Pakai Whatsapp Harus Bayar, Ini Dampaknya

Rencana Whatsapp berbayar masih simpang siur meski makin santer dibicarakan publik.

JEDA.ID – Facebook kabarnya akan menawarkan aplikasi pesan instan Whatsapp dengan harus bayar sejumlah uang. Whatsapp nantinya akan memiliki dua versi, berbayar dengan dibebaskan dari iklan-iklan yang mengganggu atau versi tidak berbayar yang akan dipenuhi iklan.

Rencana ini masih simpang siur. Beberapa media menyebut rencana ini masih dalam tahap penembangan sementara beberapa media menyebut itu hanya rumor.

Belum ada pernyataan resmi dari Facebook, namun media Inggris The Sun, Sabtu (18/1/2020), menyebut rencana ini urung dilakukan.

Katanya, Facebook membatalkan rencana tersebut belum lama ini. Bahkan raksasa media sosial asal Amerika tersebut kabarnya telah membubarkan tim khusus yang bekerja mengintegrasikan iklan diplatform. Serta menghapus kode yang telah dikerjakan pada platform.

Meskipun dibatalkan, bukan tidak mungkin Whatsapp tidak kebagian iklan dalam waktu mendatang. Tampaknya Facebook masih menimbang rencana tersebut.

Facebook mengungkapkan, untuk saat ini pihaknya akan fokus pada pengembangan fitur yang memudahkan komunikasi pebisnis dan konsumen melalui Whatsapp Bussines.

Selain itu, Facebook juga masih bekerja untuk Whatsapp Payment yang masih diuji coba. Whatsapp Payment juga kabarnya akan hadir di Indonesia.

Bikin Paspor Online Bisa Lewat Whatsapp, Amankah?

Dampak Whatsapp Berbayar

Saat ini rencana Whatsapp berbayar masih belum diketahui kebenarannya. Facebook belum memberikan keterangan resminya bagaimana cara untuk memonetisasi platform chat populernya tersebut.

Jauh sebelum diakuisisi Facebook, rencana monetisasi Whatsapp sudah mengemuka. Pendiri Whatsapp telah memiliki cara untuk mendapatkan keuntungan yaitu dengan dengan mematok biaya berlangganan sebesar US$1 atau setara Rp14.000 per tahun bagi pengguna.

Akhirnya, rencana monetisasi Whatsapp dengan iklan ini pun memunculkan perdebatan panas. Hal ini pula yang membuat dua pendiri perusahaan, Brian Acton dan Jun Koum, meninggalkan perusahaan.

Keduanya tak sepakat dengan kehadiran iklan dalam platform chatting ini. Sementara Mark Zuckerberg di awal kedatangannya mencaplok Whatsapp langsung ingin segera monetisasi.

Whatsapp didirikan oleh Brian Acton dan Jun Koum pada 2009 silam. Plaform ini kemudian diakuisisi Facebook pada 2014 senilai US$19 miliar dalam bentuk sebagian uang tunai dan saham Facebook.

Meski begitu menarik untuk memprediksi apa yang akan terjadi jika Whatsapp benar-benar menjadi aplikasi berbayar.

Pengamat Telekomunikasi, Heru Sutadi, mengungkapkan rencana monetisasi Whatsapp sudah muncul sejak lama. Pertanyaan terkait apakah Whatsapp akan terus gratis atau berbayar terus santer dibicarakan.

Menurut Heru, ketika gratis maka Facebook akan memiliki cara lain untuk memonetisasi Whatsapp.

Heru menambahkan, ketika Whatsapp nantinya akan membebankan biaya langganan kepada pengguna kemungkinan Whatsapp akan kehilangan beberapa pengguna.

“Kalau berbayar, bagi Whatsapp/Facebook tentu potensi pendapatannya akan besar. Tapi bukan berarti pengguna tidak akan kabur karena tidak gratis lagi,” kata Heru dilansir Okezone, Jumat (17/1/2020).

Pengakuan Para Silent Reader di WhatsApp Group

Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.