Kisah Nyata di Balik Fiksi Imajinatif 1917

Film 1917 terinspirasi kisah "kurir yang membawa pesan dalam perang" yang diceritakan oleh kakek sang sutradara.

JEDA.ID – Film 1917 berhasil menyabet Best Motion Picture di Golden Globe Award 2020 menumbangkan Joker. Film yang disutradarai oleh Sam Mendes ini dibintangi oleh Dean Charles Chapman, George Mackay, Daniel, dan aktor tenar lainnya.

Selain Joker, 1917 berhasil membuat film yang The Irishman, The Two Popes, dan Marriage Story tetap duduk di posisi nominasi.

Film 1917 tayang perdana di bioskop pada 25 Desember 2019 lalu. Mengutip dari situs Box Office Mojo, film yang juga diproduseri oleh Sam Mendes ini meraup pendapatan sekitar US$2,2 juta.

Ini merupakan film kedua Mendes yang bertema perang setelah Jarhead (2005). Tidak hanya itu, untuk pertama kalinya Mendes juga terlibat dalam penulisan skenario bersama Krysty Wilson-Cairns.

Film 1917 mengambil setting waktu pada perang dunia I. Dua orang tentara muda Inggris mendapatkan tugas yakni menyampaikan pesan untuk mencegah gugurnya banyak tentara dalam peperangan tersebut.

Bercerita tentang dua orang prajurit muda Inggris dalam Perang Dunia I, Schofield (George MacKay) dan Blake (Dean-Charles Chapman) mendapatkan misi mustahil untuk menyelamatkan 1600 prajurit.

Keduanya harus melewati wilayah teritori musuh untuk menyampaikan sebuah pesan yang dapat mencegah serangan mematikan terhadap ribuan tentara tersebut, salah satu diantaranya adalah saudara dari Blake.

Film 1917 terinspirasi dari sebuah cerita yang didengar sang sutradara sewaktu kecil tentang “kurir yang membawa pesan dalam perang” yang diceritakan oleh kakeknya, Alfred Mendes.

Alfred Mendes

Dilansir Telegraph, Alfred Mendes diketahui ikut berjuang pada Perang Dunia I. Lahir di Trinidad, Alfred pergi ke Inggris pada tahun 1915, dan bergabung dengan tentara Inggris pada tahun 1916 di usia 19 tahun.

Dalam buku Autobiography of Alfred H. Mendes, 1897-1991, ia bercerita bagaimana ia bertugas di batalyon dalam sebuah misi mengerikan untuk mencari korban selamat dan melaporkannya kembali.

Namun pada Desember 1915, di usia 16 tahun Alfred Mendes merantau ke Inggris. Bukannya mendapat pekerjaan yang lebih baik, Alfred malah masuk daftar wajib lapor untuk dilatih di kemiliteran.

“Saya tergabung di pasukan King’s Royal Rifles tak lama setelah tahun baru 1916. Sebelum berangkat ke Prancis, saya dipindahkan ke Batalyon I, Brigade Senapan. Di awal Mei 1916, kami tiba di Abbeville di mulut Sungai Somme. Walau saat itu sudah gelap, saya bisa melihat kotanya sudah mengalami kehancuran akibat serangan artileri,” imbuhnya.

Mulanya, Alfred bertugas sebagai pemberi sinyal. Ia kemudian beralih tugas menjadi kurir. Medali atas keberanian yang disebutkan di atas, terjadi saat Alfred secara sukarela menerima misi berbahaya pasca-Pertempuran Poelcappelle.

Saat itu komandannya, Kapten Alexander Craigmile, memerintahkannya misi penyelamatan para serdadu yang terluka dan masih hidup.

Suatu malam pada di bulan Oktober 1917, Alfred dan beberapa sukarelawan keluar dari parit pertahanan untuk menjalankan misinya. Sialnya, malam itu hujan sudah berhenti dan membuat penembak-penembak runduk serta operator senapan mesin Jerman mudah melihat pergerakan mereka.

“Terlepas dari tembakan sniper, senapan mesin, dan peluru meriam, saya berhasil kembali ke lubang perlindungan Kompi C tanpa terluka,” sambungnya, dengan membawa beberapa rekan yang terluka.

Misinya sukses. Namun saat berada di Kanal La Bassée pada Mei 1918, Alfred terkena serangan gas Jerman. Ia ambruk dan dilarikan ke klinik markasnya untuk kemudian dikirim pulang. Ia baru tersadar saat sudah terbujur di kamar rumah sakit di Sheffield, Inggris.

Tak Bisa Tidur Setelah Nonton “Joker”, Ini Cara Mengusir Dampak Film Horor

Tetap Fiksi

Berbekal kisah nyata tersebut, Mendes mencoba membalut cerita secara signifikan untuk ditampilkan pada film 1917.

Alfred Mendes Sr., ayah Alfred H. Mendes, berasal dari Kepulauan Madeira, Portugal. Mendes Sr. seorang pemeluk Presbiterian dan karena keyakinannya ini Mendes dan sejumlah penganut Presbiterian dipersekusi hingga terpaksa hijrah dari Madeira. Mendes Sr. pilih mengungsi ke Port of Spain di Trinidad dan Tobago.

“Di akhir tahun 1846 sekira 700 orang Madeira (penganut Presbiterian, red.) tiba di Port of Spain dengan kapal yang disewa seorang saudagar gula. Di antara mereka terdapat ayah saya dan Jardim, adik dari ibu saya,” tutur Alfred H. Mendes dalam memoarnya.

Film 1917 ini dibuat dengan teknik one continuous shot atau disebut juga dengan teknik long-take. Sama halnya seperti film Birdman (2014) karya Alejandro Iñárritu atau Rope (1948) karya Alfred Hitchcock, film 1917 diambil seolah-olah berjalan tanpa cut.

Pengambilan gambar dibuat sedemikian rupa sehingga menghasilkan gambar yang berkelanjutan dan terlihat seperti diambil dalam satu kali pengambilan gambar.

Mendes menjelaskan dalam video behind the scene, bahwa teknik itu diambil karna ia menginginkan penonton merasakan situasi yang real-time yang memungkinkan semua orang mengalami ketakutan yang sama yang dirasakan oleh pemain dalam film 1917.

Siap-Siap, 5 Film Ini Bakal Tayang 2020

Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.