Ketika Dua Garis Biru Tak Terbendung

 Dua Garis Biru menjadi wadah untuk berdiskusi tentang pernikahan dini yang masih dianggap tabu di Indonesia.

JEDA.ID–Pro dan kontra sempat menyeruak ketika film Dua Garis Biru akan tayang di bioskop. Ibarat menjadi ”bumbu promosi”, film ini mampu meraup 2 juta penonton dalam waktu dua pekan.

Bila menggunakan perhitungan kasar, pendapatan kotor dari film ini mencapai Rp80 miliar. Dua Garis Biru pun merangsek ke urutan ketiga film Indonesia terlaris sepanjang 2019.

Sutradara Dua Garis Biru, Gina S. Noer, bersyukur dan mengaku tak pernah membayangkan film debutnya disambut sehangat ini. Tema film ini berawal dari pergumulan batinnya sebagai seorang ibu.

”Ternyata orang-orang juga menganggap tema ini penting. Banyak orang mengirim pesan langsung via medsos, menyatakan film ini mengubah hidup mereka. Banyak juga guru yang mengajak murid menonton bareng untuk mencegah terjadinya kesalahan besar,” terang Gina S. Noer sebagaimana dikutip dari Liputan6.com, Kamis (25/7/2019).

Momen membaca pesan langsung dari masyarakat tak kalah bermakna dari jumlah penonton yang telah diraih. Gina S. Noer juga membaca ulasan sejumlah media dan pemerhati film tentang Dua Garis Biru.

“Di antara ulasan itu, banyak yang mengingatkan angka aborsi harus ditekan, pernikahan dini semestinya tidak terjadi, mengapa angka kematian ibu dan janin harus segera disikapi. Inilah sinema sesungguhnya, inilah cerita yang menyatukan kita semua,” kata dia.

Dua Garis Biru menceritakan kisah cinta sepasang anak muda, yakni Dara yang diperankan Zara JKT48 dan Bima yang diperankan Angga Yunanda.  Kisah percintaan mereka dipenuhi dengan tawa, canda serta romansa anak sekolahan. Jalinan asmara dua anak muda ini didukung keluarga serta teman-teman terdekat mereka.

Kegembiraan itu kemudian hilang saat Dara hamil. Semua dukungan yang mereka dapatkan dari keluarga dan teman turut menghilang.  Keduanya kemudian menghadapi hal-hal yang tak pernah dibayangkan oleh anak berusia 17 tahun. Mereka pun harus mempertanggungjawabkan hal tersebut.

Gina mengatakan film ini memiliki pesan pentingnya edukasi seks sedini mungkin kepada anak-anak. Dua Garis Biru juga menjadi wadah untuk berdiskusi tentang pernikahan dini yang masih dianggap tabu di Indonesia.

Komentar Penonton

Sebelum penayangan, Dua Garis Biru sempat memantik kontroversi karena dianggap melegalkan seks pranikah. Namun, film yang telah lulus sensor untuk kategori 13+ ini malah menarik banyak penonton. Salah satunya Theresia, 22. Ia mengatakan film ini mengajarkan pentingnya pembelajaran mengenai seks.

”Ceritanya itu sex educations ya. Itu cocok banget untuk anak-anak atau remaja. Karena kadang kalau di sekolah enggak diajarin secara mendalam masalah reproduksi, mungkin karena hal tabu. Biasanya hanya dikasih tahu alat-alat reproduksi aja,” kata Theresia.

Hal serupa juga disampaikan oleh Rio, mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Menurutnya, film ini sangat bagus karena mengajarkan agar anak di bawah umur tidak melakukan hubungan suami istri.

“Menurut saya filmnya sangat bagus. Film ini mengajarkan kalau masih di bawah umur jangan ngelakuin hal seperti itu. Walaupun mau bertanggung jawab tapi masih di bawah umur ya bagaimana? Dan imbasnya juga dirasakan oleh keluarga. Jadi cocok untuk pembelajaran remaja atau anak-anak di bawah umur agar mereka tidak berbuat hal serupa,” kata dia.

Ditulis oleh : Ardea Ningtias Yuliawati/Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.