Influencer-Influencer Bermasalah yang Bikin Gerah

Sejumlah pihak merasa terlalu gerah dengan kelakuan absurd para influencer dan akhirnya mengambil kebijakan tegas.

JEDA.ID – Seorang model dan influencer Kaylen Ward, 20, menjadi bulang-bulanan publik dunia maya usai aksinya mengumpulkan donasi dengan mengirim foto bugil. Instagram bahkan berang dengan ulah Kaylen dan memutuskan untuk menghapus akunnya.

“Saya melihat semua pos di Twitter tentang kebakaran Australia dan saya benar-benar khawatir tidak ada banyak liputan media dan tidak banyak orang yang menyumbang,” kata perempuan berusia 20 tahun itu kepada Buzzfeed.

Diwartakan Sputnik, Selasa (7/1/2020), Ward mengatakan mematok target sumbangan yang terkumpul mencapai US$1.000 tapi berkat Twitter dia mengumpulkan lebih dari US$500.000. Di Twitter kicauannya menjadi viral dan mengumpulkan lebih dari 80 juta retweet.

Kaylen Ward.

Kaylen Ward. (Istimewa/Twitter)

Dia lantas menyalurkan sumbangan ke beberapa organisasi termasuk NSW Rural Fire Service, Victorian Country Fire Service, Palang Merah Australia, Rotary Australia dan Salvation Army.

Namun, inisiatifnya itu ternyata tidak mendapat persetujuan dari Instagram yang memblokir akun Ward. Dalam sebuah tangkapan layar yang diambil Ward, Instagram mengatakan bahwa dia telah mem-posting “konten sugestif seksual” di akun tersebut.

Seorang juru bicara Facebook yang dihubungi BuzzFeed News mengatakan bahwa akun dengan 50.000 pengikut itu telah melanggar kebijakan mereka dengan menawarkan foto bugil.

Influencer Bermasalah

Di belahan dunia lain, Indonesia, netizen juga sedang bermasalah dengan influencer. Beredar kabar influencer keluarga meminta paket liburan gratis ke New York dan Los Angeles selama dua pekan ditukar dengan exposure.

Ekposure dalam dunia sosial media adalah pemanfaatan ketenaran orang atau artis untuk memberikan referensi atas suatu produk yang dipromosikan. Sang influencer akan menggunakan produk tersebut dengan harapan para pengikut setianya terpengaruh untuk ikut menggunakan produk tersebut.

Mulanya, kabar tentang adanya sosok influencer yang meminta paket liburan gratis muncul dari cuitan seorang netizen bernama Nugraha dengan akun @NNugie. Ia bercerita bahwa ada seorang Youtuber yang memintanya untuk mengurusi keperluan liburan ke Ney York dan Los Angeles selama 2 Minggu.

Tidak tanggung-tanggung, jumlah rombongan yang bakal berlibur mencapai 20 orang termasuk kru. Namun, sosok Youtuber tersebut bermaksud menawarkan promosi melalui konten sebagai barter jasa, alih-alih membayar paket wisata tersebut.

Ada seorang yutuber rekues arrange trip keluarganya di amrik ber-20, 2 minggu perjalanan ke NY dan LA, pas difollow up sama tim produk gue minta dibayarnya pake barter postingan di Instagram dan Vlog YouTube wkwkwk,” tulis akun @NNugie, dikutip Tagar pada Minggu, 5 Januari 2020.

Nugraha menyayangkan permintaan sosok YouTuber tersebut. Menurut dia, pihaknya mungkin saja akan memberikan diskon atau bahkan pelayanan cuma-cuma jika influencer tersebut hanya meminta paket liburan gratis untuk satu orang.

Namun, permintaan dirasa kejam lantaran jumlah rombongan mencapai 20 orang dan hanya dibayar dengan barter promosi melalui konten di media sosial.

Deretan cuitan dari akun @NNugie tersebut kemudian memancing dugaan netizen yang mengarah kepada sosok Atta Halilintar dan keuarganya. Mengingat anggota keluarga Gen Halilintar memang mencapai jumlah belasan orang.

Gen Halilintar. Ist

Gen Halilintar. (Istimewa/Instagram)

Pengaruh Influencer

Atta Halilintar pun merespon dan memberikan klarifikasi perihal tudingan tersebut. Menurutnya, ia dan keluarganya hingga kini masih menggunakan uang pribadi dalam setiap kebutuhan perjalanan dan akomodasi saat berlibur ke luar negeri.

Menurutnya, sebagai influencer, tidak ada yang salah jika ada salah satu dari anggota keluarganya yang mengajak kerjasama dengan sebuah intitusi.

“Knp bang bos? Sampe sekarang kita biaya sendiri tiket pesawat sendiri hotel sendiri. Kalau memang ada tim keluarga saya salah ngajak kerjasama dengan brand salah kah?? Mau kerjasama ayuk kalau tidak ya tidak papa 🙂 Mungkin anda lebih pintar dan lebih baik dari saya dan keluarga 😉 God bless U!,” kata dia menjawab unggahan Winson Reynaldi.

Influencer dengan segala macam pengaruhnya telah mengubah arus di media massa dan periklanan. Seorang influencer dengan banyak follower atau subscriber bisa mendulang iklan dengan harga yang tak terbayangkan sebelumnya.

Kendall Jenner contohnya. Disebut influencer termahal, Ia dikabarkan bisa menghasilkan uang sebesar US$15,9 juta atau sekitar Rp221,3 miliar sepanjang tahun 2019. Predikat tersebut muncul saat Buzz Bingo merilis datar influencer dengan bayaran tertinggi di tahun 2019, dan nama Kendall Jenner menduduki posisi atas.

Kendall Jenner.

Kendall Jenner. (reuters)

Kendall bukanlah satu-satunya anggota dari keluarga Kardashian-Jenner yang masuk ke dalam daftar influencer Instagram tertinggi. Kedua saudara perempuannya pun masuk ke dalam 5 daftar influencer Instagram perempuan tertinggi, yakni Khloe Kardashian dan Kylie Jenner.

Semakin banyak pengikut yang dimiliki influencer, semakin mahal tarif memasang produk di akun medsosnya.

Penyewa jasa influencer harus benar-benar memperhitungkan dampak pengeluaran terhadap tingkat laba atas investasinya (return of investment). Jika tidak, mengutip ahli yang diwawancarai Vanessa, bisnis akan merugi, dan kemeriahan dunia influencer akan kolaps dalam 12 bulan ke depan.

Tren Teknologi 2020: Tahun Suram Bagi Selebgram?

Kelakuan Influencer

Di Tanah Air, sosok seperti Kylie dan Kendall Jenner terbilang cukup banyak meski nominalnya bisa jadi tak sefantastis itu. Hal ini signifikan mempengaruhi landskap arus belanja iklan.

Hal ini yang rupanya ditangkap oleh Instagram sebagai sebuah “kecelakaan.” Instagram rupanya ingin mengembalikan pasar periklanan pada sesuatu yang lebih konvensional.

Caranya adalah dengan menghilangkan fitur likes. Sederhana, tapi pengaruhnya barangkali akan terasa dalam rentang beberapa tahun kemudian. Instagram seperti ingin mengeliminir pertumbuhan influencer-influencer baru dengan tetap membiarkan influencer lama yang telah membangin basis pengikut.

Mengutip laporan Forbes, November 2019, lanskap dunia media sosial bakal berubah. Media sosial populer Instagram mengumumkan akan segera menghapus fitur Likes. Hingga saat ini, Instagram masih melakukan uji coba akan penghapusan fitur likes.

Kebijakan ini dipercaya akan mendorong banyaknya ekspansi ke fitur iklan Instagram Ads. Pengguna didorong untuk mempromosikan konten mereka secara berbayar alih-alih dapat promosi gratis lewat postingan populer. Kebijakan ini juga bakal berpengaruh kepada para selebgram yang mendapat banyak pemasukan dari popularitasnya.

Fitur like di Instagram selain berpengaruh pada kemunculan influencer baru juga mendorong bertumbuhnya para influencer palsu. Jenis influencer ini makin banyak tumbuh seiring pertumbuhan pasar periklanan di media sosial. Seperti diketahui, followers dan like bisa didapat dengan berbayar.

New York Times melaporkan pembelian akun palsu melalui situs-situs seperti Social Envy atau DIYLikes.com adalah solusi instan yang kerap dilakukan influencer.

Situs tidak pernah mengungkap apakah ada orang betulan yang berada di balik akun bodong, atau semata hanya berstatus bot.

Satu fakta pasti: kasus pencurian foto maupun identitas diri untuk bisnis jual-beli akun marak terjadi di Amerika Serikat dan negara-negara lain.

Cara Menghitung Pajak Freelancer, Termasuk Selebgram dan Staf MLM

Kasus CVT Soft Serve

PR Week mengadakan survei OnePoll. Respondennya hampir 300 pengambil kebijakan senior yang berkecimpung di bidang komunikasi marketing di Inggris. Hasilnya mengungkap dua pertiga responden setuju bahwa influencer palsu adalah masalah yang akan memburuk dalam dua tahun ke depan.

Sejumlah pihak merasa terlalu gerah dengan kelakuan absurd para influencer. Mereka ada yang akhirnya mengambil kebijakan tegas.

Kisah yang lebih populer datang dari Joe Nicchi, penjual es krim asal Los Angeles, Amerika Serikat. Merek dagangnya bernama CVT Soft Serve. Beberapa pekan belakangan truk jualan Joe mulai kedatangan para influencer.

“Mereka bilang “Hai, apa kabar. Jadi, mungkin kamu belum follow aku tapi aku punya 100.000 follower. Boleh minta es krim gratis? Nanti aku posting bisnismu di story-ku”,” katanya kepada LA Times.

Joe selalu menolak. Tapi barisan peminta es krim gratis muncul, minimal sekali dalam satu minggu. Lama-kelamaan ia muak, lalu mengambil kebijakan baru: influencer yang ingin beli es krimnya dikenakan harga dobel.

Youtuber Bukan Sahabatmu, Ini Hubungan Parasosial

Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.