Curhat Anak Broken Home: Hati-Hati Pilih Pasangan hingga Takut Menikah

Trauma dengan pertengkaran orang tua belum lenyap sepenuh dari ingatan anak broken home meski kejadian sudah berlalu bertahun-tahun.

JEDA.ID—Punya keluarga yang harmonis menjadi impian semua orang. Namun, tidak sedikit keharmonisan keluarga pecah hingga ada yang berujung dengan perceraian. Dampak perceraian salah satunya akan memunculkan anak broken home.

Broken home adalah kondisi hilangnya perhatian keluarga atau kurangnya kasih sayang dari orang tua yang disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya adalah perceraian. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sepanjang 2013-2016 jumlah talak dan cerai di Indonesia terus meningkat.

Pada 2013 jumlah talak dan cerai sebanyak 324.247 kejadian. Kemudian 2014 menjadi 344.237 kejadian, pada 2015 bertambah menjadi 347.256 kejadian. Pada 2016, jumlahnya mencapai 365.633 kejadian.

Sedangkan Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung menyebutkan tingkat perceraian keluarga Indonesia terus mengalami peningkatan yang sangat signifikan.

Data perceraian pada 2016 misalnya, angka perceraian mencapai 19,9% dari 1,8 juta peristiwa. Sementara data 2017, angkanya mencapai 18,8% dari 1,9 juta peristiwa.

”Jika merujuk data 2017, lebih 357.000 pasang keluarga yang bercerai tahun itu. Jumlah yang tidak bisa terbilang sedikit. Dari jumlah itu bisa dipastikan menyimpan masalah sosial yang tinggi. Apalagi terpapar bukti bahwa perceraian terjadi lebih banyak pada usia perkawinan di bawah 5 tahun,” sebagaimana dikutip dari laman Kementerian Agama, Rabu (28/8/2019).

Anak broken home yang menjadi korban perceraian memiliki cerita beragam mengenai nasib yang dialami keluarga mereka. Nawa, 22, warga Jebres, Solo, salah satu anak broken home mengisahkan bagaimana awal mula keretakan keluarga mereka.

”Dulu waktu saya kecil orang tua saya sering cekcok. Sering bertengkar. Beda pendapat. Saya ingat itu waktu saya SD. Saya pernah dikunci di kamar mandi saat mereka bertengkar, entah apa penyebabnya saya lupa. Tapi saya ingat betul saya ketakutan sekali waktu itu,” kata dia.

Dia menyebut orang tua ayahnya tak merestui hubungan asmara kedua orang tuanya. Itu yang menyebabkan ibunya tak betah karena merasa kerap disia-siakan oleh mertua.

Dia menduga kondisi itu menjadi salah satu pemantik pertengkaran demi pertengkaran hingga akhirnya orangtuanya benar-benar berpisah. Menjadi anak broken home tentu bukan menjadi impian Nawa. ”Awalnya ya pasti sedih. Tapi ya mau bagaimana lagi itu sudah keptusan mereka,” tambah dia.

Trauma

Kejadian yang menimpa orang tuanya saat Nawa masih kecil masih terus membayanginya hingga dia berusia 20 tahun lebih. Ketakutan, trauma dengan pertengkaran orang tua belum lenyap sepenuhnya. Sampai-sampai, Nawa berpikir untuk tidak akan menikah.

”Saya tidak tahu nanti menikah atau tidak. Sepertinya tidak. Kan kalau menikah itu pada dasarnya mencari pasangan untuk teman hidup. Karena anak-anaknya pasti ninggalin. Kayaknya saya enggak pengen. Punya anak saja tetapi enggak menikah,” ujar dia.

Cerita lain juga dilontarkan oleh Ara, 21, warga Blitar, Jawa Timur mengaku dirinya down saat orang tuanya bercerai. ”Karena terbiasa bersama. Tiba-tiba berpisah. Ditambah lagi kedua belah pihak yang tidak akur. Saya tambah stres,” kata dia.

Dia masih ingat betul saat kecil segala aktivitasnya dibatasi karena orang tuanya menuruti egonya masing-masing. Dia yang saat itu masih kecil hanya mengikuti saja dan tidak tahu harus berbuat apa.

anak broken home

Ilustrasi orang tua bertengkar (Freepik)

Seiring berjalannya waktu, Awa mulai terbiasa menjadi anak broken home. Apalagi, masing-masing orang tuanya menikah lagi. Kedua orang tuanya mulai memahami bermusuhan itu tidak baik jika diteruskan.

”Ya, siapa ya yang ingin berpisah. Dan itu juga berpengaruh terhadap psikis anak. Untung saja saya dan saudara-saudara saya kuat. Tetapi kalau hatinya kecil bisa gila dengan keadaan itu,” tambah dia.

Awa pun punya impian saat menikah nanti akan menemukan pendamping hidup yang pengertian yang siap diajak susah senang bersama.

”Cukup saya saja yang mengalami kejadian ini. Anak saya jangan. Kejadian tersebut [perceraian orang tua] membuat saya waspada sebelum akhirnya memutuskan. Daripada menyesal.”

Keluarga broken home kerap berdampak buruk terhadap anak. Anak akan cenderung lebih emosional hingga memiliki pikiran yang negatif. Anak broken home yang stres biasanya membuat prestasi menurun.

Ada pula kecemasan yang tinggi membuat sang anak cenderung sulit untuk berinteraksi dengan orang sekitar. Mereka biasanya kehilangan sosok panutan, nilai-nilai dalam keluarga akan dirasa hilang sehingga anak broken home merasa kesepian, frustasi, dan lebih sensitif.

Komunitas Hamur

Kondisi ini menjadi keprihatinan bersama hingga memunculkan komunitas bernama Hamur di Jogja pada Februari 2015. Sebagaimana dikutip dari laman Hamur, komunitas ini mewadahi survivor broken home (sebutan bagi anak-anak dari keluarga bercerai) dengan sasaran remaja dewasa.

Hingga Maret 2018 mereka memiliki 120 anggota yang tersebar di seluruh Indonesia. Hamur memiliki dua agenda utama yaitu kegiatan formal (training dan kelas inspirasi) dan kegiatan nonformal (anjangsana, kunjungan, dan lainnya).

Komunitas ini diinisiasi Dian Yuanita Wulandari (founder) bersama dua sahabatnya Nofendianto Rahmaan (co-founder) dan Abdul Jalil (co-founder).

Mereka menyebut Hamur didirikan karena semakin maraknya tren perceraian orang tua yang kemudian menyisakan beberapa hal pada anak. Bagi anak-anak yang mampu menerima keadaan dengan baik maka akan mampu survive bahkan melesat dengan sangat cemerlang.

Sedangkan beberapa anak-anak yang lain mungkin masih dalam taraf salah pergaulan sehingga masih banyak masyarakat yang melabeli anak-anak dari keluarga bercerai memiliki masa depan yang suram.

”Sangat banyak, survivor yang rendah diri dengan takdir keluarganya yang bercerai. Mengecam hidupnya sendiri, seolah dialah yang hanya punya masalah sehingga tidak bergairah dalam menjalani kehidupan,” sebut mereka.

anak marah

Ilustrasi keluarga tidak harmonis (Freepik)

Rizkyana Nurasmi dan kawan-kawan dari Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dalam kajian berjudul Dukungan Sosial Komunitas Hamur paad Remaja Broken Home menyebutkan pentingnya dukungan sosial bagi anak broken home agar lebih termotivasi dalam menjalani kehidupan tanpa merasa terbebani atas keputusan yang telah dilakukan orang tua mereka.

4 Dukungan Sosial

Dukungan sosial bisa meliputi empat aspek yaitu emosional yang ditunjukkan melalui ungkapan empati, simpati, perhatian dan kepedulian kepada seseorang sehingga individu merasa nyaman, berarti dan dikasihi.

Ada pula dukungan penilaian dan penghargaan yang dapat menjadi masukan bagi individu sehingga dapat mendorong rasa percaya dirinya dalam menghadapi masalah. Termasuk juga adanya dukungan bantuan langsung.

”Dukungan bantuan secara langsung dapat berupa benda-benda materi atau jasa, misanya meminjam uang, memberikan tumpangan, atau membantu menyelesaikan pekerjaan,” sebut mereka sebagaimana dikutip dari laman eprints.uad.ac.id.

Yang terakhir dukungan informasi yang berupa p pemberian nasihat, arahan, atau umpan balik atas apa yang sedang dilakukan oleh atau terjadi pada individu. Mereka menyebut subjek atau anak broken home yang diteliti awalnya terpuruk hingga melakukan perbuatan menyimpang.

Mereka menuliskan dalam komunitas Hamur, anak broken home banyak mendapatkan dukungan sosial dari teman-teman yang mempunyai pengalaman yang sama.

Akhirnya, banyak yang kembali mencari jati diri, mencapai tahap aktualisasi diri dalam pemenuhan kebutuhan, hingga meraih prestasi. Hamur pun menyebut anak broken home adalah pejuang hidup yang ulung.

”Dengan menghadapi masalah keluarga yang lebih pelik dari orang lain, kami terbiasa untuk berkali-kali lipat lebih kuat. Berkali-kali lipat lebih tangguh, berkali-kali lipat lebih sabar.”

”Derasnya air mata yang mungkin saja selalu mengiringi perjalanan hidup para survivor boleh saja terjadi. Tapi itulah yang kemudian membentuk mentalnya menjadi pejuang hidup yang ulung,” sebut Hamur.

Ditulis oleh : Ardea Ningtias Yuliawati/Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.