Mengintip Pendidikan Seks di Sejumlah Negara, Bagaimana dengan Indonesia?

Masalah pendidikan seks kembali menjadi sorotan menyusul kontroversi pernyataan seorang Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitti Hikmawatty.

JEDA.ID—Masalah pendidikan seks kembali menjadi sorotan menyusul kontroversi pernyataan seorang Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitti Hikmawatty. Dalam pernyataannya dia menyebut bahwa wanita berenang bersama pria bisa hamil.

Tak berselang lama, Sitti kemudian mengaku salah atas ucapannya tersebut. “Iya. Bu Hikmah sampaikan (maaf) di group komisioner,” kata Ketua KPAI Susanto saat dimintai konfirmasi, Minggu (23/2/2020) seperti dilansir detikcom.

Namun maaf saja nampaknya tak cukup. Di Twitter, netizen menggemakan dengan tagar #PecatSittiHikmawatty. Komisi VIII yang merupakan mitra kerja KPAI pun merespons seruan netizen. Wakil Ketua Komisi VIII DPR Ace Hasan Syadzily menuturkan aturan pemecatan berdasarkan undang-undang yang berlaku.

“Soal pemecatan tentu harus dikembalikan kepada aturan perundang-undangan yang berlaku,” ujar Ace kepada wartawan sore ini. Ace kemudian mengungkapkan keprihatinannya terhadap wawasan Sitti. Sebagai komisioner KPAI, Ace menilai Sitti kurang pengetahuan.

“Saya sangat prihatin dengan pengetahuan seorang Komisioner KPAI yang menyebut ‘hamil di kolam renang’. Pandangannya tidak mencerminkan seorang yang seharusnya mengetahui secara mendalam tentang alat-alat reproduksi,” ucap Ace.

Menurut Ace pengetahuan soal kehamilan dan tumbuh kembang anak adalah hal sangat mendasar, yang harus dikuasai seseorang yang menjabat sebagai komisioner KPAI. Ace berharap pernyataan Sitti menjadi bahan evaluasi Presiden dalam proses memilih Komisioner KPAI kelak.

Pentingnya Pendidikan Seks

Pengetahuan tentang reproduksi manusia merupakan salah satu materi dalam pendidikan seks yang seharusnya dipahami, apalagi oleh pejabat yang dekat dengan masalah perlindungan anak.  Pendidikan seksual bertujuan mengajarkan mengenai organ kesehatan reproduksi, penyakit menular seksual dan HIV/AIDS, kehamilan, dan kontrasepsi yang dapat digunakan.

Hal ini juga bertujuan  mencegah terjadinya tindak kekerasan seksual, pemerkosaan, seks diluar nikah, dan juga pernikahan di usia dini.Selain itu, mengurangi dampak buruk dari penyerapan informasi yang tidak aman dan tidak akurat melalui Internet.

Hal ini penting agar mereka paham tentang bagian tubuh mana yang perlu diketahui dan dilindungi serta pengetahuan dasar tentang seks yang disesuaikan dengan usia. Di sejumlah negara, pendidikan seks sudah menjadi bagian dari pelajaran di sekolah yang tentunya disesuaikan dengan usia.

Setiap negara memilih cara sendiri dalam menerapkan pendidikan seks. Melansir dari beberapa sumber, begini metode yang diterapkan sejumlah negara, termasuk Indonesia.

1. Belanda

Belanda dikenal sebagai negara yang liberal termasuk untuk urusan seks. Bagi Belanda, seksualitas adalah bagian alami dari manusia yang seharusnya diajarkan pada siapa pun. Pendidikan seks diwajibkan untuk anak usia empat tahun ke atas. Terkadang, pendidikan seks menekankan pada kemampuan seorang anak untuk menghargai tubuhnya sendiri atau berfokus pada seksualitas dengan cara menghargai teman sebaya.

Semua hal diajarkan di Belanda, termasuk soal penggunaan kontrasepsi dalam hubungan seksual hingga pengetahuan tentang penyakit menular seksual. Hasilnya, angka kehamilan usia muda di Belanda terbilang rendah. Dalam pendidikan seks di sana ada materi tentang alat kontrasepsi dalam hubungan hingga penyakit menular seksual. Hasilnya angka kehamilan usia muda di Belanda rendah.

2. Norwegia

Di Norwegia, anak-anak usia 8-12 tahun menonton serial video edukasi tentang seks. Di Swedia, anak-anak SD menonton video tentang alat reproduksi mereka sebagai dasar untuk pendidikan seks di jenjang selanjutnya.
Meski terkesan berani, ternyata metode ini berdampak positif bagi anak muda di sana. Norwegia termasuk negara dengan tingkat kehamilan remaja terendah di dunia.

3. Inggris

Meski materi tentang seks diwajibkan bagi anak-anak berusia 11 tahun ke atas, rupanya banyak yang menganggap bahwa pelajaran tersebut kurang begitu penting hingga akhirnya dianggap sebagai edukasi yang hanya perlu dilakukan selama 1 hari.
Pendidikan seks terintergrasi dengan kurikulum dan masuk ke dalam PSHE (Personal, Social, Health, Economics).

Pada Maret 2017, Pemerintah Inggris mengumumkan bahwa semua anak berusia empat tahun ke atas akan diberikan pendidikan relasi emosional. Sebagai tambahan, semua anak di kelas dua akan diajari tentang materi terkait seks, seksual, dan relasi emosional.

4. Tiongkok

Meski memiliki penduduk paling banyak di dunia, namun ternyata masih ada masyarakat Tiongkok yang belum memahami seks. Namun kini, banyak perempuan di sana yang rela membayar untuk mengikuti kelas seks. Beberapa universitas juga menyediakan vending machine alat untuk mengetahui apakah mereka terkena HIV atau tidak. Buku pelajaran tentang pendidikan seks juga sempat diperdebatkan dan akhirnya dihilangkan setelah mendapat protes keras dari para orang tua murid.

5. Afrika Selatan

Meski memiliki kurikulum tentang pendidikan seks, anak-anak di Afrika Selatan diajarkan bahwa seks adalah kegiatan yang berisiko. Nggak hanya tentang HIV/AIDS, tapi juga kehamilan di luar rencana atau kekerasan seksual. Hal tersebut membuat banyak murid di Afrika Selatan berpikir bahwa pendidikan seks itu membosankan dan nggak relevan.

6. India

Pendidikan seks di India nggak dipandang sebagai hal yang wajib diketahui oleh anak-anak dan remaja. Bahkan, setengah dari penduduk berusia 5-12 tahun pernah mengalami kekerasan seksual. Parahnya lagi, masih banyak remaja perempuan yang belum memahami apa itu menstruasi dan apa maknanya.

Namun kini India mulai menerima pendidikan seks yang didesain oleh YP Foundation dan disebut-sebut sebagai pendidikan seks terbaik di dunia. Pendidikan tersebut juga meliputi beberapa isu seperti kesetaraan gender dan keberagaman seksual. Namun hal tersebut masih perlu diimplementasikan di setiap sekolah sehingga India merasakan perubahan yang signifikan.

7. Amerika Serikat

Meski terlihat begitu bebas, bahkan lebih bebas dari negara-negara Eropa. Amerika Serikat (AS) memiliki program pendidikan seks yang lebih bervariasi di berbagai sekolah dan wilayah. Pendidikan seks di AS begitu beragam dan bisa berbeda dari satu wilayah dengan wilayah lain.

Menurut Guttmacher Institute, hanya setengah negara bagian yang memasukkan pendidikan mengenai HIV dalam program mereka. Secara keseluruhan, tidak sampai setengah populasi anak muda di Amerika Serikat mendapatkan materi tentang HIV.

Planned Parenthood juga melaporkan bahwa dari tahun 2011 hingga 2013, ada 43 persen remaja putri dan 57 persen remaja putra tidak mendapatkan informasi tentang kontrasepsi atau birth control sebelum mereka melakukan hubungan seks untuk kali pertama.

8. Indonesia

Melansir dari situs Study International, pendidikan seks di Indonesia dipandang sebagai pengetahuan luar yang bukan hal yang wajib. Kebanyakan orang tua tidak memahami topik atau tahu bagaimana memberikan pendidikan seks kepada anak-anaknya. Hal tersebut diserahkan kepada pemerintah untuk memastikan bahwa para guru di sekolah memiliki pengetahuan yang baik dan bisa menyampaikan edukasi ini kepada muridnya.

Yang mengkhawatirkan, masih banyak orang tua yang tak memiliki pengetahuan komprehensif mengenai topik seksualitas. Kebanyakan orang tua hanya mengingatkan soal bahaya berhubungan seksual tanpa memberikan alasan-alasan yang lebih komprehensif.

Meski demikian, sudah banyak orang dan organisasi yang meminta pemerintah untuk merevisi program pendidikan untuk anak muda, terutama tentang pendidikan seks. Padahal, seharusnya pendidikan seks menjadi kebutuhan krusial, mengingat banyak remaja dipaksa menikah karena mengalami kehamilan yang tidak direncanakan.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Menarik Juga

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.