Cium Pipi Staf Berujung Laporan Polisi, Begini Cara Menangkis Pelecehan Seksual

Pelecehan seksual bisa terjadi di mana saja. Di sengaja atau tidak tindakan pelecehan seksual biasanya akan memberi dampak buruk bagi korbannya. 

JEDA.ID—Pelecehan seksual bisa terjadi di mana saja. Di sengaja atau tidak tindakan pelecehan seksual biasanya akan memberi dampak buruk bagi korbannya.

Hal ini tampaknya dialami S, seorang pegawai negeri spil (PNS) di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan (Sulsel).  S melaporkan atasannya seorang Kadis Pemkab Jeneponto, Sulsel, berinisial J, atas dugaan pelecehan seksual, yakni mencium pipi saat berswafoto (selfie).

Kasatreskrim Polres Jeneponto AKP Boby Rachman mengatakan pelapor menyebut S mencium pipi dan merangkul saat mengajak selfie.  Kejadian ini didasari keterangan pelapor, yang bermula saat J dipanggil S untuk datang ke ruang kerja. Di ruangan, S meminta J selfie bersama. “Di ruangannya, jadi dia panggil stafnya untuk selfie, terus dia mencium pipi stafnya itu,” kata AKP Boby seperti dilansir detikcom, Rabu (28/8/2019).

Pelecehan seksual nyaris bisa ditemui setiap hari, setiap saat. Di jalanan, di kendaraan umum, di tempat kerja, bahkan rumah sendiri pelecehan seksual bisa terjadi. Pelakunya bisa orang tak dikenal, rekan kerja, bahkan kerabat atau saudara sendiri.

Meskipun pria juga dapat menjadi korban, faktanya wanita masih lebih sering menjadi sasaran pelecehan seksual dibandingkan pria. Pelecehan seksual bisa berbentuk verbal (perkataan) ataupun tindakan fisik.  Tindakan-tindakan yang bisa masuk dalam kategori pelecehan seksual menurut berbagai sumber antara lain adalah:

-Main mata atau pandangan yang menyapu tubuh, biasanya dari atas ke bawah.

-Siulan nakal dari orang yang dikenal atau tidak dikenal.

-Bahasa tubuh yang dirasakan melecehkan, merendahkan dan menghina.

-Komentar yang berkonotasi seks atau kata-kata yang melecehkan harga diri, nama baik, atau pencemaran nama baik.

-Mengungkapkan gurauan-gurauan bernada kurang sopan atau mengandung konten seksual

-Bisikan bernada seksual.

-Menggoda dengan ungkapan-ungkapan bernada penuh hasrat.

-Komentar/perlakuan negatif yang berdasar pada gender.

-Perilaku meraba-raba tubuh korban dengan tujuan seksual, seperti cubitan, colekan, tepukan, atau sentuhan di bagian tubuh tertentu.

-Pemaksaan berhubungan seksual dengan iming-iming atau ancaman agar korban bersedia, sampai terjadinya perkosaan.

Penyebab pelecehan seksual

Tindakan pelecehan seksual sangat meresahkan dan mengganggu bagi korban bahkan orang-orang sekitar yang menyaksikan. Terdapat beberapa penyebab mengapa pria melakukan pelecehan terhadap wanita antara lain:

-Korban dinilai atau dianggap oleh pelaku sebagai orang yang mudah ditaklukkan. Pria menganggap bahwa wanita lebih lemah, sehingga ditempatkan dalam posisi subordinasi yang harus dikuasai.

-Hasrat seks yang tidak bisa disalurkan dengan pasangannya. Hal ini menyebabkan pelaku menyalurkan nafsunya dengan melakukan pelecehan seksual.

-Mempunyai riwayat kekerasan seksual saat masih kecil. Adanya trauma ini membuat pelaku ingin membalasnya ketika ia dewasa.

-Pernah menyaksikan kekerasan seksual terhadap anggota keluarga lain saat masih kecil.

-Pelaku memiliki otoritas atas korban. Misalnya, pelaku merupakan atasan korban. Terdapat suatu penelitian yang menghubungkan seks dengan kekuasaan, sehingga pelaku merasa lebih mudah untuk melakukan dominasi

-Pelaku berada dalam keluarga atau lingkungan dengan ideologi patriarki yang kuat.

-Ketergantungan obat-obatan terlarang dan minuman keras juga bisa menjadi pendorong seseorang melakukan pelecehan seksual.

-Memiliki fantasi seksual yang mendukung adanya kekerasan seksual.

-Sering membaca atau menonton konten-konten porno.

-Tidak dekat secara emosional dengan keluarga.

Tindakan yang Harus Dilakukan Korban

Hampir tiap hari berita atau kisah pelecehan seksual kita dengar atau kita lihat di berbagai media. Bahkan tak jarang pelecehan seksual berujung pada tindakan kriminal seperti pemerkosaan hingga pembunuhan.

Dengan kata lain, pelecehan seksual masih menjadi masalah yang belum tuntas. Apalagi ketika wanita melaporkan pelecehan seksual, sering kali wanita tersebut tidak dipercaya atau malah diremehkan. Inilah yang membuat banyak wanita lebih memilih untuk bungkam.

Namun, kaum wanita tetap dapat dan harus melakukan beberapa cara untuk menghindari tindakan pelecehan seksual seperti dilansir Jeda.Id dari

1.Waspada akan Bahaya

Berhati-hatilah dengan keadaan sekitar dan waspada terhadap gerak-gerik orang di dekat Anda. Jika Anda memergoki seseorang yang selalu melihat ke arah Anda, memperhatikan gerak-gerik, atau melihat orang sering menengok ke arah Anda, perilaku ini harus diwaspadai. Pindahlah tempat duduk di dekat supir atau segera turun dari bus ketika melewati jalanan yang ramai.

Bersikaplah waspada terhadap sekeliling dan orang-orang yang belum dikenal, terutama di tempat-tempat yang asing. Yang terpenting, tunjukkan bahwa Anda kuat dan percaya diri.

2. Hindari Kontak Mata

Usahakan untuk menghindari kontak mata dengan orang berpontensi akan melecehkan. Namun bersikaplah tetap tenang. Kalaupun ada upaya dia untuk mengajak ngobrol,  usahakan menjawab seperlunya.

3. Tarik Perhatian Orang Sekitar

Ketika mengalami pelecehan seksual di ruang publik dengan banyak orang, jangan ragu untuk berteriak dan mengambil perhatian orang sekitar. Dalam kasus ini, bertindak agresif sangat disarankan. Tindakan ini membuat si pelaku enggan meneruskan perbuatan tak senonohnya.

4. Dengarkan Naluri

Jaga insting Anda untuk selalu waspada. Dengarkan naluri, apakah orang asing yang berusaha dekat dan mengobrol dengan Anda punya niat jahat atau tidak.

Bila orang tersebut membuat Anda tidak nyaman, atau situasi tiba-tiba berubah dari sok kenal sok dekat menjadi terlalu berlebihan, pergilah dari situ secepatnya. Ingat, jangan pernah berargumen dengan orang yang tak dikenal, bersikap terlalu ramah atau sopan karena itu bisa menjadi celah orang tersebut untuk berbuat jahat pada Anda.

5. Berani Melawan

Jika Anda telah mengalami pelecehan seksual, jangan ragu untuk melakukan perlawanan. Anda dapat berbicara terus terang kepada pelaku bahwa Anda tidak nyaman dan ingin ia berhenti.

6. Persenjatai Diri

Untuk keamanan, selalu bawa barang-barang yang bisa digunakan untuk membela diri. Misalnya pisau lipat, semprotan cabai atau merica, alat kejut listrik atau pemantik api.

7. Dokumentasi dan Lapor

Anda dapat mencatat atau mendokumentasikan pelecehan tersebut dan melaporkannya kepada pihak berwajib.  Ponsel biasanya memiliki fitur yang memungkinkan kita bisa menghubungi nomor telepon tertentu hanya dengan sekali tekan.

Aturlah nomor-nomor telepon penting seperti polisi, nomor panggilan darurat dan anggota keluarga di tombol-tombol yang strategis (misalnya sangka 1, tombol menu, call, dan sebagainya). Saat situasi sudah tak terkontrol, hubungilah nomor tersebut dan minta pertolongan.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Menarik Juga

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.