5 Wabah yang Lebih Mengerikan dari Virus Corona 2019-nCov

Selain 2019-nCov ada sejumlah wabah mematikan di dunia dari tahun ke tahun yang menyebabkan ratusan, ribuan bahkan jutaan nyawa melayang.

JEDA.ID – Dunia kembali menghadapi teror wabah mematikan virus corona 2019-nCov. Hingga 24 Januari 2020, setidaknya sudah 25 orang meninggal dalam beberapa pekan setelah virus itu teridentifikasi.

Wabah mematikan ini telah adalah evolusi nCov lama yang dulu menyebabkan SARS. Sudah ada banyak wabah penyakit mematikan yang banyak menelan korban. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut deretan wabah virus mematikan di dunia dari waktu ke waktu;

Ebola

Dilansir The Atlantic, 4 Maret 2019, Virus Ebola tersebar luas di Afrika Barat dan menewaskan lebih dari 11.000-an jiwa. Virus ini bermula dari seekor kelelawar yang menggigit anak umur satu tahun di Guinea-Conakry, Afrika.

Ebola adalah penyakit akibat infeksi virus mematikan, yang bisa menyebabkan demam, diare, serta perdarahan di dalam tubuh penderitanya. Hanya 10% penderita Ebola yang selamat dari infeksi virus ini, tetapi penyakit ini jarang terjadi.

Gejala awal Ebola adalah demam, sakit kepala, menggigil, nyeri otot dan sendi, serta tubuh terasa lemah. Gejala awal ini muncul dalam 2-21 hari setelah kontak dengan penderita.

Penyakit ini sempat dicurigai sebagai salah satu penyebab wabah bubonik Black Death karena gejalanya yang mirip, namun beberapa ilmuwan membuktikan bahwa hal tersebut salah.

Menurut catatan Julia Filip berjudul Avoiding the Black Plague Today (2014) Bubonik Black Death atau Bubonik Plague meletup pada dekade 1330, di suatu tempat di Asia dan langsung menyebar ke seluruh benua, khususnya di Eropa. Wabah ini menular akibat bakteri Yersinia Pestis, setelah menumpang armada tikus dan kutu yang langsung menyebar ke tubuh manusia secara cepat dan mematikan.

5 Penyakit Mematikan Ini Diduga Bukan dari Bumi

SARS

Severe Acute Respiratory Syndrome atau yang biasa dikenal dengan singkatan SARS adalah salah satu jenis penyakit pneumonia. Mengutip catatan WHO, SARS pertama kali ditemukan menyebar di Cina pada November 2002.

Penyakit tersebut kemudian menyebar dengan cepat ke seluruh dunia dan mewabah di 29 negara dalam beberapa bulan saja, lewat penyebaran dari para penderita berupa turis dan masyarakat Cina yang melakukan perjalanan ke luar negeri.

Meskipun diketahui bahwa 9 dari 10 penderita SARS dapat sembuh dari penyakit tersebut, SARS merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kematian apabila penderita tidak diberikan penanganan segera yang tepat.

Pada 16 November 2002, tepat hari ini 17 tahun lalu, kasus pertama penyakit pernapasan akut terjadi di Kota Foshan, Provinsi Guangdong, Cina. Ketika itu tenaga medis di Cina gagal mendeteksi jenis penyakit yang kemudian mewabah di dunia.

Karena penyebaran yang relatif mudah dan cepat, di tahun 2003 epidemi SARS meluas hingga ke 26 negara dengan jumlah terlapor lebih dari 8.000 kasus.

Berturut-turut virus tersebut sampai ke Thailand, Irlandia, Amerika Serikat, dan akhirnya ke Indonesia pada Mei 2003 lewat seorang WNI yang melakukan perjalanan dari Singapura. Pada 15 Maret 2003 WHO menjuluki ancaman kesehatan dunia itu dengan sebutan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Hingga 12 Februari 2013 total sudah ada 305 kasus pernapasan akut yang terdeteksi di Guangdong. Tapi selama tiga bulan itu pemerintah Cina memilih menyembunyikan epidemi dari sorot dunia demi menjaga harkat negara. Mereka berusaha sendiri menangani epidemi itu.

Akhirnya pada 14 Februari 2003 mereka menyerah dan membuka informasi tersebut kepada WHO. Meski masih disisipi pernyataan bahwa wabah telah terkendali plus mereduksi data pasien terinfeksi.

Walaupun sudah melewati masa wabah, SARS hingga kini masih menjadi ancaman serius di dunia kesehatan. Pada 2004 memang pernah ada percobaan vaksin SARS, tapi nyatanya sampai sekarang belum ada obat atau antivirus yang bisa jadi penangkal virus ini.

Pandemik Flu

Dari arsip The Nation’s Health di flu.gov, 31 Maret 2016, pada tahun 1918, bala tentara di parit-parit Prancis utara mulai mati dalam jumlah besar akibat epidemi ganas yang dijuluki dengan Flu Spanyol. Wabah yang berasal dari virus H1N1 ini pun menyebar ke seluruh benua, dan membunuh banyak jiwa seluruh dunia.

Dalam beberapa bulan saja, sekitar setengah miliar orang, sepertiga populasi global, ambruk oleh virus itu. Di India, virus tersebut membunuh 5 persen populasi. Di Tahiti, 14 persen penduduk mati. Akibat dari virus Flu Spanyol, 50 juta-100 juta mati dalam waktu kurang dari setahun.

Selain itu ada pula Flu Asia yang merupakan wabah pandemi Influenza A subtipe H2N2, yang berasal dari China. Wabah ini terjadi pada 1956 dan berlangsung hingga tahun 1958.

Dalam masa dua tahun, Flu Asia menyebar dari provinsi Guizhou, China, Singapura, Hong Kong dan Amerika Serikat. Perkiraan jumlah korban meninggal karena Flu Asia bervariasi, tergantung pada sumbernya. Tetapi WHO menempatkan penghitungan akhir sekitar 2 juta kematian, 69.800 di antaranya dari Amerika Seeikat saja.

Pandemik flu lain yang cukup mematikan adalah kategori 2 atau yang disebut sebagai Flu Hong Kong ini terjadi pada 1968. Penyakit ini disebabkan oleh strain H3N2 dari virus Influenza A, suatu cabang genetik dari subtipe H2N2.

Dari kasus pertama yang dilaporkan pada 13 Juli 1968 di Hong Kong, hanya butuh 17 hari sebelum wabah virus dilaporkan di Singapura dan Vietnam. Dalam tiga bulan selanjutnya, penyakit tersebut juga menyebar ke Filipina, India, Australia, Eropa dan Amerika Serikat.

Sementara pandemi 1968 memiliki tingkat kematian yang relatif rendah yakni 0,5 persen. Kondisi ini masih mengakibatkan kematian lebih dari satu juta orang, termasuk 500.000 penduduk Hong Kong atau sekira 15 persen dari populasi saat itu.

Flu Babi Afrika Menyebar, 100.000 Babi Dibantai

Kolera

Jumlah angka kematian dari pandemi kolera pertama belum diketahui hingga saat ini. Namun telah diketahui bahwa asalnya dari India, yang lalu tersebar luas di berbagai belahan dunia yang menewaskan puluhan juta orang.

John Hays, penulis buku Epidemics and Pandemics: Their Impacts on Human History menyebutkan dalam bukunya ada beberapa data korban yang didapatkan. Yaitu perkiraan ada 30.000 orang terjangkit kolera di Bangkok, dan 1.225 orang tewas di Semarang, Indonesia, pada April 1821.

Dari BBC, disebutkan juga bahwa pandemi ini sempat berlanjut hingga tahun 1832 dan tersebar ke wilayah Inggris utara. Sekarang penyakit ini sedang menjadi outbreak yang cukup serius di Yaman.

Penyakit kolera adalah penyakit infeksi saluran usus bersifat akut yang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae, bakteri ini masuk kedalam tubuh seseorang melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi.

Pandemi Kolera ke-6 berasal dari India. Wabah ini menewaskan lebih dari 800.000 jiwa, sebelum menyebar ke Timur Tengah, Afrika Utara, Eropa Timur, dan Rusia.

Pandemi Kolera ke-6 juga merupakan sumber wabah Kolera Amerika terakhir, yang terjadi pada 1910 hingga 1911. Otoritas kesehatan Amerika, setelah belajar dari masa lalu, dengan cepat berusaha mengisolasi yang terinfeksi. Pada akhirnya hanya 11 kematian terjadi di Amerika Serikat. Pada 1923, kasus kolera telah berkurang secara dramatis, meskipun masih konstan di India.

AIDS

Wabah ini pertama kali diidentifikasi di Republik Demokratik Kongo pada 1976. Wabah HIV/AIDS benar-benar membuktikan dirinya sebagai pandemi global, menewaskan lebih dari 36 juta orang sejak 1981.

Saat ini sekira 31 juta hingga 35 juta orang yang hidup dengan HIV. Sebagian besar dari mereka berada di Afrika Sub-Sahara, yang mana 5 persen dari populasi terinfeksi atau sekira 21 juta orang.

Ketika kesadaran telah tumbuh, perawatan baru telah dikembangkan. Hal ini membuat HIV jauh lebih mudah dikelola. Banyak dari pasien yang terinfeksi, bisa tetap menjalani kehidupan yang produktif.

Pada 2005 hingga 2012, kematian global tahunan akibat HIV/AIDS turun dari 2,2 juta menjadi 1,6 juta.

Pengidap Pertama AIDS hingga Menyebar ke Seluruh Dunia

Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.