Tahun Dramatis Penaklukan Konstantinopel 1453

Tahun 1453, Muhammad Al-Fatih alias Mehmed II berhasil menaklukkan rezim Konstantinus XI di Konstantinopel dan mendirikan Istanbul.

JEDA.ID – Konstantinopel sebagai ibukota Byzantium, kekaisaran Romawi Timur, takluk di tangan pasukan Salib pada 1204. Sekitar dua abad setelahnya, tahun 1453, Muhammad Al-Fatih alias Mehmed II berhasil menaklukkan rezim Konstantinus XI di Konstantinopel dan mendirikan Istanbul.

Terjerat hutang besar kepada bankir-bankir Venesia untuk membiayai ekspedisi mereka ke Jerusalem, pasukan Salib memutuskan untuk menyerbu Konstantinopel. Mereka berhasil merebutnya.

Mereka lalu mendirikan Kekaisaran Latin yang bertahan sampai tahun 1261, sebelum akhirnya berhasil direbut kembali oleh orang-orang Yunani yang mengembalikan tahta Kekaisaran Byzantium.

Marios Philippides dan Walter K. Hanak dalam The Siege and the Fall of Constantinople in 1453 mengurai Kekaisaran Konstantinopel baru ini lantas dihantam oleh pasukan Muhammad Al Fatih dua abad setelahnya.

Muhammad Al Fatih adalah seorang sultan yang terkenal di era Turki Ottoman. Kesuksesannya bahkan telah diberitakan sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Keberhasilannya dalam menaklukkan Konstantinopel, harus diiringi dengan pengorbanan yang besar.

Sultan Muhammad Al Fatih. (Istimewa)

Sultan Muhammad Al Fatih. (Istimewa)

Demi menunjukkan kesungguhannya, Al Fatih menyiapkan 80.000 prajurit, 320 kapal, dan sebulan lamanya melakukan pengintaian. Walaupun setelah pengintaian, hanya 80 kapal yang dapat berangkat.

Pengepungan Konstantinopel dimulai pada tanggal 6 April tahun 1453. Al Fatih dan pasukannya berusaha untuk menembus benteng Theodosian, benteng yang menjadi kebanggaan Kekaisaran Byzantium saat itu.

Dimana mereka memulainya dari pintu selat Bosphorus melewati perairan Marmara untuk sampai di pelabuhan laut Golden Horn/Tanduk Emas.

Hagia Sophia: Gereja Konstantinopel Inspirasi Kubah Masjid

Perang Sengit Konstantinopel

Pertempuran berlangsung selama 57 hari, dimulai dengan masa pengintaian hingga penaklukan. Baik tentara Turki Ottoman dan Byzantium mengalami beberapa kali pertempuran dan juga gencatan senjata.

Perang sengit antara keduanya pun tidak dapat dielakkan. Pasukan Turki Ottoman yang terus berusaha merangsek memasuki Konstantinopel dengan cara menembus benteng Theodosian mengeluarkan senjata dan taktik terbaik mereka.

Seolah tak mau kalah, Byzantium pun mengeluarkan taringnya. Mereka mengerahkan semua senjata yang dimiliki, meriam, katapel, panah, tombak, hingga timah cair yang ditujukan kepada para tentara Turki Ottoman.

Entah berapa banyak darah pasukan baik dari pihak Turki dan Konstantin yang tertumpah di benteng agung Byzantium tersebut. Perang ini bahkan menjadi perang yang mengakhiri abad pertengahan karena berakhir pula Kekaisaran Byzantium akibat wafatnya sang Raja, Constantine XI saat pertempuran.

Kisah kejatuhan Konstantinopel banyak ditulis menggunakan sumber-sumber Barat. Mereka mengutip kesaksian dari orang-orang Yunani dan Italia yang melarikan diri dari Konstantinopel setelah kota itu ditaklukkan.

Uniknya, sumber sezaman dari pihak Ottoman terbilang sedikit dan baru ditulis di masa-masa setelahnya.

“1453 menjadi khas dan istimewa karena dia adalah sejarah yang justru banyak ditulis oleh kaum yang kalah,” tulis Roger Crowley dalam Constantinople: The Last Great Siege.

Begini Dahsyatnya Banjir Besar di Zaman Nabi Nuh

Setelah Penaklukan

Jatuhnya Konstantinopel menandai akhir Perang Salib yang panjang, sejak 1096. Inilah salah satu peperangan terlama yang pernah terjadi di bumi manusia demi memperebutkan hegemoni dan kekuasaan. Perang dibalut panji-panji agama: Timur melawan Barat, Usmani kontra Romawi, Islam vs Kristen.

Tak sampai setengah abad setelah Konstantinopel diambil alih Turki Ottoman, Perang Salib pun benar-benar usai. Namun dampak jatuhnya Konstantinopel jauh lebih dari itu. Inilah sinyal perubahan besar yang bakal dialami peradaban manusia sekaligus masa peralihan dari Abad Pertengahan menuju dunia modern.

Setelah ditaklukkan, Konstantinopel diubah namanya menjadi Istanbul. Mehmed II mengklaim dirinya sebagai Kayser-I Rum (Kaisar Roma) dan kekaisaran yang dipimpinnya sebagai pewaris kejayaan Romawi.

Istanbul kemudian dibangun kembali dengan sentuhan Islami dan arsitektur perpaduan Barat dan Timur. Melalui kepempinan sultan-sultannya di Istanbul, Ottoman menjelma menjadi kekuatan politik, ekonomi, dan militer adidaya setidaknya sampai akhir abad ke-17.

“Dapat dikatakan, tanpa berlebihan, bahwa kekuatan adidaya Ottoman di Timur secara substansial berkontribusi dalam membentuk Eropa modern,” tulis Halil Inalcik dalam An Economic and Social History of the Ottoman Empire, Volume 1.

Akar Konflik Muslim Uighur di Xinjiang China

Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.