• Mon, 3 October 2022

Breaking News :

Fakta-Fakta di Balik Virus Corona Disebut Melemah

Hingga kini total kasus virus Corona di seluruh dunia hampir menyentuh 8 juta orang. Namun muncul dugaan dari beberapa dokter tingkat keparahan penyakit virus Corona Covid-19 sedikit melemah atau menurun.

JEDA.ID– Hingga kini total kasus virus Corona di seluruh dunia hampir menyentuh 8 juta orang. Namun muncul dugaan dari beberapa dokter tingkat keparahan penyakit virus Corona Covid-19 sedikit melemah atau menurun.

Benarkah demikian?

Dikutip dari detikcom dari Healthline, dokter di Pusat Medis Universitas Pittsburgh (UPMC) misalnya, mengatakan pasien Corona tampaknya tidak memiliki keparahan seperti sebelumnya. Saat dites, pasien Corona menunjukkan viral load atau jumlah virus lebih rendah daripada pasien Corona yang dirawat sebelumnya.

Menurut dokter di UPMC, jumlah pasien Covid-19 yang membutuhkan ventilator juga mengalami penurunan. Tren serupa baru-baru ini diamati di Italia. Seorang dokter Italia mengatakan bahwa virus Corona semakin melemah karena beberapa orang di Italia yang baru didiagnosis terinfeksi Corona menunjukkan jumlah virus lebih rendah daripada mereka yang dites sebulan lalu.

Tidak sedikit para ahli mengkritisi dugaan ini. Dikatakan bahwa belum ada kesimpulan dan cukup bukti yang benar-benar menjelaskan virus Corona semakin melemah.

Dikutip dari Healthline dam sumber lain, berikut 3 fakta di balik virus Corona disebut semakin melemah.

Kisah Kathy Sullivan, Perempuan Pertama Capai Titik Terdalam di Dunia

Tidak ada bukti virus Corona bermutasi menjadi lebih lemah

Para ahli kesehatan mengatakan tidak ada bukti bahwa virus Corona telah bermutasi menjadi versi yang lebih lemah. Penelitian menunjukkan virus telah bermutasi adalah hal yang normal. Namun tidak ada bukti bahwa virus tersebut mengalami lebih banyak mutasi yang mempengaruhi tingkat keparahan penyakit yang ditimbulkannya.

“Saya kira kita belum memiliki bukti mengenai hal ini,” kata Dr Heidi Zapata, seorang dokter penyakit menular dan asisten profesor kedokteran Yale di sekolah kedokteran.

Amesh Adalja, seorang dokter penyakit menular dan sarjana senior untuk Pusat Keamanan Kesehatan Universitas Johns Hopkins, mencurigai perubahan dalam perilaku virus Corona baru disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor pertama adalah pengujian.

“Pada awal pandemi, kami belum meningkatkan pengujian, dan ada penundaan antara ketika orang mengembangkan gejala dan ketika mereka diuji,” kata Adalja.

“Sekarang seluruh dunia lebih tanggap dalam melakukan tes massal. Kami juga menguji lebih banyak orang dengan gejala yang lebih ringan yang mungkin memiliki viral load yang lebih rendah. Kami menjadi jauh lebih baik dalam pengujian, dan kami menguji jauh lebih cepat sekarang,” demikian menurut Adalja.

Menurut Adalja, jumlah virus yang terpapar pada seseorang saat terinfeksi Corona memengaruhi viral load mereka di kemudian hari.

“Mungkin orang terinfeksi dengan jumlah virus yang lebih rendah sekarang karena begitu banyak jarak sosial telah dilakukan,” kata Adalja.

Bisakah karena pengaruh cuaca?

Hal yang juga menjadi pertanyaan apakah cuaca panas berpengaruh pada penularan virus Corona Covid-19. Studi awal menemukan panas dan udara kering dapat membantu mencegah virus Corona bertahan hidup di permukaan.

Namun virus ini utamanya menyebar melalui percikan yang keluar saat seseorang batuk dan bersin, bukan melalui kontaminasi permukaan. “Orang harus mencatat bahwa peningkatan Covid-19 di negara tropis dapat bertentangan dengan gagasan bahwa dengan musim panas akan datang akhir Covid-19,” kata Zapata.

Zapata mengatakan jelas kemungkinan bahwa faktor lingkungan seperti sinar ultraviolet, panas, dan kelembaban memang memengaruhi perilaku virus. Sebagai contoh, influenza menjadi lebih menular selama bulan-bulan musim dingin karena udara yang dingin dan kering. Namun, masih belum diketahui pasti bagaimana cuaca dan lingkungan akan memengaruhi coronavirus baru, catat Zapata.

Kami tidak memiliki jawaban yang jelas tentang mengapa virus tampaknya berubah. “Saya pikir penting untuk belajar untuk melihat apa yang sedang terjadi,” kata Adalja.

Para peneliti harus melihat semua pasien dan karakteristik penyakit mereka pada awal pandemi dan sekarang untuk mengidentifikasi perubahan dalam viral load atau lintasan penyakit orang. Adalja mengatakan kami membutuhkan lebih banyak data untuk membantu kami memahami jika ada fenomena nyata yang terjadi di sini.

Menakar Kekuatan Tangkal Corona, Golongan Darah O Lebih Kuat dari A?

Tidak semematikan dibanding sebelumnya

Beberapa waktu lalu, seorang dokter senior Italia sekaligus kepala Rumah Sakit San Raffaele di Milan, Alberto Zangrillo mengatakan bahwa virus Corona baru kini kehilangan potensinya.

Menurutnya, virus penyebab Covid-19 ini sudah tidak semematikan saat awal-awal menyebar. “Pada kenyataannya, virus ini secara klinis tidak ada lagi di Italia. Dari tes swab yang dilakukan selama 10 hari terakhir ini menunjukkan viral load secara kuantitatif hasilnya sangat kecil, dibandingkan dengan 1-2 bulan lalu,” ujarnya seperti dikutip detikcom dari sebuah media online.

Namun demikian, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menangkis pernyataan Zangrillo. Ahli epidemologi WHO, Maria Van Kerkhove, dan beberapa ahli lain mengatakan pernyataan Zangrillo tidak didukung bukti ilmiah.

Diragukan WHO

WHO menyebut bahwa pernyataan Zangrillo tidak disertai dengan data yang menunjukkan virus Corona itu sudah berubah secara signifikan. Baik dari segi penularan atau tingkat keparahan penyakit yang ditimbulkannya.

“Dalam hal penularan, itu tidak berubah. Dalam hal keparahan, itu juga tidak berubah,” kata Van Kerkhove yang dikutip dari South China Morning Post, Selasa (2/6/2020).

Pemerintah Italia juga mendesak untuk menunggu terlebih dulu bukti ilmiah tentang virus Corona. Mereka merasa terlalu dini untuk mengklaim negaranya sudah menang dari virus.

“Perlu menunggu bukti ilmiah yang mendukung bahwa virus telah hilang. Saya akan mengundang mereka [para ahli] agar tidak membingungkan warga Italia lagi,” jelas Sandra Zampa, salah satu pejabat di Kementerian Kesehatan Italia.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.