Mahasiswa Kupu-Kupu dan Kura-Kura, Kamu Termasuk yang Mana?

Tipe mahasiswa kupu-kupu dan kura-kura memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mahasiswa memiliki pilihan dan fokus masing-masing dalam menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.

JEDA.ID–Istilah mahasiswa kupu-kupu dan kura-kura kerap terdengar di kampus. Istilah itu menggambarkan tipe mahasiswa dalam menjalani aktivitas mereka di kampus.

Sebutan mahasiswa kupu-kupu disematkan bagi mereka yang aktivitasnya adalah kuliah-pulang-kuliah-pulang (kupu-kupu). Sedangkan kura-kura untuk menggambarkan mahasiswa yang sibuk berorganisasi atau penuh kegiatan kampus yaitu kuliah-rapat-kuliah rapat (kura-kura).

Gita Nusanto Putri, 21, mahasiswi semester VII Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia menceritakan pengalamannya saat menjadi mahasiswa kura-kura. Dia menyebut bergabung dalam organisasi memang melelahkan.

Namun, baginya banyak hal menyenangkan didapat, seperti bisa mengeluarkan unek-unek serta keluhan dalam organisasi. Kini, Gita menjalani keseharian sebagai mahasiswa kupu-kupu lantaran fokus dalam pengerjaan skripsi. Menurutnya, menjadi mahasiswa kupu-kupu membuatnya memiliki banyak waktu istirahat.

Theodorus Bima, 20, mahasiswa semester V Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) mengatakan hal serupa. Menurut dia, menjadi mahasiswa kupu-kupu alias selepas mengikuti perkuliahan langsung pulang rumah atau indekos akan memiliki banyak waktu istirahat.

Namun, menjadi mahasiswa kupu-kupu menjadikan jarang berinteraksi dengan sesama mahasiswa dan memiliki sedikit teman. Bima kini menjalani kesibukan sebagai pengurus inti organisasi di fakultas kampusnya.

Dia mengakui kesibukan dalam organisasi kadang membuatnya lelah. Namun, menurutnya dengan menjadi mahasiswa kura-kura, membuatnya memiliki banyak teman.

Mahasiswa UAJY lainnya Septiani Selviana, 21, mengatakan jika bergabung dalam organisasi membuatnya memiliki teman lebih banyak. Menjadi mahasiswa kura-kura terkadang waktu habis untuk rapat dan kuliah. Kadang ada yang sampai mengorbankan kuliah.

”Waktu itu ada event besar sih, jadi mau enggak mau aku harus ngorbanin kuliahku. Ini bukan semata-mata keputusanku sendiri, tapi emang ada surat dari prodi [program studi] yang mengizinkan aku ikut event besar itu,” jelas perempuan yang akrab disapa Vivi.

Gita menyebut nilai akademiknya cenderung meningkat ketika menjadi mahasiswa kupu-kupu. Lantaran, ia bisa lebih fokus menyelesaikan tugas harian. Dia merasa ada perasaan nyaman ketika tidak aktif mengikuti kegiatan organisasi.

Waktu Luang di Rumah

mahasiswa kupu-kupu

Ilustrasi mahasiswa belajar di rumah (Freepik)

Margaretha Primayasti, 22, yang menempuh pendidikan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta merasa tidak nyaman jika harus ikut tergabung dalam kegiatan organisasi. Dia akhirnya menjadi mahasiswa kupu-kupu dengan lebih banyak waktu di rumah.

”Aku enggak tertarik ikut organisasi karena enggak nyaman aja. Soalnya kalau kuliah kan udah capai. Terus lebih enak kalau langsung pulang tanpa mikir harus rapat malam-malam,” jelas dia.

Menurut perempuan yang akrab disapa Yasti ini, setiap orang memiliki pilihan masing-masing dan fokus dalam menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.

Dikutip dari Pengaruh Keaktifan Mahasiswa dalam Organisasi Kemahasiswaan Terhadap Prestasi, Sabtu (21/9/2019), tertulis jika keaktifan mahasiswa dalam organisasi memiliki pengaruh besar dalam nilai akademik.

Ada yang prestasi akademiknya naik, namun tidak jarang pula yang malah merosot. Salah satu hal yang memengaruhi hal itu adalah kemampuan mahasiswa membagi waktu. Hal ini diakui Bima yang harus pandai-pandai mengatur waktu agar kuliah lancar sekaligus organisasi jalan.

”Misal waktu kerja kelompok sama rapat barengan dan keduanya sama-sama mengharuskan aku datang. Aku sebagai pengurus inti organisasi akan berusaha sebisa mungkin membuat rapat selesai lebih cepat. Jadi pas rapat selesai aku bisa ikut kerja kelompok,” jelas Bima.

Dilansir dari Jurnal Psikologi Undip, ada beberapa manfaat didapat ketika tergabung dalam organisasi alias menjadi mahasiswa kura-kura, yakni penguatan kemampuan berpikir, komunikasi, dan kepercayaan diri. Selain itu, bergabung dalam organisasi membutuhkan manajemen waktu yang baik.

Tipe mahasiswa kupu-kupu dan kura-kura, memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Mahasiswa kupu-kupu memang bisa lebih fokus dalam bidang akademik. Walau, dalam kesehariannya mahasiswa kupu-kupu mempunyai teman yang lebih sedikit.

Sedangkan mahasiswa kura-kura menuntut untuk bisa membagi waktu antara kuliah dengan aktivitas organisasi. Namun, tipe mahasiswa ini cenderung memiliki relasi yang lebih banyak.

Nah, kira-kira kamu termasuk tipe apa? Mahasiswa kura-kura atau mahasiswa kupu-kupu? Pilihan ada di tanganmu sendiri.

Ditulis oleh : Vanya Karunia Mulia Putri/Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.