Desa Sakral yang Punya Pantangan Tak Biasa, Mana Saja?

Di Indonesia ada dua desa sakral yang terkenal memiliki pantangan. Desa sakral itu adalah Kampung Pitu dan Karang Kenek.

JEDA.ID-Di Indonesia ada dua desa sakral yang terkenal memiliki pantangan. Desa sakral itu adalah Kampung Pitu dan Karang Kenek. Kedua desa sakral itu dikenal hanya boleh dihuni oleh beberapa orang saja. Mengapa dan bagaimana hal itu dapat terjadi?

Ada sejumlah alasan yang mendasari mengapa kedua desa sakral ini memiliki sejumlah pantangan. Apa saja? Kisah mistis kali ini bakal mengulas keberadaan kedua desa sakral tersebut. Berikut ini kisahnya seperti melansir dari detikcom, belum lama ini:

1. Kampung Pitu

Kampung eksotis ini terletak di puncak sisi timur Gunung Purba Nglanggeran, Gunungkidul. Selama ratusan tahun, desa sakral ini hanya dihuni oleh tujuh keluarga. Tidak boleh kurang, tidak boleh lebih.
Oleh karenanya, tanah seluas 7 hektar itu hingga kini benar-benar hanya dihuni 7 Kepala Keluarga (KK) dengan total 30 orang penduduk dan 8 bangunan rumah. Meski masih banyak lahan kosong, tak ada satu orang pun yang berani menjadi pendatang baru dan bermukim di kampung sakral ini.

Awal Mula Pantangan

Sejarah panjang Kampung Pitu berawal dari ribuan tahun lalu. Keraton mengadakan sayembara yang menjanjikan hadiah tanah bagi siapapun yang mau dan mampu menjaga pohon pusaka bernama Kinah Gadung Wulung. Dengan catatan, kelak tanah ini hanya bisa didiami 7 KK dari keturunan si pemenang.

Matahari Masuki Siklus Baru, Apa Artinya?

Tanah inilah yang selanjutnya disebut Kampung Pitu. Percaya atau tidak, hingga kini Kampung Pitu hanya bisa ditinggali oleh Eyang Kromo, sebagai pemenang dan anak cucunya.

Bagaimana jika dilanggar?

Konon, akan ada hal buruk bagi si pelanggar pantangan. Berdasarkan cerita masyarakat setempat, pernah ada orang luar yang tiba-tiba meninggal setelah ngeyel ingin bermukim di sana.
Untuk menjaga agar tetap terdiri dari 7KK, apabila ada anak warga Kampung Pitu yang menikah, dia diwajibkan untuk berpindah. Alasannya sederhana, yakni guna menjaga jumlah kepala keluarga tetap tujuh.

Keadaan Masyarakat

Secara geografis, Kampung Pitu terletak di topografi tanah yang berbukit-bukit. Untuk bisa menjangkau kampung sakral ini harus menempuh rute dengan tanjakan curam dengan jurang di sisi kanan dan kirinya. Namun tentu saja tempat ini mempunyai pemandangan alam yang luar biasa.

Perburuan Planet yang Bisa Dihuni Dilakukan Lewat Ini

Meski hidup berdampingan dengan pantangan yang jauh dari akal sehat, apa yang dilakoni warga Kampung Pitu tak lain sebagai usaha menjaga keselarasan alam. Buktinya, alam setempat tetap asri dan lestari hingga kini.

2. Dusun Karang Kenek

Dusun di Situbondo, Jawa Timur ini juga menyimpan mitos yang masih menjadi teka teki. Dusun tersebut hanya bisa dihuni 26 KK selama puluhan tahun.

Dusun bernama Karang Kenek, Desa Olean, Kecamatan Situbondo, Jawa Timur itu terletak di lokasi terpencil. Dusun yang memiliki luas kurang lebih dua hektare itu dikelilingi sawah dan pohon besar. Karena jumlah penududuknya terbatas, dusun yang namanya berarti kampung kecil itu terkesan begitu sepi.

Apa yang terjadi jika pantangan ini dilanggar?

Konon akan ada peristiwa tidak diinginkan yang akan terjadi. Peristiwa kematian atau ada warga yang harus pindah biasanya menjadi efek jika ada penambahan KK. Mitos inilah yang dipercaya warga dusun Karang Kenek sehingga tidak berani melanggarnya.

Kutukan Tidak Hilang

Tidak ada yang tahu pasti alasan dibalik kisah misterius itu. Namun salah seorang penduduk pernah menuturkan cerita turun temurun yang melatarbelakanginya. Konon, dusun ini seperti mendapat kutukan. Efek dari kutukan itu, Dusun Karang kenek seperti tidak bisa menerima warga baru.

Warga pernah mengadakan semacam ritual khusus untuk meminta maaf dan menghapuskan kutukan. Namun setelah semua ritual dilakukan, fenomena membingungkan ini tetap terjadi. Tidak hanya sekali dua kali saja, namun tetap saja tanpa membuahkan hasil. Warga pun memilih pasrah dan menjalani hidup apa adanya meski hanya terdiri dari 26 KK.

Warga dusun Karang Kenek menggantungkan mata pencaharian di bidang pertanian. Serta membuka industri rumahan yang bergerak di bidang mebel. Kini masyarakat setempat justru merasa bangga karena dusun mereka memiliki tradisi unik yang bisa diperkenalkan ke masyarakat luas.

Ditulis oleh : Annisa Putri

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.