Mapala Harus Tahu, Begini Cara Bikin Minyak Komando Sendiri

Minyak komando bukan hanya dipakai untuk anti-nyamuk tapi juga bisa untuk mengurangi resiko kaki lecet saat melakukan perjalanan jauh.

JEDA.ID – Seorang siswa SMP 2 Negeri Jember, Jawa Timur, Raditya Attaya, 17, dikabarkan meninggal dunia usai menenggak minum minyak komando. Tragedi itu terjadi saat Diklatsar Pecinta Alam diduga lantaran korban merasa kehausan.

Korban meninggal saat mengikuti Diklatsar Pecinta Alam di Perkebunan Sentool, Desa Suci, Kecamatan Panti, Sabtu (21/12/2019) petang. Korban mengikuti Diklatsar bersama 14 rekannya sejak pagi.

Ada Aturan Baru soal Minyak Goreng, Ini Kebiasaan Makan Gorengan

“Mungkin korban ini haus, lalu dia mengambil botol yang dia kira berisi air mineral,” kata Kapolres Jember AKBP Alfian Nurrizal, dilansir Suara.com, Minggu (22/12/2019).

Tanpa melihat apakah botol itu memang berisi air mineral, korban langsung meminumnya. Korban baru menyadari salah minum setelah menenggak cairan tersebut.

Kapolres menambahkan korban diduga salah ambil karena kondisi fisik yang lelah. Sehingga tidak bisa fokus saat mengambil botol.

“Setelah diminum beberapa teguk, barulah korban ini menyadari bahwa yang diminum bukan air mineral, tapi minyak Komando,” terang kapolres.

Lantas, apa itu minyak komando?

Identitas Asli Azura Luna, Sosialita Gadungan Kediri Buron Interpol

Minyak Komando

Minyak komando adalah cairan minyak campur bawang yang seharusnya untuk obat oles anti-nyamuk. Minyak komando lebih dikenal di kalangan Siswa Pecinta Alam (Sispala) atau Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala).

Mengutip laman Ensiklopedia Pramuka, minyak ini bukan hanya dipakai untuk anti-nyamuk tapi juga bisa untuk mengurangi resiko kaki lecet saat melakukan perjalanan jauh. Pecinta alam lawas barangkali tak asing dengan pemanfaatan minyak komando untuk mengurangi resiko kaki lecet.

Sebelum berjalan kaki dengan menempuh rute yang cukup panjang, minyak komando biasanya dioleskan pada kaki mulai dari mata kaki hingga telapak kaki sebelum memakai sepatu. Hal ini berguna untuk mengurangi resiko lecet pada kaki baik dalam kondisi kering ataupun basah.

Di beberapa kampung pesisir Kalimantan Barat, minyak kelapa yang bercampur bawang masih digunakan sebagai minyak urut. Baik untuk urut keseleo, patah tulang, atau pijat biasa.

Minyak ini juga dipakai untuk mengusih pacet. Pacet atau pacat (Haemadipsa) adalah binatang pengisap darah, sekerabat dengan cacing tanah, berbadan langsing mengecil ke depan

Di gunung-gunung hutan hujan tropis, jika mendaki saat musim hujan ataupun musim kering pacet sangat mudah dijumpai. Masing-masing jenis spesies berbeda. Ada yang menyerang pada posisi di daun mati yang lembab dan di daun atau batang pepohonan yang hidup. Selain air tembakau, air tuba, dan cairan anti nyamuk modern saat ini, dulunya minyak komando adalah andalan penangkal serangan pacet.

Ngayau, Tradisi Suku Dayak Penggal Kepala Manusia

Cara Membuat

Berikut bahan dan cara membuat minyak komando;

Bahan yang digunakan:

  • Sebaiknya minyak kelapa, bukan minyak goreng yang biasa digunakan untuk masak di rumah. Minyak kelapa bisa didapat di pasar tradisional.
  • Bawang merah beberapa siung, jumlahnya menyesuaikan saja dengan kebutuhan.
  • Botol bekas ukuran kecil, utamakan yang plastik agar mudah dan ringan dibawa. Ukuran botol juga ditentukan sesuai kebutuhan di lapangan.

Cara pembuatan:

  • Masukkan minyak kelapa di dalam botol, tidak perlu digoreng atau dipanaskan. Langsung masukkan saja.
  • Kemudian iris bawang merah dan masukkan di dalam botol yang sudah berisi minyak kelapa.
  • Tutup rapat botol.
  • Biarkan 2-3 hari sebelum dipergunakan dengan kondisi tetap ditutup. Sebenarnya tidak ada patokan waktu, yang pasti perlu waktu untuk proses getah bawang merah bercampur dengan minyak kelapa.
Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Menarik Juga

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.