unsur pornografi. Maka selalu awasi anak, dalam pemilihan konten.

Selain urusan penggawasan, pengguna Instragam juga cenderung intens memantau media sosial itu. Verell dan Mella menceritakan jika mereka mengakses Instagram sekitar dua hingga tiga kali setiap harinya.

Mereka hanya mengakses Instagram selama beberapa menit atau paling lama satu jam. Sedangkan Anton mengaku bisa mengakses Instagram sekitar 10 hingga 15 kali setiap harinya. Durasinya sekitar lima hingga 10 menit.

Dampak Negatif

Sedangkan Irna bisa mengakses Instagram kurang lebih lima jam, dengan intensitas lebih dari 10 kali. Sering mengakses Instagram memiliki dampak negatif, salah satunya mudah rendah diri serta iri hati.

”Dampak negatif jadi gampang iri sama orang lain sih. Entah cuman lihat fisiknya, kehidupan sosialnya, sama kebiasaan hedonismenya, yang beda sama aku. Misalnya mereka cantik, tapi aku biasa saja,” jelas dia.

Irna pun mengakui sering mengakses Instagram membuatnya mudah iri pada orang lain. Dikutip dari Life Hack, Jumat (27/9/2019), riset dari Universitas Copenhagen Denmark, menuliskan jika orang mudah membandingkan hidupnya dengan orang lain.

Hal ini adalah gejala awal dari rendah diri dan iri hati. Selain menyebabkan orang mudah rendah diri dan iri hati, Instagram juga menyebabkan kecanduan.

Hasil riset dari Royal Society for Public Health & Young Health Movement, menjelaskan jika Instagram dan Snapchat adalah media sosial yang dapat merusak mental.

Alasannya, orang yang sering bermain Instagram cenderung gelisah, depresi, dapat mengurangi jam tidur, bullying, serta dapat memengaruhi tingkat kepercayaan diri.

Ketika sudah sulit melepaskan Instagram dari keseharian, tantangan bagi pengguna Instagram adalah membatasi diri dan tidak mudah iri hati.

Ditulis oleh : Vanya Karunia Mulia Putri/Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.