Usia Muda Juga Rawan, Ini Kisah Superspreader yang Tak Sadar Jadi Penyebar

Juru bicara penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyatakan kelompok usia muda dengan imunitas yang bagus pun juga rawan tertular atau pun penyebar virus corona, bahkan gejalanya sangat minim.

JEDA.ID – Juru bicara penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyatakan kelompok usia muda dengan imunitas yang bagus pun juga rawan tertular atau pun tak sadar jadi penyebar virus corona, bahkan gejalanya sangat minim.

“Data yang kita miliki dan data secara global, memang pada kelompok usia muda memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik, namun harus dipastikan bahwa bukan berarti kelompok muda ini tidak bisa terkena.  [Mereka] bisa terkena dan tanpa gejala,” kata Yuri dikutip dari laman resmi Kemenkes Senin (23/3/2020).

Tanpa gejala inilah yang menjadi salah satu faktor persebaran yang semakin cepat. Yang bersangkutan tidak menyadari telah terjangkit Covid-19 dan tidak melakukan isolasi mandiri dirumah.

“Inilah menjadi hal yang mendasar sehingga persebarannya semakin cepat. Apabila ini menular ke saudara-saudara kita yang usianya lebih tua dan rawan maka ini akan menjadi masalah yang serius untuk keluarga kita,” jelasnya.

Pencegahan

Pihaknya meminta agar kelompok muda memahami benar risiko ini sehingga upaya pencegahan terhadap penularan dan persebaran bisa terus dilakukan dengan meningkatkan kewaspadaan.

“Meskipun masih merasa muda masih merasa kuat, perhatikan betul bahwa kita menjadi salah satu sumber penularan bagi keluarga kita.”

Yuri mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama, berkomitmen penuh melaksanakan imbauan pemerintah untuk mengurangi aktivitas di luar rumah.

“Oleh karena itu patuhi benar imbauan dari pemerintah untuk lebih banyak dirumah dan semaksimal mungkin tidak keluar rumah, ini yang menjadi penting untuk melakukan pencegahan,” ujarnya.

Penyebab dari wabah ini adalah coronavirus jenis baru yang disebut dengan novel coronavirus 2019 (2019-nCoV). Penyakit ini termasuk dalam golongan virus yang sama dengan virus penyebab severe acute respiratory syndrome (SARS) dan Middle-East respiratory syndrome (MERS).

Hingga saat ini, belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan infeksi virus Corona. Oleh sebab itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengimbau agar masyarakat tidak memandang sepele penyakit ini dan senantiasa melakukan tindakan pencegahan. Salah satunya adalah dengan menerapkan social distancing.

Rajin Mencuci Tangan Tanpa Bikin Kulit Kering, Begini Caranya

Kadang Tidak Sadar Jadi Penyebar

Meski terdengar keren, superspreader sama sekali beda dengan superhero yang kerap menjadi bagian dari dunia khayal manusia. Superspreader bukan tokoh penolong, dia justru penyebar petaka. Malangnya, seorang superspreader kadang tidak sadar jika dirinya sudah menjadi penyebar petaka tersebut.

Septian Hartono, praktisi kesehatan dan peneliti MRI di salah satu rumah sakit umum di Singapura yang juga menjadi asisten profesor di Duke-NUS Medical School, memberi penjelasan soal apa yang dimaksud superspreader.

“Superspreader adalah sebutan bagi orang yang menyebabkan orang lain sakit dengan jumlah yang jauh lebih banyak dari biasanya Data [WHO] menyebutkan bahwa orang yang sakit Covid-19 dapat menyebabkan 2-3 orang lain sakit. Namun, seorang superspreader Covid-19 dapat menularkan kepada 10 orang sampai puluhan kali lipat dibanding orang biasa,” ujarnya. Berikut kisah-kisah sejumlah superspreader di dunia seperti dilansir dari berbagai sumber.

Pasien #31 di Korea Selatan

Pasien #31 menjadi pembuka sarang penularan lokal (local transmission) di kota Daegu dan Cheongdo. Pasien #31 adalah seorang ajumma (sebutan untuk perempuan berumur di atas 50 tahun) dan pengikut sekte Shincheonji.

Ia disebut jadi penyebar secara langsung ke setidaknya 43 orang pemeluk sekte ini. Dia hadir dalam kebaktian empat kali walaupun dalam kondisi tidak sehat. Sekali kebaktian, ada 1.000 orang yang hadir. Selama kebaktian para penganutnya duduk bersimpuh, berbagi makanan, dan yang sakit tidak menggunakan masker.

Di dalam sekte Shincheonji, sakit bukan menjadi alasan untuk tidak pergi beribadah dan merekrut orang untuk masuk ke dalam sekte ini – demikian ajaran dari pendiri sekte Shincheonji, Lee Man-hee.
Segera sesudah Pasien #31 ini terkonfirmasi positif, otoritas Korsel langsung melakukan tes terhadap anggota-anggota gereja Shincheonji, dan langsung menemukan banyak kasus positif.

Otoritas Korsel kemudian memperluas kriteria testing dan melakukan testing secara agresif, bahkan membuka klinik drive-thru di mana seseorang bisa diambil spesimennya lalu langsung pergi lagi, dan hasilnya bisa didapatkan dalam waktu satu hari. Per 9 Maret, Korsel sudah melakukan lebih dari 200.000 tes.

Hasilnya: Per 9 Maret, 75% dari jumlah kasus COVID-19 di Korsel berada di kota Daegu (5.663 dari 7.513 kasus) dan 15% di provinsi Gyeongsangbuk (1.117 kasus).

Di sisi lain, kenyataan bahwa 90% kasus di Korsel berada di Daegu dan Gyeongsangbuk menunjukkan bagaimana pemerintah Korsel berhasil mengendalikan wabah ini untuk tidak menyebar ke wilayah-wilayah lain di Korsel.

Disebut Bisa Lawan Virus Corona dari Obat Medis hingga Tradisional

Pasien #94 di Singapura

Pasien #94 sudah menunjukkan gejala sejak 11 Februari, namun masih saja datang ke acara di SAFRA Jurong pada 15 Februari. Akhirnya ia jadi penyebar secara langsung ke beberapa orang di acara tersebut dan dari sana sudah terjadi penularan sekunder ke orang-orang lain. Total sudah ada 36 orang di kluster ini per 10 Maret.

Mayoritas kasus positif usianya di atas 60 tahun pula, yang berisiko mengalami gejala lebih parah akibat penyakit ini. Kluster ini tidak akan terjadi jika pasien #94 istirahat di rumah saja pada tanggal 15 Februari.

Pasien #1 di wilayah Lombardia (Italia)

Pasien pertama di wilayah Lombardia ini bertemu dengan temannya yang baru pulang dari Tiongkok pada 21 Januari 2020. Kemudian pada 14 Februari, pasien ini mulai sakit dan pergi ke dokter umum. Pada 16 Februari, kondisinya memburuk dan ia pergi ke rumah sakit (RS). Namun tidak ada perlakuan khusus bagi pasien ini, ia dirawat layaknya pasien biasa.

Baru beberapa hari kemudian ia terkonfirmasi positif Covid-19. Namun sebenarnya saat itu sudah terlambat. Karena pasien ini tidak diisolasi sejak awal, pasien-pasien dan staf di RS tempat ia dirawat juga terinfeksi.

Pasien ini juga dilaporkan memiliki kehidupan sosial yang aktif dan berinteraksi dengan banyak orang sebelum dirawat di RS. Akhirnya, puluhan orang sakit karena kontak dengannya, yang kemudian menularkan ke orang-orang lainnya selama berpekan-pekan.

Kasus superspreader di Italia terjadi karena kegagalan sistem kesehatan dalam melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap kemungkinan masuknya Covid-19 dan ketidaktahuan pasien #1 di Lombardia bahwa kontak dengan orang yang pernah melakukan perjalanan dari Tiongkok merupakan faktor risiko seseorang untuk terkena Covid-19.

Pasien #26 di Malaysia

Pasien ini memiliki riwayat perjalanan ke Tiongkok di pertengahan Januari, namun baru melaporkan kalau ia memiliki gejala pada akhir Februari. Segera setelah ia dinyatakan positif Covid-19, otoritas Malaysia menelusuri kontak eratnya dan menemukan banyak kasus lain.

Hasilnya, per 8 Maret ia terkait dengan 70 kasus lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kluster ini sendiri mencakup lebih dari 70 persen kasus di Malaysia (71/99, per 8 Maret).

Pelajaran dari Kisah Superspreader

Jika Anda menunjukkan gejala-gejala penyakit Covid-19, demam 38 derajat Celcius, batuk kering, dan atau sesak napas disertai riwayat perjalanan dan atau kontak dengan orang dari negara terjangkit, jangan pergi ke acara dengan orang banyak.

Ikutilah protokol di daerah Anda masing-masing. Misalnya, jika Anda di Jakarta, hubungi hotline 112 jika Anda memiliki gejala-gejala tersebut. Namun jika harus pergi, pastikan anda menggunakan masker bedah dengan baik dan benar, hindari menggunakan transportasi publik, hindari berjabat tangan dan biasakan cuci tangan sebelum memegang sesuatu.

“Ingatlah, satu orang saja dapat menularkan ke banyak orang. Karenanya penyakit Covid-19 tidak bisa diremehkan walaupun mayoritas pasiennya adalah flu ringan. Demikian pula jika kita sampai menunjukkan gejala dan memiliki faktor risiko perjalanan atau kontak dengan orang dari negara terjangkit, kita bisa menghentikan potensi penyebarannya pada orang lain dengan cepat minta dites dan diisolasi. Setiap diri kita berperan penting dalam pengendalian wabah ini. Each one of us matters,” tegas Septian  seperti dilansir Bisnis.com.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.