Usia Berapa Anda Sadar “&” Singkatan Dua Huruf Ini?

Berbeda dengan tana baca, simbol & mempunyai riwayat unik akibat dari niat pejabat kerajaan yang ingin menyingkat dua huruf e dan t.

JEDA.ID – Beberapa simbol seperti @ atau # banyak digunakan seiring dengan meningkatnya popularitas aplikasi jejaring sosial. Jauh sebelum era ini, simbol !, ?, atau & dan beberapa tanda baca lain sudah terlebih dahulu diadopsi dan menjadi bagian yang lazim dipakai.

Saking seringnya, banyak yang merasa tak perlu mempertanyakan asal usul simbol-simbol tersebut. Seperti simbol “&” misalnya yang mulanya berasa dari bahasa latin.

Simbol “&” dikenal pula sebagai ampersan atau ampersand. Simbol “&” berasal dari bahasa Latin “et” yang maknanya sama dengan “and” dalam bahasa Inggris, serta “dan” dalam bahasa Indonesia.

Ampersand pertama kali ditemukan di Roma kuno oleh Tiro, Sekretaris pribadi Kaisar Cicero. Ia terlahir dari keluarga kaya dan dikenal sebagai orator terbesar di Roma. Marcus juga menciptakan sejumlah kosakata latin, seperti humanitas, qualitas, quantitas dan essentia.

20 Kata Unik dan Viral yang Sudah Terdaftar di KBBI Daring

Tiro menggunakan ampersand karena terburu-buru saat menulis. Namun tak disangka, singkatan itu sangat populer. Sistem singkatan itu kemudian dikenal sebagai Catatan Tironian.

Lantas simbol yang menarik lain adalah titik dan koma. Kedua simbol ini banyak diperdebatkan asal-usulnya. Namun banyak yang meyakini, simbol-simbol ini berasal dari berasal dari seorang filsuf Yunani bernama Aristophanes.

Di negara-negara demokrasi awal seperti Yunani kuno dan Romawi kuno, tempat para pejabat yang dipilih rakyat berdebat untuk mempromosikan pandangan mereka, pidato yang fasih dan persuasif dianggap lebih penting ketimbang bahasa tulisan. Dan orang harus membentang gulungan naskah sebelum membacakannya di hadapan massa.

Tak banyak orang yang bisa langsung mengerti suatu naskah dengan satu kali baca saat diminta membaca dengan lantang sebuah dokumen yang tak pernah ia kenal sebelumnya.

Lantas seorang penulis abad ke 2 bernama Aulus Gellius memprotes dan beralasan bahwa ia bisa saja keliru dalam memaknai dan memberi penekanan pada kata-kata dokumen itu.

Hal ini yang membuat banyak politikus bekerja keras. Di saat yang sama, Aristophanes menawarkan konsep baru.

Enggak Kepikiran, 17 Kata Ini yang Ternyata Ada di KBBI

Dipelopori Aristophanes

Terobosan Aristophanes adalah untuk menyarankan bahwa pembaca bisa memberi catatan pada dokumen mereka. Menghentikan aliran teks yang tak berkesudahan dengan titik-titik di bagian tengah (·), bawah (.) atau atas (·) dari setiap baris.

Bermacam titik terhubung dengan jeda pada kalimat yang pendek, menengah, dan makin panjang, dan pembaca bisa menyisipkan penanda dari apa yang disebut koma, titik dua, dan titik.

Ini bukan tanda baca seperti yang kita kenal, Aristophanes memperlakukan tanda bacanya lebih untuk menunjukkan jeda sederhana dan bukan penanda tata bahasa, tapi benih awal telah ditanam.

Tanda baca itu disempurnakan dari masa ke masa hingga pada abad ke-15. Konsep Aristophanes tersingkir dan digantikan konsep baru. Boncompagno da Signa, penulis asal Italia, mengambil peran penting dengan sejumlah tanda baca.

Ketika percetakan mulai tiba di pertengahan 1450-an, dengan penerbitan Alkitab 42 baris oleh Johannes Gutenberg, tanda baca, di luar dugaan, mendadak mandek.

Hanya ada beberapa simbol yang muncul. Seperti tanda seru (!) yang pertama kali muncul di buku Catechism of Edward VI yang dipublikasikan di London pada 1553. Simbol ini adalah gabungan dari huruf I dan O.

Saat Sastrawan HB Jassin Susun Terjemahan Puitis Al-Qur’an

Selain itu, ada Pakar aksara asal Italia Aldus Manutius the Elder membuat tanda titik koma guna memisahkan kata-kata beroposisi dan menunjukkan pertanyaan terkait satu sama lain.

Titik koma digunakan secara luas untuk pertama kalinya di Inggris pada 1591. Ben Jonson, penulis terkenal Inggris menjadi orang pertama yang menggunakan titik koma secara sistematis. Shakespeare kerap pula menggunakan tanda ini dalam puisinya.

Selebihnya, banyak simbol yang ditemukan sebelumnya menjadi paten dan diperkenalkan sebagai hal umum dalam penulisan.

Titik koma dan tanda seru bergabung dengan titik dua dan tanda tanya; dan titik-titik Aristophanes mendapatkan kedudukan terakhir sebagai titik. Setelah itu evolusi tanda baca berhenti mati, dihadang oleh standarisasi yang diberlakukan oleh percetakan.

Baru sekarang, ketika jaringan informasi dan Internet berkembang luas, tanda baca kembali menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Ada banyak simbol yang kembali muncul mulai dari hashtag, at, hingga sejumlah simbol lain.

10 Bahasa Daerah Paling Eksis di Tengah Kampanye Penggunaan Bahasa Indonesia

Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.