Balada Salah Pilih Jurusan: Putar Haluan atau Bertahan

Anggapan jika salah pilih jurusan pasti memengaruhi psikologis, tidaklah benar. Pengaruh psikologis ditentukan bagaimana mahasiswa menyikapinya.

JEDA.ID–Sempat ada penelitian yang menyebutkan 87% mahasiswa di Indonesia salah pilih jurusan di perguruan tinggi negeri. Hanya ada dua pilihan yang sama-sama memiliki konsekuensi yaitu putar haluan alias pindah ke jurusan lain atau bertahan.

Cerita salah pilih jurusan di kampus-kampus kerap terdengar. Awal mulanya calon mahasiswa kadang bingung dengan jurusan apa yang harus dipilih ketika kuliah. Tidak sedikit mereka mendapat saran dari orang terdekatnya, seperti orang tua, saudara, dan teman.

Ada yang terpaksa menuruti saran orang terdekat. Ada juga yang tetap teguh memegang jurusan pilihannya. Beberapa calon mahasiswa yang bingung menentukan jurusan, mendapat saran dari orang terdekat. Namun, ada juga yang memilih jurusan disesuaikan dengan minat dan bakatnya.

Palupi Widayati, 21, mahasiswi semester VII Universitas Atma Jaya Yogyakarta mengaku mendapat saran dari orang terdekatnya, dalam memilih jurusan.

”Awalnya ingin masuk jurusan farmasi kalau enggak biologi. Terus aku dikenalin jurusan ilmu komunikasi sama kakakku. Banyak pertimbangan akhirnya ya sudah aku pilih jurusan ilmu komunikasi saja,” jelas perempuan yang akrab disapa Palupi, kepada jeda.id, Minggu (22/9/2019).

Orang tuanya juga memberi saran untuk Palupi, namun ia tidak pernah dipaksa dalam hal pemilihan jurusan di perguruan tinggi.

Cristopher Alvin Buana, 18, mahasiswa semester I President University, juga mendapat saran dari orang tuanya dalam pemilihan jurusan. Pria yang akrab disapa Alvin ini memutuskan untuk memilih jurusan teknik informatika atas saran orang tua dan hasil psikotest.

Sedangkan Davin Revata Pathama, 19, mahasiswa semester IV di Universitas Kristen Satya Wacana, mengaku memilih jurusan desain komunikasi visual disesuaikan dengan minat dan bakatnya.

Pengaruhi Psikologis?

Dosen psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), Nanda Yunika Wulandari, mengatakan ada faktor internal dan eksternal yang memengaruhi mahasiswa salah memilih jurusan.

Umumnya faktor internal disebabkan oleh ketidaktahuan mahasiswa tentang passion-nya serta tidak berani memilih jurusan sesuai minat dan bakatnya. Sedangkan, faktor eksternal disebabkan adanya paksaan dari orang terdekat.

Anggapan jika salah memilih jurusan pasti memengaruhi psikologis, tidaklah benar. Pengaruh psikologis ditentukan bagaimana mahasiswa menyikapinya.

Jika mahasiswa mampu beradaptasi dan bertahan, salah pilih jurusan tidak berpengaruh pada psikologis. Sebaliknya, jika gagal beradaptasi dan bertahan, dapat memengaruhi psikologis dan motivasi belajar.

Dia menyebut jika masalah itu tidak diatasi dapat menyebabkan rasa tidak nyaman dan memengaruhi prestasi mahasiswa, misal Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tidak optimal.

salah pilih jurusan

Ilustrasi mahasiswa (Freepik)

Nanda menjelaskan umumnya mahasiswa sadar salah pilih jurusan setelah kuliah satu tahun, masuk tahun kedua, atau menjelang skripsi. Saat tidak bisa mengikuti proses belajar dengan baik, mahasiswa sadar jika ia salah pilih jurusan.

Menurut dia, dalam proses pemilihan jurusan, sangatlah penting menentukan goal setting. Mendapat saran dari orang tua, guru, dan teman, dapat dijadikan bahan pertimbangan.

Walau begitu, keputusan memilih jurusan tetap berada di tangan mahasiswa. Jika mahasiswa sudah salah pilih jurusan, adaptasi menjadi alternatif pilihan. Dia membagikan beberapa tips agar calon mahasiswa tidak salah pilih jurusan:

  • Kenali diri sendiri dulu (minat, bakat, dan passion)
  • Cari info jurusan yang diinginkan beserta prospek kariernya
  • Pertimbangkan saran dari orang terdekat seperti orang tua
  • Buat rencana dan putuskan jurusan yang ingin diambil
  • Eksekusi dengan bergerak maju ke goal setting yang ingin dituju

Menarik Diri dari Lingkungan

Sebagaimana dikutip dari Jurnal Unpad, Sabtu (21/9/2019), salah pilih jurusan diartikan sebagai mahasiswa yang paham akan bakat dan minatnya, namun memilih jurusan yang berbeda dari minat dan bakatnya.

Dilansir dari Okezone, Senin (23/9/2019), menyebutkan hasil penelitian dari Integrity Development Flexbility (IDF) menunjukkan sebanyak 87 persen mahasiswa Indonesia salah pilih jurusan.

Minat individu memengaruhi pemilihan jurusan, yang akan berdampak pada proses pembelajaran. Seperti yang dijelaskan Nanda, masalah psikologis muncul ketika jurusan yang ditekuni tidak sesuai dengan keinginannya.

Masalah psikologis ditandai dengan timbulnya perasaan tidak nyaman dalam proses akademik. Masalah relasional turut muncul, ditandai dengan mahasiswa yang cenderung menarik diri dari lingkungan teman satu jurusan.

Meminimalisasi salah pilih jurusan bisa dilakukan sejak SMA yaitu pemberian bimbingan terkait jenjang karier.

Ditulis oleh : Vanya Karunia Mulia Putri/Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.