WHO Keluarkan Pedoman, Pasien Isolasi Mandiri Wajib Punya Oximeter

Kadar oksigen rendah juga bisa dialami pasien Covid-19 tanpa mengeluhkan gejala,

JEDA.ID-WHO mengeluarkan pedoman baru yaitu pasien isolasi mandiri wajib punya oximeter. Pasien wajib punya oximeter  di rumah agar bisa mengecek kadar oksigen secara rutin.

Aturan ini juga ditujukan bagi pasien yang masih menunjukkan gejala Covid-19 di masa pemulihan.
Mereka wajib penggunaan pulse oximeter di rumah. Info sehat kali ini membahas pedoman baru WHO tentang pasien isolasi mandiri wajib memiliki pulse oximeter di rumah.

Menurut WHO, pasien Corona yang menjalani isolasi mandiri dengan gejala Covid-19 ringan sebaiknya menyediakan pulse oximeter atau alat oksimetri nadi. Sebab, wajib untuk mengecek kadar oksigen secara rutin, melihat apakah kondisi saat terpapar benar-benar aman menjalani perawatan di rumah, atau perlu ke RS.

Baca Juga: Kasus Virus Nipah Pernah Dilaporkan Di Negara Asia, RI Bagaimana?

“Hal lain dalam pedoman yang baru adalah bahwa pasien Covid-19 di rumah harus menggunakan oksimetri nadi, yang mengukur kadar oksigen, sehingga Anda dapat mengidentifikasi apakah di rumah kondisinya memburuk, atau akan lebih baik dirawat di rumah sakit,” kata Juru bicara WHO Margaret Harris di Jenewa, dikutip dari Reuters dan dikutip dari detikcom, Kamis (28/1/2021).

Dikutip dari Mayo Clinic, cara membaca kadar oksigen normal menggunakan pulse oximeter atau alat oksimetri nadi ada di antara 95 hingga 100 persen. Sementara angka di bawah 90 persen dinilai terlalu rendah. Beberapa dokter melaporkan, pasien Covid-19 masuk ke RS dengan kadar oksigen di 50 persen atau lebih rendah.

Kadar oksigen rendah juga bisa dialami pasien Covid-19 tanpa mengeluhkan gejala apapun sebelumnya, disebut dengan happy hypoxia. Happy hypoxia membuat pasien Covid-19 mengalami sesak napas tiba-tiba dan berakhir fatal.

Selain itu, WHO juga menyarankan pasien Covid-19 ditempatkan dalam posisi tertentu yang disebut efektif meningkatkan aliran oksigen.

“WHO menyarankan dokter untuk menempatkan pasien dalam posisi tengkurap, di depan mereka, yang terbukti meningkatkan aliran oksigen,” katanya.

Rekomendasi WHO

Selain wajib punya oximeter, ada lagi rekomendasi WHO lainnya. “Juga kami merekomendasikan, kami menyarankan penggunaan, antikoagulan dosis rendah untuk mencegah penggumpalan darah di pembuluh darah. Kami menyarankan penggunaan dosis yang lebih rendah daripada dosis yang lebih tinggi karena dosis yang lebih tinggi dapat menyebabkan masalah lain,” kata Harris.

Beberapa waktu lalu, dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Adria Rusli, , menyebut cara menggunakan pulse oximeter atau oksimeter cukup sederhana.

Baca Juga: Virus Corona Butuh Kolesterol untuk Menyerang Sel, Ini Penjelasannya

“Itu ya bisa mengukur kadar oksigen di jaringan, dia sangat sederhana, kita taruh di ujung telunjuk jari kita. Dia mensensor kadar oksigen di dalam jaringan kita, di jari itu, nah itu memang bisa sebagai alat pendeteksi dini lah [happy hypoxia],” kata dr Adria Rusli saat dihubungi detikcom.

“Sangat simpel kok, itu tinggal tempel di jari tunggu beberapa menit, keluar angkanya, saturasi oksigennya,” lanjutnya.

Lalu bagaimana cara kerja oximeter?

Seperti yang dijelaskan dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, dr Adria Rusli, SpP(K), cara menggunakan oksimeter sangat simpel. Seseorang bisa langsung menaruh oksimeter di ujung telunjuk jari.

“Itu ya bisa mengukur kadar oksigen di jaringan, dia sangat sederhana, kita taruh di ujung telunjuk jari kita. Dia mensensor kadar oksigen di dalam jaringan kita, di jari itu, nah itu memang bisa sebagai alat pendeteksi dini lah [happy hypoxia],” kata dr Adria Rusli saat dihubungi detikcom.

“Sangat simpel kok, itu tinggal tempel di jari tunggu beberapa menit, keluar angkanya, saturasi oksigennya,” lanjutnya.

Bagaimana cara membaca hasil oximeter?

Jika hasil oximeter menunjukkan angka di rentang 95 hingga 10 persen, saturasi oksigen tubuh berarti normal. Lain hal dengan angka di bawah 90 persen, apa artinya?

Baca Juga: Mengenal Burung-Burung Dalam Mitologi Dunia yang Sering Muncul Dalam Kisah Fiksi

– Kadar oksigen di dalam darah normal: 95-100 persen
– Kadar oksigen di dalam darah rendah: Kurang dari 90 persen

Oximeter bisa beli di mana dan berapa harganya?

Pulse oximeter bisa dibeli di toko kesehatan terdekat, maupun di e-commerce. Berdasarkan pemantauan di sejumlah e-commerce oximeter dijual dengan harga cukup variatif.

Ada di kisaran Rp80.000 hingga Rp300.000. Untuk harga yang lebih mahal, oximeter terhubung dengan aplikasi di smartphone via bluetooth sehingga mempermudah pembacaan hasil.

Beberapa dokter melaporkan, pasien Covid-19  masuk ke RS dengan kadar oksigen di 50 persen atau lebih rendah. Namun, ada catatan saat menggunakan oksimeter seperti berikut:

1. Pewarna kuku

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat menggunakan oksimeter seperti hindari menggunakan pewarna kuku, hal ini dapat mempengaruhi efektivitas kerja pulse oximeter.

Baca Juga: Pacar Nafsuan Normal Enggak Ya? Ini Batasan dan Cara Menghadapinya

Warna dari cat kuku dapat menyerap cahaya yang dipancarkan oleh oksimeter sehingga mengganggu pendeteksian kadar oksigen dalam darah.

2. Pergerakan

Usai oksimeter dipasang di jari, jangan banyak pergerakan. Sebab, hal itu bisa berpengaruh pada akurasi hasil.

Bentuk gelombang dari hasil deteksi akan cenderung tidak menentu dan tidak terdeteksi dengan baik. Sebisa mungkin minimalkan gerakan pada tubuh khususnya jari.

3. Cahaya berlebihan

Cahaya berlebihan saat menggunakan oksimeter bisa membuat hasil menjadi tak akurat. Sebaiknya saat menggunakan pulse oksimeter, tidak terpapar cahaya terang secara langsung, agar dapat bekerja secara baik.

Ditulis oleh : Astrid Prihatini WD

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.