Jaringan 5G, Meretas Mimpi Internet Supercepat

Jaringan 5G adalah langkah progresif negara-negara di dunia mewujudkan jaringan internet supercepat. Sebuah jaringan pengakses segala informasi untuk membantu kehidupan manusia.

JEDA.ID—Oktober 2018 menjadi penanda lahirnya jaringan 5G pertama di dunia. Verizon, operator selular Amerika Serikat (AS) memperkenalkannya ke publik. Kini ada empat negara yang diprediksi memimpin jaringan 5G, internet supercepat di dunia.

Tahun lalu, mengawali munculnya ketersediaan jaringan Internet supercepat Verizon, perusahaan telokomunikasi dan operator seluler di AS menjajal jaringan 5G di beberapa kota di negara itu. Mereka menjadi pioner, di tengah gonjang-ganjing didepaknya Huawei dari AS. Huawei santer disebut bakal meluncurkan 5G pertama di dunia di AS, dan gagal.

Seperti dilansir Tech Radar, empat kota yang beruntung menjajal 5G pertama di dunia itu adalah Los Angeles, Sacramento, Houston dan Indianapolis. Empat kota itu dipilih Verizon untuk mengawali proyek 5G mereka di seluruh AS pada tahun-tahun berikutnya. Verizon juga mendapat dukungan dari masing-masing pemerintah kota itu.

Pelanggan pertama di dunia yang beruntung menjajal jaringan 5G adalah Clayton Harris, penduduk Kota Houston AS. Jaringan ini terpasang pada sistem Verizon Wireless rumahan. Ronan Dunne, Presiden Verizon Wireless kala itu menyebut optimistis bakal memimpin jaringan Internet supercepat di seluruh dunia.

“Kami telah membangun kerja sama yang luar biasa dengan banyak perusahaan teknologi terkemuka dunia, badan standar teknisi internasional, pejabat publik, pengembang dan pelanggan untuk melanjutkan ekosistem 5G, lebih cepat dari yang dibayangkan,” ujarnya.

Peluncuran resmi secara luas jaringan 5G dilakukan Verizon di Chicago pada April 2019, hampir bersamaan dengan peluncuran di Korea Selatan. Pada bulan yang sama, ponsel pertama di dunia yang menggunakan jaringan Internet supercepat 5G, Samsung Galaxy S10 5G diluncurkan di Korea Selatan.

Ponsel Khusus

Ilustrasi Jaringan 5G (Freepik)

Edisi khususnya untuk pasar Amerika Serikat dan diberikan Samsung (produsen ponsel asal Korea Selatan) secara eksklusif untuk Verizon diluncurkan satu bulan kemudian di AS. Ini juga menandai perluasan jaringan 5G di AS. Kecepatan Internet di AS menggunakan Samsung Galaxy S10 5G saat dicoba mencapai 1 Gbps  Kecepatan yang sering didapatnya dalam pengujian ini adalah 700 Mbps, yang terbilang lazim. Bahkan angka 1 Gbps itu bisa ditembus, bahkan lebih kencang dari itu, bisa didapat ketika pengguna berada di dekat node 5G.

Sedangkan Korea Selatan secara resmi mengumumkan kehadiran jaringan 5G di negaranya melalui tiga operator pada April 2019. Operator itu adalah SK Telecom, KT, dan LG Uplus.

Dikutip dari Liputan6.com, Samsung juga membuka penjualan Galaxy S10 5G di negara tersebut. Oleh sebab itu, smartphone tersebut menjadi satu-satunya perangkat yang mendukung jaringan 5G di Korea Selatan.

Meski belum pasti, ketiga operator Korea Selatan itu sebenarnya sudah berencana untuk memperluas jaringan 5G ini ke daerah lain. Mereka menyebut setidaknya jaringan 5G diharapkan dapat menjangkau 85 kota hingga akhir 2019. Menurut Menteri Keuangan Korea Selatan, Hong Nam Ki 5G akan mendorong inovasi yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.

Menurut Kementerian Sains dan Teknologi Korea Selatan, jumlah pengguna 5G di Korea Selatan mencapai 1,91 juta pada akhir Juli 2019, hanya tiga bulan setelah tiga operator nasional – SK Telecom Co, KT Corp dan LG Uplus Corp, meluncurkan jaringan 5G komersial.

Empat Negara

Ilustrasi Jaringan 5G (Freepik)

Diprediksi Amerika Serikat, Korea Selatan, China dan Jepang akan mencakup lebih dari separuh pelanggan jaringan 5G dunia pada 2025. Sedangkan Eropa bakal ketinggalan. “Akan ada cluster kecil negara-negara yang memimpin adopsi 5G, dengan sisanya mengikuti,” kata Tim Hatt, Head of Research GSMA Intelligence seperti dilansir Reuters.

Di Korea Selatan, 66% koneksi mobile akan 5G dalam pertengahan dekade mendatang, diikuti Amerika Serikat sebanyak 50% dan Jepang 49%.

Dalam hal pelanggan, China bakal dominan dengan 600 juta koneksi 5G. Sedangkan di seluruh dunia, 1,57 miliar orang diperkirakan mengadopsi 5G pada tahun 2025, atau 18% dari total user mobile.

Di Eropa, pengguna 5G mungkin tak sebanyak negara-negara tersebut. Tapi wilayah ini akan giat menerapkan 5G di sektor semacam robotika dan berbagai macam perangkat pintar. Operator kemungkinan akan menaikkan harga paket 5G antara 15% sampai 20% dengan iming-iming data unlimited. Akan tetapi kemudian perlahan akan menurun.

Negara Berkembang

Bagi negara berkembang seperti Nigeria, Meksiko, India dan Indonesia, jaringan 4G masih akan diandalkan dalam beberapa tahun mendatang. Kombinasi ponsel Android murah dan paket data 4G yang murah masih punya potensi pertumbuhan.

GSMA Intelligence memproyeksi bahwa 59% dari total koneksi Internet ponsel pada 2025 masih memakai 4G. “Bagi banyak negara, 5G belum terlihat saat ini,” sebut Hatt.

Di Indonesia sejauh ini teknologi 5G masih sebatas uji coba. Baik Telkomsel, Indosat hingga XL Axiata sudah beberapa kali diketahui menjajal 5G dengan menggandeng vendor penyedia jaringan.

“Kemungkinan Indonesia baru bisa 2023, makin meluas pada 2025,” ujar Dharmesh Malholtra, Managing Director and Service Provider Cisco ASEAN belum lama ini seperti dilansir Detik.

Salah satu yang membuat Indonesia tertinggal dari negara tetangga adalah persoalan spektrum. Sejauh ini pemerintah belum mengalokasikan spektrum mana yang akan digunakan untuk menggelar 5G di Tanah Air.

Ditulis oleh : Maya Herawati/Salsabila Annisa Azmi

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.