Daya Magis Film 1917 yang Bikin Penonton Tak Boleh Berkedip

Melalui rangkaian long takes sepanjang 7-8 menit yang diedit dengan halus, Mendes menghasilkan film sepanjang hampir dua jam yang mengalir tanpa potongan gambar.

JEDA.ID – Golden Globe Award 2020 tentu tak sembarangan menganugerahkan Best Motion Picture untuk film fiksi imajinatif 1917. Nyatanya 1917 adalah karya jempolan yang berhasil melibat sederet penghargaan lain.

Film 1917 tayang perdana di bioskop pada 25 Desember 2019 lalu. Selain Joker, filn ini berhasil membuat film yang The Irishman, The Two Popes, dan Marriage Story tetap duduk di posisi nominasi.

Film 1917 mengambil setting waktu pada perang dunia I. Dua orang tentara muda Inggris mendapatkan tugas yakni menyampaikan pesan untuk mencegah gugurnya banyak tentara dalam peperangan tersebut.

Bercerita tentang dua orang prajurit muda Inggris dalam Perang Dunia I, Schofield diperankan George MacKay dan Blake diperankan Dean-Charles Chapman. Mereka mendapatkan misi mustahil untuk menyelamatkan 1600 prajurit.

Keduanya harus melewati wilayah teritori musuh untuk menyampaikan sebuah pesan yang dapat mencegah serangan mematikan terhadap ribuan tentara tersebut, salah satu diantaranya adalah saudara dari Blake.

Sebagaimana subjudul yang dicantumkan Mendes dalam 1917,Time is the Enemy”, Mendes menggulirkan alur cerita dengan sangat cepat. Tak payah ia harus membangun emosi karakter-karakter pemerannya seperti film-film bertema perang lain semisal Saving Private Ryan (1998).

Penonton akan diajak hanyut dalam petualangan Schofield dan Blake yang hanya punya waktu satu hari untuk melintasi beragam medan bermil-mil panjangnya dari markas mereka ke Hutan Croisille, tempat kubu terdepan pasukan Resimen Devonshire.

Walau tak menghadirkan adegan perang secara kolosal, bisa jadi secara tak sadar semangat Anda akan ikut terpacu oleh aksi mereka dan itu jadi bagian menariknya.

Kisah Nyata di Balik Fiksi Imajinatif 1917

Pujian Kritikus

Beberapa kritikus film angkat jempol. Terutama karena Mendes menggarapnya dengan teknik continuous shot/one-shot alias kameramen mengambil gambar close-up maupun zoom-out dengan mengikuti si karakter utama.

Memang tidak full 119 menit kameramen non-stop mengikuti pemerannya. Tapi setidaknya, 1917 hanya menerapkan sekali break dan kemudian “dijahit” dengan pengambilan gambar one-shot berikutnya. Contohnya scene Schofield terjatuh dari tangga dan pingsan usai mengenyahkan seorang sniper Jerman. Menjadikannya film perang pertama yang menggunakan teknik one-shot.

“Saya ingin mengisahkan jalan ceritanya dalam waktu yang sebenarnya dalam dua jam. Jadi saya merasa kisahnya akan menjadi natural, di mana penonton akan hanyut dalam pengalaman yang dialami pemerannya,” cetus Mendes dalam wawancaranya dengan Alissa Wilkinson yang dimuat Vox, 10 Januari 2020.

Sedari babak pembuka, Mendes sudah menekankan bahwa Schofield dan Blake ibarat dua poros karakter yang berseberangan. Blake digambarkan sebagai pemuda naif yang tidak sepenuhnya paham bahaya medan perang.

Demi menyelamatkan kakaknya, Letnan Joseph Blake (Richard Madden), yang bertugas di resimen Devonshire, Blake tidak berpikir dua kali saat menerima perintah. Ia membayangkan tugas mengantar pesan adalah pekerjaan mudah.

Film Cats Disebut Hal Terburuk yang Pernah Terjadi Pada Kucing

Mirip Birdman

Film 1917 ini dibuat dengan teknik one continuous shot atau disebut juga dengan teknik long-take. Sama halnya seperti film Birdman (2014) karya Alejandro Iñárritu atau Rope (1948) karya Alfred Hitchcock, film 1917 diambil seolah-olah berjalan tanpa cut.

Pengambilan gambar dibuat sedemikian rupa sehingga menghasilkan gambar yang berkelanjutan dan terlihat seperti diambil dalam satu kali pengambilan gambar.

Mendes menjelaskan dalam video behind the scene, bahwa teknik itu diambil karena ia menginginkan penonton merasakan situasi yang real-time. Hal itu yang memungkinkan semua orang mengalami ketakutan yang sama yang dirasakan oleh pemain dalam film 1917.

Dengan berkolaborasi dengan sinematografer Roger Deakins, Mendes berkaca pada kesuksesan Birdman (2014), film drama-komedi garapan Alejandro G. Iñárritu yang berhasil menyabet penghargaan Film Terbaik dalam Academy Awards lima tahun lalu.

Seperti halnya Birdman, Mendes membuat 1917 seolah direkam dalam one shot atau satu kali penggambilan gambar menggunakan satu kamera. Di balik layar Mendes menerapkan teknik yang lebih rumit ketimbang sekadar mendorong kamera ke berbagai arah dan merekam apapun yang ada di depan.

Melalui rangkaian long takes sepanjang 7-8 menit yang diedit dengan halus, Mendes menghasilkan film sepanjang hampir dua jam yang mengalir tanpa potongan gambar.

Berkat gimik kamera, perjalanan Schofield dan Blake menyusuri parit-parit medan perang yang berlumpur dan penuh bahaya jadi terasa hidup dan nyata.

Mendes juga membuat kamera hanya mengikuti punggung kedua pemeran utama dan mengabaikan karakter lain–sedikit mengingatkan dengan long takes yang dilakukan Gus Van Sant dalam opening scene film Elephant.

Karakter Film Paling Ikonik yang Diperankan Keanu Reeves

Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.