Flu Babi Afrika Menyebar, 100.000 Babi Dibantai

Risiko masuknya ASF ke Indonesia bisa melalui terbawanya virus pada produk-produk makanan yang mengandung babi yang dibawa oleh turis China.

JEDA ID–Flu babi selalu menjadi ancaman untuk industri peternakan babi di seluruh dunia. Penyakit ini mampu menyebar dengan cepat jika tidak segera ditangani. Flu babi Afrika bisa berakibat fatal dan berujung kematian pada ternak.

Flu babi dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi. Babi hutan diidentifikasi sebagai salah satu dari beberapa kemungkinan penyebaran flu babi. Penyakit ini juga mampu menyebar melalui serangga seperti kutu.

Setelah pada 2007 lalu flu babi menyerang Georgia di Eropa, kali ini flu babi Afrika (ASF) menyerang Bulgaria bagian utara. Saat ini ada sekitar 20 peternakan yang diduga terkena flu babi Afrika.

Dalam kurun waktu dua pekan terakhir sudah ada 100.000 babi dari 4 peternakan yang dibantai untuk menghindari penyebaran flu babi.
Parameter sejauh 3 dan 10 km dari area peternakan yang terdampak dibuat untuk menghindari penularan flu lebih luas. Sementara itu, Yunani sudah mengeluarkan larangan impor daging babi dari Bulgaria semenjak penyakit flu babi pecah.

Sebelumnya, DNA flu babi ditemukan dalam sosis daging yang dibawa oleh penumpang pesawat di Irlandia. Penelusuran lebih lanjut menunjukkan sosis daging tersebut berasal dari China. Di Asia, flu babi sudah menjadi topik hangat sejak indikasi flu babi ditemukan di beberapa peternakan di Vietnam.

Pertemuan ASEAN Sectoral Working Group on Livestock (ASWGL) yang diselenggarakan pada 24-26 April 2019 di Bali juga membahas mengenai penyebaran flu babi di ASEAN.

Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Fadjar Sumping Tjatur Rasa mengatakan Indonesia perlu waspada dengan kasus flu babi Afrika ini.

”Risiko masuknya ASF ke Indonesia bisa melalui terbawanya virus pada produk-produk makanan yang mengandung babi yang dibawa oleh turis China. Juga sisa makanan dari kapal atau pesawat terbang ke wilayah Indonesia, khususnya yang mempunyai populasi babi tinggi seperti Bali dan Manado.”

Fadjar menyampaikan flu babi Afrika saat ini telah menyebar di Mongolia, China, dan 2 negara anggota ASEAN, yakni Vietnam dan Kamboja.

”ASF merupakan penyakit hewan yang bersifat lintas batas. Sehingga penyebarannya perlu diwaspadai oleh negara-negara disekitar wilayah yang tertular,” ungkap dia.

Sebagaimana dilansir dari Bangkokpost, PBB memberikan laporan 3,7 juta babi telah dimusnahkan semenjak pecahnya wabah flu babi Agustus 2018 lalu di China. Vietnam telah memusnahkan 2,6 juta babi. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan China yang memusnahkan sekitar 1,1 juta babi.

Seorang petani bernama Nguyen Van Hoa dari Vietnam mengatakan hanya tiga babinya saja yang mati karena flu tersebut, tetapi 40 ekor babi lainnya ikut dimusnahkan. Pada pertengahan Mei, Vietnam melaporkan sekitar 1,2 juta babi telah mati atau dimusnahkan.

Kerugian tersebut dinilai mencapai US$18 miliar atau Rp243 Triliun. Angka tersebut telah meningkat hingga 2,6 juta babi pada akhir Juni.

Indonesia bisa terkena dampak dari kenaikan harga daging babi. Pada 2017, Indonesia tercatat mengekspor babi sejumlah 59,8 juta. Jika harga terus naik, maka ekspor daging babi Indonesia juga terancam turun.

Ditulis oleh : Akhdan Fahmi/Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.