Ini Sejarah Ganja di Indonesia dari Alat Tukar Hingga Bumbu Masakan

Sejarah ganja di Indonesia sangat panjang, berawal sebagai alat tukar hingga menjadi bumbu masakan dan keperluan ritual.

JEDA.ID-Ganja telah berabad lampau masuk Indonesia. Di masa lalu ganja menjadi salah satu alat tukar dengan rempah-rempah. Bagaimana ganja sejarah Indonesia? Yuk ikuti kisahnya.

Ganja mendadak menjadi perbincangan sejak Kementerian Pertanian sempat memutuskan menjadikan ganja sebagai komoditas binaan, namun kemudian membatalkannya.

Keputusan memasukkan ganja sebagai komoditas binaan itu tertuang dalam Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 104/KPTS/HK.140/M/2/2020 tentang Komoditas Binaan Kementerian Pertanian.

Dalam Kepmen tersebut ganja masuk dalam lampiran jenis tanaman obat binaan oleh Direktorat Jenderal Hortikultura bersama 65 jenis tanaman obat lain. Selain ganja, jenis tanaman obat lain ada tanaman lain yaitu lain kecubung, mengkudu, kratom, brotowali, dan purwoceng.

Batal Jadi Komoditas Binaan

Tapi kemudian pada Sabtu (29/8/2020), Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo membatalkannya. Syahrul mengatakan bakal mengkajinya lagi bersama Badan Narkotika Nasional RI (BNN), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Pembatalan keputusan ganja menjadi komoditas binaan itu menjadi pro dan kontra. Tak sedikit kalanganmenilai ganja memiliki lebih banyak manfaat kesehatan ketimbang penggolongannya saat ini dalam UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Tiga wilayah yang memanfaatkan ganja adalah  Aceh, Tambora, dan Ternate.

“Tapi tradisi di Tambora musnah dan kebudayaan tidak berkembang setelah letusan gunung,” kata Direktur Eksekutif Yayasan Sativa Nusantara Inang Winarso seperti dikutip dari detikcom, Senin (31/8/2020).

“Warga Ternate masih memakai ganja dalam acara-acara ritual,  seperti dupa,” ujar Inang.

Sejarah ganja berawal dari Aceh. Aceh memang menjadi jalan masuk ganja ke Indonesia. Pedagang Gujarat, India, membawa ganja masuk ke Indonesia sekitar abad ke-14. Ganja berfungsi sebagai alat transaksi perdagangan. Ganja menjadi alat tukar dengan cengkeh, kopi, lada, vanili, dan jenis rempah lainnya.

Terjerat Toxic Relationship? Kenali Ciri-cirinya

Warga Aceh menanam ganja  berdampingan dengan padi. Ganja itu berfungsi sebagai tanaman pengusir hama.

Dalam prosesnya, ganja menjadi salah satu rempah penting dalam masakan. Ganja menjadi campuran bahan dalam gulai itik dan pelembut daging. Bahkan, ganja juga menjadi campuran kopi.

Inang menyebut bukti ganja sebagai obat ada dalam manuskrip kitab kuno Tajul Muluk. Pedagang juga membawa ganja ke Ternate di Maluku Utara.

Mutasi Corona D614G Ditemukan di 5 Kota Indonesia, Mana Saja?

Warga Ternate memakai ganja sebagai salah satu rempah untuk meditasi dan ritual. Selain itu, ganja juga berguna sebagai obat kencing nanah, gonore, asma, dan nyeri dada.

Barulah kemudian, politik rasialis dan kepentingan ekonomi di AS memasukkan ganja dalam daftar narkotika.

Pelarangan Ganja

Pelarangan ganja itu pun berkembang menjadi isu internasional dan menjadi Konvensi Tunggal tentang Narkotika. Indonesia menekan konvensi tersebut  saat era Presiden Soeharto melalui UU Narkotika Nomor 8 Tahun 1976.

Sementara itu Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI),  Inggrid Tania,   menyebut beberapa senyawa seperti cannabid dan flavonoid  berpotensi menjadi obat.

“Karena sifat utamanya memang psikoaktif sehingga arahnya bisa  untuk obat yang bisa memengaruhi persarafan. Jadi bisa bersifat analgesik atau anti nyeri, anti radang, antiansietas, anti kejang, dan anti mual muntah. Itu potensi untuk dikembangkan,” tutur  Inggrid seperti dikutip dari detikHealth.

 

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.