Menelusuri Jejak Masuknya Bahasa Indonesia ke Australia

Di dunia banyak sekali ragam bahasa yang tetap eksis digunakan penduduk Bumi, termasuk Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia juga eksis di Australia.

JEDA.ID– Di dunia banyak sekali ragam bahasa yang tetap eksis digunakan penduduk Bumi, termasuk Bahasa Indonesia. Sebuah penelitian terbaru membeberkan jumlahnya, yaitu sebanyak 7.000 bahasa dan digunakan hampir tujuh miliar orang yang kini hidup di planet ini.

Jumlah ini tidak merata di setiap benua. Asia dan Afrika menjadi rumah bagi sebagian besar keragaman linguistik. Beberapa bahasa ada juga yang hanya digunakan oleh kurang dari 36 orang. Seperti Pitcaim, negara ini hanya punya dua bahasa dalam populasinya dan digunakan kurang dari 36 orang.

Papua Nugini menjadi negara dengan jumlah bahasa terbanyak di seluruh dunia, yaitu 839 bahasa hidup. Hampir tiga kali lipat milik negara-negara Eropa dikombinasikan. Sebanyak 839 bahasa ini imbas dari keragaman etnis dan budaya.

Dalam berkomunikasi warga dunia biasa menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Dengan penggunaan bahasa internasional ini komunikasi warga beda negara akan semakin mudah.

Pejabat Australia

Namun ada yang menarik saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan kunjungan kerja ke Canberra, Australia. Di sana, Jokowi bertemu dengan Gubernur Jenderal Australia, David Hurley yang menyambut Jokowi dengan berpidato Bahasa Indonesia.

Dalam salah satu rangkaian acara kenegaraan Jokowi, David Hurley berpidato mengucapkan terima kasih kepada Jokowi karena telah berkontribusi terhadap penanganan kebakaran hutan di Australia.

“Kita sangat berterima kasih untuk bantuan Indonesia, dalam menghadapi kebakaran hutan di Australia, dalam pengiriman lebih dari 40 insinyur angkatan bersenjata untuk kontribusi pada Operation Bushfire Assist,” ujar David dalam potongan video yang diunggah Sekretariat Presiden lewat akun Youtube resmi, Senin (10/2/2020).

Bahasa Asing Pertama

Meski Australia tidak memiliki bahasa resmi nasional, tapi Bahasa Inggris menjadi bahasa yang digunakan sejak kedatangan penjelajah asal Eropa. Padahal bahasa Melayu asal Indonesia justru tercatat sebagai bahasa asing pertama yang masuk dan dipelajari di benua Australia.

Seperti dilansir ABC beberapa waktu lalu, bahasa Melayu asal Indonesia kali pertama diperkenalkan kepada suku asli yang tinggal di Australia Utara pada tahun 1700-an. Saat itu nelayan dari Makassar datang untuk menjalin hubungan dagang.

“Suku Yolngu adalah orang pertama di benua Australia yang menggunakan bahasa asing dengan belajar bahasa Makassar dan bahasa Melayu dari Indonesia,” ujar Dr Paul Thomas peneliti dari Monash University di Melbourne. Dr Paul juga merilis buku Talking North: The Journey of Australia’s First Asian Language di Canberra pada November 2019 lalu.

Dosen bahasa Indonesia di Deakin University tersebut mengatakan bukunya mencoba merekam masuknya sejarah bahasa Melayu dari Indonesia ke Australia — yang selanjutnya disebut bahasa Indonesia dan perkembangannya hingga saat ini.

Dari penjelasannya, sesuai catatan sejarah, juru bahasa pertama yang ada di benua Australia adalah juru bahasa Melayu Indonesia yang didatangkan oleh Batavia oleh penjelajah bernama Abdel Tasman di awal abad ke-17.

“Ia disuruh mencari juru bahasa Melayu karena mereka kira akan ada kemungkinan bahasa Melayu Indonesia digunakan di benua Australia, yang saat ini bernama Hollandia Baru,” ujar Dr Paul.

Minat Menurun

Namun, sayangnya minat untuk belajar bahasa ini di Australia terus menurun. Salah satu faktornya adalah pendatang dari Indonesia ke Australia yang jumlahnya terlalu sedikit, dibandingkan dengan pendatang dari negara Italia, Yunani, atau Tiongkok.

“Pendatang dari Indonesia kebanyakan jadi mahasiswa, bukan pendatang tetap, karenanya pengaruh mereka kepada kebudayaan Australia menjadi tidak begitu besar,” kata Dr Paul yang fasih berbahasa Indonesia saat diwawancarai ABC .

Tapi status bahasa Indonesia di negeri sendiri juga ikut memengaruhinya, karena belakangan penggunaan bahasa Inggris dianggap lebih penting atau “lebih bergengsi” di Indonesia. “Kalau statusnya naik, misalnya ada lebih banyak kerja sama dengan Malaysia untuk mempromosikan bahasa Melayu Indonesia sebagai Bahasa ASEAN.  Atau jika ada film dan musik Indonesia jadi lebih populer di ASEAN. Maka, pasti keinginan murid [Australia] untuk belajar bahasa Indonesia akan naik juga,” kata Dr Paul.

Pada November 2019 lalu, PM Scott Morrison telah bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Bangkok, Thailand dan Presiden Jokowi. Keduanya telah berjanji segera meratifikasi perjanjian perdagangan bebas kedua negara. Menurut Dr Paul jika perdagangan bebas ini diterapkan maka akan membantu minat belajar di Australia.

“Tapi jika warga Australia masih tidak berminat dengan budayanya, maka masa depan [bahasa Indonesia di Australia] tidak begitu bagus,” ujar Paul.

Ditulis oleh :

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.