Bukan Mobnas, Ini Prediksi Harga Mobil Esemka

PT SMK menunjukkan komponen lokal yang digunakan seperti tangki BBM, kaca mobil, sasis, blok mesin hingga transmisi dari dalam negeri.

JEDA.ID–Pabrikan mobil Esemka enggan disebut sebagai mobil nasional alias mobnas. PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) yang menggarap mobil Esemka fokus bermain di model pikap dan masih merahasiakan harga mobil Esemka.

”Kami bukan mobil nasional, hanya mobil yang diproduksi di Indonesia. Jadi, jangan salah persepsi, karena pengertian mobil nasional itu luas,” kata Presiden Direktur PT SMK, Eddy Wirajaya, sebagaimana dikutip dari Liputan6.com, Selasa (13/8/2019).

PT SMK mengaku berkonsentrasi ke model pikap yang diberi nama Bima. Model ini, nantinya akan diluncurkan dalam beberapa tipe, dan dibedakan antara kapasitas mesin dan ukuran mobilnya.

”Kenapa pikap? Karena itu bagian dari strategi kita sebagai manajemen. Kami ingin bagaimana menyeimbangkan daerah terpinggirkan, dan mulai dari situ,” tambah dia.

Pada April 2019, ada delapan tipe mobil Esemka lolos uji tipe di Kementerian Perhubungan pada April 2019 lalu. Tipe tersebut sudah termasuk kendaraan niaga dan penumpang.

Delapan kendaraan bensin racikan Esemka yang lolos uji tipe Kemenhub yakni Bima 1.3 (4×2) M/T, Bima 1.8D (4×2) M/T, Bima 1.0 (4×2) M/T, Bima 1.2 (4×2) M/T, Bima 1.3 M/T, Digdaya 2.0 (4×2) M/T, Borneo 2.7D (4×2) M/T, dan Garuda 2.0 (4×4) M/T.

Mayoritas Pikap

Bila dilihat dari delapan tipe mobil yang lolos uji tipe, lebih dari separuhnya seri Bima alias mobil pikap. Dilihat dari ukuran mesinnya, lima jenis Bima ada yang menggendong mesin 1.000 cc, 1.200 cc, dua tipe 1.300 cc, dan satu tipe 1.800 cc.

Lalu berapa kira-kira harga mobil Esemka? PT SMK belum pernah secara resmi mengumumkan jenis yang akan dipasarkan termasuk pula mengenai harga mobil Esemka di pasaran.

Namun, ada dua jenis tipe mobil Esemka yang masuk dalam Permendagri Nomor 14/2019 tentang Penghitungan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Tahun 2019.

mobil Esemka

Logo Esemka (Liputan6.com)

Dua tipe kendaraan yang terdaftar adalah model sport utility vehicle (SUV) Esemka Garuda I dan model pikap Esemka Bima. Dalam lampiran permendagri itu disebutkan nilai jual kendaraan bermotor (NJKB) Esemka Garuda I 2.0 Rp209 juta sedangkan mobil Esemka Bima I 1.2 senilai Rp81 juta.

Sebelumnya, beberapa jenis mobil Esemka sudah lebih dahulu masuk dalam Permendagri No. 103/2018 tentang Penghitungan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Tahun 2018.

Ada Esemka Borneo 2.7D M/T dengan NJKB Rp230 juta, Bima 1.0 M/T NJKB-nya Rp40 juta, Bima 1.8D M/T Rp55 juta. Kemudian terakhir ada Digdaya 2.0 M/T dengan NJKB Rp195 juta.

Namun, NJKB tak bisa menjadi patokan harga mobil Esemka karena akan ada beberapa jenis pajak yang belum dibebankan ke kendaraan sehingga bisa saja harganya lebih tinggi. “Saat ini kami tetap on progress, menyiapkan fasilitas [perakitan], dan tipe kendaraannya,” jelas Eddy.

Komponen Lokal

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kemenperin, Harjanto, berharap mobil Esemka bisa memakai banyak komponen lokal. Dengan menggunakan komponen dalam negeri, maka konten lokal dari sebuah produk bisa terus ditingkatkan.

”Kalau kita lihat di LCGC, sudah 80 persen [tingkat komponen dalam negeri] itu sudah dibuat komponen lokal. Itu yang disebut sebagai national car, meskipun brand memang LCGC itu asing. Kebetulan, Esemka di Solo, dan merupakan brand lokal, kami berharap ini jadi mobil nasional utuh, bukan hanya lokal konten tapi brand-nya juga,” kata dia sebagaimana dikutip dari Liputan6.com.

PT SMK mengikuti pameran komponen lokal yang digelar Kemenperin. PT SMK memajang beberapa komponen lokal yang sudah digunakan, seperti tangki BBM dari PT Inka, kaca depan dari Armada Inda Agung Glass, sasis dari PT Inka, blok mesin dan transmisi dari Cikarang Perkasa Manufacturing, dan shockbreaker dari Indospring.

Brand lokal yang baru seharusnya menggunakan komponen lokal. Dimulai dari engine sampai steering system. Kita perlu menunjukkan potensi dalam negeri,” kata Harjanto.

Dia mendorong PT SMK segera memasarkan produk mereka ke publik. Sebab, pemerintah telah memberikan banyak insentif fiskal untuk perpajakan dan dapat dimanfaatkan oleh produsen mobil Esemka.

Mobil Esemka ini juga akan mendapatkan insentif seperti mobil-mobil lainnya sehingga diharapkan bisa bersaing. Paling tidak bersaing untuk pasar domestik.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.