Alasan Pemindahan Ibu Kota di 5 Negara

Beragam alasan menjadi pemicu pemindahan ibu kota seperti polusi, bencana, hingga berada di tengah-tengah negara.

JEDA ID–Wacana pemindahan ibu kota Indonesia dari Jakarta ke luar Pulau Jawa bergulir kencang. Banyak negara lain yang sudah lebih dahulu memindahkan ibu kota mereka. Alasan pemindahan ibu kota ini pun beragam seperti faktor alam hingga etnis.

Rencana pemindahan ibu kota Indonesia ke Kalimantan salah satu alasannya adalah faktor bencana. Kalimantan dinilai paling minim potensi bencana dibandingkan dengan daerah lainnya.

Berikut lima negara yang memindahkan ibu kota negara mereka.

Nigeria

Kota Lagos yang berada di pesisir pantai ini telah menjadi ibu kota Nigeria sejak 1914. Pada 1976, Kepala Negara Jendral Murtala R. Mohammed mengumumkan Kota Abuja akan menjadi ibu kota baru bagi Nigeria.

Alasan pemindahan ibu kota ke Abuja karena daerah ini dinilai lebih netral dan tidak memihak etnis atau kaum beragama manapun di Nigeria. Pembangunan Kota Abuja dimulai pada 1980 dan akhirnya diresmikan sebagai ibu kota pada 12 Desember 1991. Kota seluas 1.769 kilometer persegi ini sudah ditinggali oleh 1,2 juta penduduk.

Mesir

Kairo telah berdiri sejak 1.000 tahun lalu. Kota yang terletak di tepi Sungai Nil ini menjadi rumah bagi 24 juta penduduknya. Untuk menghindari kemacetan dan merencanakan ekonomi yang lebih baik, pemerintah Mesir merencanakan pembangunan ibu kota baru.

Presiden Abdel Fattah al-Sisi memutuskan untuk membangun ibu kota yang nantinya berada 45 Km sebelah timur Kairo. Kota ini diperkirakan mencapai 700 kilometer persegi dan mampu menampung 5 juta penduduk. Ibu kota baru ini diprediksi akan seluas Singapura.

Alasan pemindahan ibu kota Mesir adalah untuk mengurangi polusi di Kairo. Rencananya sekitar 2.000 lembaga pendidikan, 663 klinik dan rumah sakit, 1.250 masjid dan gereja, 40.000 hotel, dan taman hiburan yang luasnya empat kali Disneyland akan dibangun di kota ini. Namun, sampai saat ini belum ada kepastian dari pemerintah Mesir mengenai ibu kota baru ini.

Kazakhstan

Almaty menjadi ibu kota Kazakhstan ketika negara itu resmi merdeka dari Uni Soviet pada 1991. Namun, perkembangan penduduk dan ekonomi di Almaty membuat ruang kota semakin sempit dan sulit berkembang.

Selain itu, daerah Almaty rawan terkena gempa dan terlalu dekat dengan perbatasan Tiongkok . Akhirnya pemerintah memutuskan untuk memindah ibu kota Kazakhstan ke Astana yang terletak 1.200 kilometer sebelah utara Almaty.

Astana resmi menjadi ibu kota Kazakhstan pada Desember 1997. Pada Maret 2019 lalu, nama Astana dirubah menjadi Nursultan untuk menghormati presiden Kazakhstan sebelumnya Nursultan Nazarbayev.

Brasil

Rio de Janeiro telah menjadi ibu kota Brasil selama hampir 200 tahun. Namun, kemacetan dan populasi yang membeludak membuat Rio de Janeiro sulit dijadikan pusat pemerintahan.

Pemerintah akhirnya memindahkan ibu kota Brasil menuju Brasilia yang terletak 1.100 kilometer dari Rio de Janeiro. Pembangunan Brasilia sudah dimulai sejak 1956 dan pada 21 April 1960 Brasilia diresmikan menjadi Ibu kota Brasil.

Brasilia terletak di tengah negara Brasil untuk memicu perkembangan ekonomi. Selain itu, Brasilia memiliki tata kota yang baik dan dinobatkan UNESCO sebagai kota dengan arsitektur modern.

Myanmar

Kota Yangon atau yang biasa disebut Rangoon telah menjadi ibukota Myanmar sejak 1948. Sampai pada 6 November 2005 lalu pemerintah Myanmar memindahkan ibu kota ke Naypydaw.

Naypydaw dianggap cocok dijadikan sebagai ibu kota karena memiliki posisi yang strategis. Kendati demikian, kota Naypydaw mendapat julukan “kota hantu” karena suasananya yang sepi.

Ibu kota Myanmar ini memiliki banyak destinasi wisata yang ditawarkan. Harga di kota ini relatif murah dan kota yang relatif aman. Sayang tak banyak orang yang berniat datang.

Ditulis oleh : Akhdan Fahmi/Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.