Kaya Nutrisi, 5 Makanan Ini Dulu Bekal Pahlawan Saat Berjuang

Kemerdekaan Indonesia tak terlepas dari peran pahlawan di medan juang. Ada sejumlah makanan yang menjadi bekal pahlawan saat berjuang.

JEDA.ID – Kemerdekaan Indonesia tak terlepas dari peran pahlawan di medan juang. Saat zaman itu, warga dan para pahlawan tak hanya terbatas dalam hal kebebasan, melainkan juga suplai makanan. Berbagai hasil bumi kerap diambil para penjajah, sehingga membuat mereka kelaparan.

Hal tersebut mengharuskan warga dan para pahlawan mencari makanan alternatif. Bahkan makanan-makanan itu juga jadi bekal para pejuang saat berperang. Perjuangan para pahlawan saat melawan penjajah bukanlah hal yang mudah. Banyak pahlawan yang harus menempuh perjalanan jauh sambil membawa perbekalan makanan.

Makanan khas zaman penjajahan ini identik dengan kesederhanaan. Beberapa orang menyebutnya “makanan wong ndeso” karena bahan pembuatannya hanya dari singkong dan jagung.

Akan tetapi tak banyak orang yang mengetahui makanan khas zaman penjajahan. Nah, Apakah Anda salah satunya? Berikut ini akan kita ulas 5 makanan bekal pahlawan saat perjuangan melawan penjajah dilansir Detik.com Jumat, (16/8/2019) dan berbagai sumber.

Fakta dan Syarat Mendapat Insentif Rp2,4 Juta bagi 15 Juta Lebih Pekerja

1. Nasi tiwul

Nasi Tiwul memiliki nama lain Nasi Oyek. Nasi Oyek cukup terkenal pada masa Agresi Militer Belanda II. Saat itu, Jenderal Sudirman beserta pasukannya tengah terdesak di dalam hutan di kawasan Kediri dan kehabisan makanan.

Kemudian, Soepardjo Rustam dari Cilacap berhasil membawa makanan nasi oyek yang terbuat dari singkong. Pemerintah Jepang memang tak menyukai makanan ini, tetapi para pejuang negeri begitu menikmatinya. Nasi oyek pun masih dapat ditemukan hingga kini. Kandungan kalorinya memang lebih rendah dari beras, namun tiwul sangat efektif mengobati sakit maag.

2. Leughok

Leughok (liputan6)

Leughok (liputan6)

Mungkin Anda masih sedikit asing dengan nama makanan ini. Leughok merupakan makanan khas zaman penjajahan yang berasal dari Aceh. Biasanya, makanan ini dihidangakan sebagai menu pembuka.
Leughok menjadi bekal makanan yang tak pernah absen dikonsumsi para pejuang dari Aceh. Makanan yang terbuat dari remasan pisang kepok dan sagu ini menjadi makanan efektif menghilangkan rasa lapar.

Dibungkus daun pisang, makanan ini sangat praktis untuk dibawa kemanapun. Makanan ini juga sangat bernutrisi tinggi karena tebuat dari pisang kepok yang diremas dan sagu. Sama halnya dengan singkong, komposisi pisang kapok pada leughok dapat mengandung vitamin B yang dapat memperbaiki metabolisme tubuh.

Kandungan potasium pada pisang tersebut juga dapat mengurangi ketegangan dan penyempitan pembuluh darah dan arteri. Sementara vitamin C yang tingggi mampu memenuhi 40% kebutuhan harian Anda dan melindungi sistem kekebalan tubuh. Hingga saat ini, leughok masih dapat dijumpai di rumah makan khas Aceh. Kelapa parut menjadi penyanding untuk menyantapnya makanan ini, namun tampilannya tak selamanya dibungkus dengan daun pisang.

3. Singkong dan Ubi Rebus

Singkong (detik)

Singkong (detik)

Pada masa kolonial, nasi merupakan makanan mewah yang tak mudah didapatkan oleh rakyat. Sebagai gantinya, singkong dan ubi jadi makanan pokok yang dikonsumsi masyarakat Indonesia sejak zaman peperangan.

Singkong dapat menjadi sumber energi pada tubuh. Mengonsumsi singkong rebus dapat memenuhi kebutuhan kelompok vitamin B-kompleks yang sangat berguna bagi tubuh seperti folat, thiamin, piridoksin (vitamin B-6), riboflavin, dan asam pantotenat. Sementara kandungan kalium didalamnya mampu membantu mengatur denyut jantung dan tekanan darah.

Singkong dan ubi rebus menjadi makanan perbekalan yang banyak dibawa ketika berperang. Selain singkong dan ubi, para pahlawan juga kerap membekali diri dengan jagung rebus.

Kenali Ciri-Ciri Gangguan Kecemasan dan Kiat Sehat Mengatasinya

4. Nasi jagung

Nasi jagung (detik)

Nasi jagung (detik)

Nasi jagung atau disebut juga nasi ampok, merupakan salah satu makanan khas Indonesia yang terbuat dari jagung sebagai bahan dasarnya. Jagung yang digunakan untuk dijadikan nasi yaitu jagung yang sudah tua atau disebut juga jagung pipil.

Pada masa perang, padi yang siap panen banyak dirampas penjajah. Kemudian, masyarakat pun memanfaatkan jagung sebagai pengganti nasi sebagai karbohidrat. Nasi yang terbuat dari jagung ini menjadi bekal perang yang cukup bermanfaat.

Hal ini karena kandungannya yang sebesar 345 kalori per 100 gram dapat berfungsi sebagai penghasil energi. Selain itu, kandungan vitamin A-nya juga dapat meningkatkan kesehatan kulit dan imunitas tubuh para pejuang. Pusing yang timbul akibat anemia pun dapat dilawan oleh mengonsumsi nasi jagung. Kandungan zat besi dalam olahan jagung mampu memproduksi sel-sel darah merah dalam tubuh. Selain itu, serat tinggi didalamnya akan membuat para pejuang tidak mengalami gangguan pencernaan.

5. Telur Asin

Telur asin (halodoc)

Telur asin (halodoc)

Kini telur asin dijadikan sebagai lauk pelengkap makanan, tapi siapa sangka jika dahulu olahan telur ini kerap dijadikan bekal berperang. Telur asin dipilih sebagai bekal karena sifatnya awet tahan lama dan punya kandungan gizi tinggi.

Telur asin biasanya menggunakan telur bebek sebagai bahan dasar utamanya. Telur bebek mengandung nilai gizi dua kali lipat lebih besar dari telur ayam. Jadi tak heran jika para pejuang selalu menjadikan telur bebek ini sebagai bekal bagi mereka. Untuk meningkatkan metabolisme tubuh dalam medan perang, para pejuang cukup dengan mengonsumsi telur bebek rebus.

Hal ini karena telur bebek rebus mengandung 0,9 mg vitamin E yang mengisi 3% kebutuhan vitamin E pada tubuh yang berfungsi untuk metabolisme tubuh. Kandungan omega 3 didalamnya pun baik untuk kesehatan kulit dan otak.

Ditulis oleh : Kristina Wulandari

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.