Menelisik Kepuasan Pernikahan saat Istri Lebih Tua dari Suami

Permasalahan yang kerap dihadapi pasangan beda usia yaitu istri lebih tua umumnya adalah stigma dari masyarakat, masalah komunikasi, dan keadaan ekonomi.

JEDA.ID–Pasangan beda usia kerap menjadi sorotan publik. Sorotan kian tajam ketika istri lebih tua dari suami. Padahal tidak ada yang salah dalam pola pernikahan itu.

Pasangan beda usia dalam hal ini istri lebih tua dari suami misalnya terlihat dari pasangan Darius Sinatria dan Donna Agnesia yang sudah dikaruniai tiga anak. Donna lebih tua enam tahun dari Darius.

Ada pula Anjasmara dan Dian Nitami yang usia pernikahan mereka sudah sampai 20 tahun. Perbedaan usia mereka tidak terlampau jauh yaitu sekitar 4 tahun.

Presiden Prancis Emmanuel Marcon juga memiliki istri yang usianya jauh lebih tua. Marcon dan istrinya Brigitte Trogneux memiliki selisih usia 24 tahun.

Brigitte tidak lain adalah guru drama saat Macron masih SMA. Macron pun mengaku bahwa hubungan yang mereka bukan hal yang umum.

”Ini hubungan yang tidak cukup umum, pasangan yang tak cukup normal–buka berarti saya sangat menyukai kata sifat ini–tapi pasangan ini benar-benar ada,” ujar Macron saat ia menikah dengan Brigitte pada 2007 lalu sebagaimana dilansir dari Liputan6.com, Jumat (29/11/2019).

Semua pasangan yang naik ke pelaminan tentu mengharapkan kebahagiaan dalam pernikahan mereka sekaligus berharap pernikahan berjalan memuaskan.

Selama ini seperti sudah menjadi tradisi dalam sebuah pernikahan, usia laki-laki lebih tua daripada istri. Umumnya masyarakat cenderung memberi penilaian negatif kepada wanita yang menikah dengan pria yang lebih muda.

Tidak jarang yang menyebut pernikahan dengan perbedaan usia istri lebih tua rawan akan konflik sehingga secara normatif masyarakat cenderung menerima jika usia istri lebih muda daripada suaminya.

Keharmonisan Keluarga

Lusiana dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dalam penelitian berjudul Kepuasan Pernikahan pada Pasangan Beda Usia (Studi Fenomenologis Usia Kronologis Istri Lebih Tua) pada 2017 menyatakan kepuasan pernikahan berhubungan erat dengan keharmonisan pernikahan.

Menurut Saxton (dalam Larasati, 2012) kepuasan pernikahan merupakan hasil dari terpenuhinya tiga aspek kebutuhan dasar pernikahan. Tiga kebutuhan tersebut adalah kebutuhan materi, kebutuhan seksual, dan kebutuhan psikologis.

Lusiana menyebut permasalahan yang dihadapi pasangan beda usia yaitu perempuan lebih tua umumnya adalah stigma dari masyarakat, masalah komunikasi, dan keadaan ekonomi.

”Biasanya masyarakat memandang bahwa pernikahan dengan usia kronologis istri lebih tua merupakan hal tidak biasa karena jarang terjadi di masyarakat. Di sinilah dukungan pasangan diperlukan. Adanya dukungan emosional dari pasangan dapat menimbulkan kepuasan pernikahan, terutama pada pasangan beda usia di mana usia istri lebih tua,” sebut dia.

Dia mengatakan pada pasangan beda usia, keadaan ekonomi merupakan masalah yang sering terjadi. Dalam penelitian itu juga menunjukkan keadaan ekonomi merupakan salah satu jenis konflik yang sering muncul dan mampu mempengaruhi kepuasan pernikahan.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah keintiman. Ini adalah salah satu emosi dasar dari cinta. Keintiman bisa mencakup aspek fisik, emosional, dan spiritual.

Dalam penelitian itu, Lusiana menyimpulkan secara umum pasangan beda usia yaitu istri lebih tua, mereka merasakan kepuasan dalam pernikahan yang dijalani.

Kepuasan pernikahan pada pasangan beda usia yaitu istri lebih tua muncul ketika pasangan dapat menghadapi setiap konflik rumah tangga yang terjadi, didukung dengan adanya faktor internal.

”Beberapa di antaranya kerja sama dan pembagian peran yang fleksibel, keintiman suami istri, serta penerimaan karakter pribadi pasangan. Sedangkan faktor eksternal meliputi manajemen keuangan, kehadiran anak dalam rumah, serta dukungan dari pasangan,” sebut dia.

Faktor eksternal khususnya stigma masyarakat bagi pasangan yang usia istri lebih tua ini punya pengaruh terhadap relasi dan cara komunikasi pasangan beda usia.

Budaya Patriaki

istri lebih tua

Ilustrasi pasangan suami istri (Freepik)

Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Wifka Rahma Syauki dalam penelitian berjudul Dialektika Hubungan Pasangan Perkawinan Beda Usia (Studi pada Perkawinan dengan Usia Suami yang Lebih Muda) menyebutkan ketegangan pasangan utamanya disebabkan adanya konstruksi masyarakat akan perkawinan yang ideal dan kuatnya budaya patriaki.

Pasangan beda usia yaitu suami lebih muda ada kalanya merasa cemas dengan konstruksi masyarakat yaitu laki-laki yang lebih muda kurang bijaksana dan perempuan lebih tua akan lebih mendominasi.

”Ini sempat membuat perempuan kurang terbuka dalam mengungkapkan hubungan. Mereka cenderung bercerita pada keluarga dan orang-orang terdekat saja,” tulis dia.

Wifka menuliskan dalam penelitian itu diketahui dalam pasangan yang istri lebih tua dari suami, maka dalam membicarakan permasalahan rumah tangga, perempuan terlihat ikut aktif, tidak serta merta ikut kata suami tapi akhir keputusan tetap dari suami.

Istri akan menjelaskan masalah dengan narasi-narasi atau analogi-analogi dengan tujuan untuk lebih menghaluskan atau tidak menjadikan tema sensitif bagi suami. ”Misalnya masalah kehamilan dan masalah finansial,” sebut dia.

Septia Yunusiah dan Lintang Ratri Rahmiaji dari Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro dalam penelitian berjudul Pola Komunikasi pada Hubungan Pernikahan dengan Pria yang Berusia Lebih Muda dalam Budaya Patriarki menyatakan saat ini permasalahan bukan lagi soal istri lebih tua dari suami, namun bagaimana mereka menjalani peran masing-masing dalam rumah tangga.

Tak Pengaruhi Peran Suami

Mereka menyebutkan usia suami lebih muda tidak memengaruhi peran suami sebagai kepala rumah tangga untuk mengambil alih kontrol komunikasi. Pola komunikasi yang terjadi cenderung memiliki pola monopoli dengan suami yang lebih dominan.

”Meskipun ada kecenderungan dominasi, namun untuk panggilan keseharian, cenderung setara. Panggilan tidak menunjukan perbedaan usia atau penghormatan tertentu. Panggilan hanya seperti ’abi-mamah’, ’bapak-mamah’, serta sebutan nama,” tulis Septia dan Lintang.

Mereka menyimpulkan perbedaan usia pria yang lebih muda tidak mempengaruhi tahapan untuk membangun hubungan. Pasangan pernikahan dengan istri lebih tua cenderung tetap melalui tahap-tahap membangun hubungan dengan inisiatif dan dominasi yang berada pada pihak laki-laki.

”Usia laki-laki yang lebih muda cenderung memiliki kualitas hubungan yang sama dengan pasangan biasa lainnya. Perbedaan usia istri lebih tua juga cenderung tidak mempengaruhi menurunnya kualitas hubungan,” tulis mereka.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.