Bukannya Prihatin, Netizen Malah Cari Link Video Pemerkosaan

India berada di tahap yang mengerikan berikaitan dengan kepedulian masyarakat terhadap kekerasan terhadap perempuan.

JEDA.ID – Kasus pemerkosaan di India sudah berada di tahap yang sangat mengerikan. Publik yang abai justru menunjukkan perilaku tak pantas dengan mencari video pemerkosaan lewat Google Search. Aktivitas yang jejaknya gampang diendus ini menambah keprihatinan atas perlakuan tak pantas terhadap wanita.

Kasus mengerikan terjadi baru-baru ini saat seorang korban pemerkosaan dibakar hidup-hidup saat menuju persidangan. Kasus ini menjadi sangat memprihatinkan lantaran publik India seolah abai.

India memiliki daftar panjang perlakuan tak pantas terhadap perempuan. Al Jazeera, Selasa (3/12/2019) melaporkan sejumlah video perkosaan yang dibuat pelaku dijual bebas seharga antara US$30 sen hingga 3 Dollar. Video-video itu tidak hanya menampilkan wajah korban dan suara mereka, tetapi juga tindak perkosaan yang brutal.

Khususnya dalam kasus perkosaan di Hyderabad, sejumlah media lokal menemukan bahwa Google Trends mencatat kenaikan permintaan pencarian dengan kata kunci “Video Pemerkosaan Hyderabad”, hanya sesaat setelah peristiwa brutal tersebut disiarkan televisi nasional.

(Baca Juga: Korban Perkosaan Boleh Aborsi, tapi…)

Perempuan berusia 23 tahun itu dibakar hidup-hidup saat sedang menuju persidangan kasus perkosaan terhadap dirinya.

Thomson Reuters Foundation merilis hasil surveinya dan menetapkan India menjadi negara paling berbahaya nomor empat di dunia bagi perempuan. Salah satu indikatornya adalah maraknya kasus pemerkosaan di negara Hindustan tersebut.

Menurut data pemerintah, kepolisian mencatat 33,658 kasus perkosaan pada 2017, rata-rata 92 kasus setiap hari. Data ini belum dimutakhirkan. Namun sejumlah lembaha swadaya masyarakat internasional mensinyalir ada kecenderungan kasus pemerkosaan meningkat.

Dari tren yang direkam hingga 2017 itu jumlah anak-anak yang menjadi sasaran cenderung pemerkosaan meningkat. Catatan kejahatan India menunjukkan pemerkosaan anak-anak yang dilaporkan meningkat lebih dari dua kali lipat antara 2012 dan 2016.

Lebih dari 40 persen korban perempuan di negara itu adalah anak-anak kecil. Namun, data itu ada hubungannya dengan peningkatan dan pelaporan yang lebih baik oleh polisi dan media, dan memperluas definisi pemerkosaan setelah pemerkosaan massal 2012 yang mengerikan dan pembunuhan seorang mahasiswa berusia 23 tahun di Delhi.

Peristiwa Keji

Salah satu peristiwa yang cukup ramai terjadi 2016 silam. Seorang gadis tujuh tahun berada dalam kondisi kritis di rumah sakit New Delhi Setelah menjalani operasi untuk cedera yang dideritanya saat diperkosa.

Ibunya hanya bisa meratapi nasib putrinya,ketika menemani di samping tempat tidur. Gadis cilik itu menjalani operasi selama berjam-jam dan masih dalam kondisi kritis.

Masih di tahun yang sama. Bocah 11 tahun dari Desa Mawten, diperkosa dua kali di waktu berbeda oleh tujuh laki-laki yang juga di bawah umur pada 2016 lalu. Pemerkosaan terjadi pada Desember 2016 dan Januari 2017.

Keluarga gadis itu kemudian melaporkan kasus tersebut kepada polisi setempat melalui pengaduan tertulis. Ketujuh pelaku yang tinggal satu desa dengan korban langsung ditangkap. Mereka semua diketahui telah mengakui perbuatan keji itu.

“Mereka semua berasal dari desa sama dengan gadis itu. Usia mereka rata-rata antara enam sampai 14 tahun. Kami telah menahan tujuh terdakwa di penjara khusus remaja,” kata salah seorang perwira polisi, seperti dilansir Daily Mail, Selasa (24/1/2016).

Pada 17 September 2018, seorang gadis ditemukan dalam kondisi berlumuran darah dan keadaan kritis di Rewari Haryana.

(Baca Juga: Tren Ngaku-Ngaku Mental Illness dan Bahaya Self Diagnosis)

Dibakar

Kasus lain, seorang perempuan India berusia 23 tahun berjuang untuk bertahan hidup di rumah sakit usai mengalami pemerkosaan massal dan dibakar hidup-hidup. Peristiwa keji yang terjadi di negara bagian Uttar Pradesh.

Korban sedang dalam perjalanan menuju sidang kasus perkosaan terhadap dirinya ketika sekelompok pemuda menyerangnya dan menyulut api pada tubuhnya. Saat ini korban berada dalam kondisi kritis menyusul luka bakar serius.

Polisi menahan lima tersangka, termasuk dua pria yang dituding ikut memerkosa korban pada bulan Maret silam. “Korban dilarikan ke rumah sakit di Lucknow untuk perawatan yang lebih baik,” tulis kepolisian. “Dia sebelumnya melaporkan kasus perkosaan dan seorang tersangka dalam kasus tersebut juga ditangkap.”

Peristiwa pembakaran korban perkosaan di Uttar Pradesh terjadi di distrik Unnao, di mana seorang perempuan juga diperkosa pada Juli silam. Polisi lalu membuka kasus percobaan pembunuhan terhadap seorang pejabat tinggi sebuah partai politik lokal setelah korban yang berusia 19 tahun mengalami cedera berat usai ditabrak dengan mobil.

Dilansir AFP, Rabu (4/12/2019), kasus pemerkosaan terjadi di kota Buxar, negara bagian Bihar. Usia korban tidak disebut lebih lanjut dan identitas korban tidak diungkap ke publik.

(Baca Juga: Cium Pipi Staf Berujung Laporan Polisi, Begini Cara Menangkis Pelecehan Seksual)

Kepolisian setempat menduga korban diperkosa secara bergiliran, lalu dibunuh dan jasadnya dibakar sebelum dibuang ke lahan kosong di wilayah kota Buxar.

Laporan media lokal, India Today, menyebut korban ditembak mati oleh para pelaku sebelum dibakar dengan niat menghancurkan bukti. Kondisi jasad korban terbakar parah di bagian pinggang ke atas sehingga sulit dikenali.

Kepolisian menyebut korban ditembak dengan satu peluru di kepalanya, dengan polisi menemukan satu selongsong peluru kosong di lokasi. Pihak kepolisian setempat menyatakan masih menunggu hasil autopsi terhadap jasad korban.

Dalih

India tak sendiri saat berbicara mengenai tingginya kasus pemerkosaan. Namun banyak yang meyakini patriarki dan rasio jenis kelamin memperburuk hal ini. Termasuk juga apatisme masyarakat yang turut mendorong peristiwa-peristiwa keji ini menjamur.

Masyarakat India, baik laki-laki maupun perempuan, menolak untuk percaya bahwa kekerasan seksual adalah masalah serius di India. Dan sebagian besar partai politik, termasuk BJP-nya Modi, tampaknya tidak mengakui dan mengkategorikannya sebagai masalah sosial yang merusak.

Kabar baiknya adalah pelaporan yang lebih baik dan meningkat atas kasus pemerkosaan. Kabar buruknya adalah sistem peradilan pidana tetap rentan terhadap tekanan politik dan memungkinkan banyak tersangka bebas tanpa hukuman, hanya satu dari empat kasus pemerkosaan di India yang berakhir dengan hukuman.

Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.