Agar Terhindar dari Dampak Buruk, Dampingi Remaja Saat Bermain Media Sosial

Hampir semua orang yang terhubung dengan Internet kemungkinan besar memiliki akun media sosial. Remaja perlu didampingi saat bermain media sosial.

JEDA.ID— Penetrasi media sosial kian hari kian masif. Hampir semua orang yang terhubung dengan Internet kemungkinan besar memiliki akun media sosial.

Memang tak bisa dimungkiri media sosial (medsos) punya andil besar dalam perkembangan ekonomi masyarakat. Namun di balik itu, medsos juga memiliki dampak buruk bagi penggunanya termasuk kalangan remaja.

Menurut laporan dari We Are Social, perusahaan asal Inggris bekerja sama dengan Hootsuite, per Januari 2019, tercatat lebih dari separuh penduduk Indonesia bermain media sosial.  Dari total populasi penduduk yang mencapai 268,2 juta tercatat ada 355,5 juta pelanggan seluler. Masyarakat Indonesia yang sudah menggunakan internet menyentuh angka 150 juta. Dari angka tersebut, semuanya aktif di media sosial.

Bila dilihat dari pertumbuhannya sejak Januari tahun lalu, maka pelanggan seluler menurun 19% (83 juta pelanggan), pengguna Internet tumbuh 13% (17 juta pengguna internet), dan yang aktif berselancar di media sosial pun tumbuh pesat sampai 15% atau tumbuh 20 juta pengguna.

Terkait pengguna media sosial, We Are Social mungkapkannya berdasarkan kombinasi dari advertising audiences dari Facebook, Instagram, dan Facebook Messenger. Usia 18 tahun – 34 tahun cukup mendominasi soal hal ini.

Pengguna media sosial di Indonesia (wearesocial.com)

Pengguna media sosial di Indonesia (wearesocial.com)

Kesehatan Mental

Sebuah studi terbaru mengungkap dampak buruk penggunaan medsos di kalangan remaja, yang dapat memengaruhi kesehatan mental mereka. Hasil studi yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet Child & Adolescent Health, menunjukkan medsos membuat para remaja kurang tidur, aktivitas fisik menurun, berpotensi terpapar konten berbahaya, dan meningkatkan paparan terhadap perundungan.

“Hasil penelitian memperlihatkan bahwa media sosial tidak berbahaya, tetapi penggunaannya yang sering akan mengganggu kegiatan yang baik untuk kesehatan mental seperti tidur dan berolahraga,” kata Russel Viner, penulis studi dari UCL Great Ormond Street Institute of Child Health seperti dilansir Antaranews, Senin (19/8/2019).

Untuk menangkal dampak buruk medsos, para orang tua disarankan melakukan beberapa langkah seperti dilansir Jeda.Id dari berbagai sumber.

1. Aktivitas Fisik

Untuk melindungi anak remaja dari dampak buruk medsos, sebuah studi menyarankan kepada orang untuk mendorong anak meningkatkan kualitas tidur anak remaja, dan mendorong mereka aktif secara fisik.
Menurut Bob Patton seorang dosen psikologi klinis di University Surrey, seperti dilansir Medical Daily, kegiatan fisik dapat membantu mengurangi dampak fisik dan psikologis dari media sosial, demikian seperti dilansir Medical Daily.

2. Berteman dengan anak di medsos

Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo Vera seperti dilansir Antaranews, mengatakan orang tua perlu menjadi teman anak dalam medsos. Mereka dapat saling mengikuti (follow) melalui akun masing-masing. Namun, Vera meminta orang tua untuk menjadi teman yang diam. Vera mengatakan pertemanan itu sangat penting untuk menghindari anak merasa risih, tidak memiliki ruang, tidak nyaman, serta merasa diawasi.

2. Ikuti orang-orang yang diikuti anak

Untuk mengetahui aktivitas anak di dunia maya, orang tua perlu mengikuti apa yang diikuti anak dalam media sosial dapat mempengaruhinya. Dengan pemantauan itu, orang tua akan tahu siapa saja yang diikuti anak. Tapi, seperti prinsip utama, orang tua perlu tetap menjadi teman yang diam.

3. Diskusikan masalah di dunia nyata

Upayakan untuk membicarakan masalah-masalah menyangkut dunia maya dengan anak remaja di dunia nyata. Berikan juga saran-saran tentang etika dan batasan-batasan menggunakan media sosial dengan bijak, misalnya untuk mengunggah foto yang sopan dan menulis kata-kata yang baik di medsos. Selain itu, diskusikan dan beri edukasi kepada mereka tentang dampak buruk medsos seperti cyber bullying, dan lain sebagainya.

4. Menjadi teman anak di dunia nyata

Komunikasi dengan anak merupakan kunci penting, terutama pada kehidupan nyata dibanding sekadar menjadi teman dalam dunia maya. Berikan kenyamanan di keluarga untuk menghindari anak tak sembarang curhat di medsos.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.