Musim Dingin di Tanah Jawa

Pulau Jawa dalam dua pekan selama Juni ini berselimut dingin. Suhu dingin menyergap, bahkan di Bromo dan Dieng muncul embun es.

JEDA.ID –  Berkali-kali Tari menarik selimut, meski jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.00 WIB. Dia langsung melihat aplikasi cuaca di gawainya. Biasanya, pagi itu di Kota Solo bersuhu sekitar 27-28 derajat celcius, namun dalam dua pekan ini suhu di pagi hari bisa mencapai 22 derajat celcius, bahkan pernah 20 derajat celcius.

“Orang Solo menyebutnya musim mbediding,” ujar Tari kepada Jeda.id, Rabu (26/6/2019).

Tak hanya di wilayah Soloraya, suhu dingin juga dirasakan warga Semarang, Jawa Tengah (Jateng). Suhu terdingin saat pagi hari di wilayah itu mencapai 21 derajat celcius, padahal Semarang biasanya bersuhu 27-28 derajat celsius di pagi hari.

Demikian pula di DI. Yogyakarta. Sepekan lalu, pagi hari suhu Jogja menyentuh 19 derajat celcius.

Di Malang, Jawa Timur (Jatim) Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)  mencatat pada Senin (24/6/2019) suhu dingin di Malang pada pagi hari mencapai 15,6 derajat celcius.

Diperkirakan pada puncak musim kemarau pada Agustus suhu mencapai 14 derajat celcius. Ini merupakan fenomena pada 20 tahun lalu. Di kawasan Gunung Bromo, embun es belakangan pun semakin sering muncul.

Di dataran tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, fenomena embun es kembali muncul. Bahkan fenomena embun es ini menjadi daya tarik wisatawan. Embun es itu sering disebut sebagai salju di Dieng dan disamakan dengan di negara-negara beriklim sedang atau dingin.

Suhu udara pada Senin (24/6/2019) pagi pukul 05.30 WIB merosot hingga -9 derajat Celsius. Jika sebelumnya suhu terendah hanya mencapai -5 derajat celsius, kini turun lagi hingga -9 derajat celsius. Akibatnya, bukan hanya rumput dan daun-daun yang memutih, mobil yang parkir di luar ruangan pun diselimuti salju atau embun yang membeku menjadi es. Beberapa botol yang berisi air juga terlihat membeku.

Suhu Dingin Jawa

Petugas melakukan pemeriksaan penguapan air di Stasiun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Mlati, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (24/6/2019). Menurut data BMKG Yogyakarta, suhu dingin mencapai 18 derajat celcius saat malam hari di kawasan DI Yogyakarta dan sekitarnya sejak beberapa hari terakhir. (Antara-Andreas Fitri Atmoko)

Petugas melakukan pemeriksaan penguapan air di Stasiun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Mlati, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (24/6/2019). Menurut data BMKG Yogyakarta, suhu dingin mencapai 18 derajat celcius saat malam hari di kawasan DI Yogyakarta dan sekitarnya sejak beberapa hari terakhir. (Antara-Andreas Fitri Atmoko)

Nyaris selama dua pekan Juni ini suhu dingin menyelimuti Pulau Jawa. Suhu dingin ini dikarenakan adanya Monsoon Dingin Australia yang berlangsung dari bulan Juni hingga puncak musim kemarau atau September nanti.

Sebagaimana dilansir Detik.com, Rabu (19/6/2019), Benua Australia saat ini berada dalam periode musim dingin. Tekanan udara di wilayah Australia cukup tinggi, sehingga terbentuk antisiklon di daerah tersebut serta massa udara yang bersifat dingin dan kering.

Sementara itu, di wilayah Asia mengalami musim panas dan terdapat daerah tekanan rendah sehingga terbentuk siklon.

“Adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia dan rendah di Asia ini, menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia dengan membawa massa udara dingin dan kering tersebut ke Asia melewati Indonesia yang kemudian dikenal dengan istilah Monsoon Dingin Australia,” jelas Kepala BMKG Cilacap, Taruna Mona Rachman, Rabu (19/6/2019) pagi.

Tidak hanya terjadi di wilayah Jawa saja, massa udara dingin ini semakin signifikan sehingga berimplikasi pada penurunan suhu udara pada malam dan dini hari yang juga melanda Bali, NTB, dan NTT.

Khusus untuk wilayah Jawa, secara umum tutupan awan relatif sedikit dan pantulan panas dari Bumi yang diterima dari sinar matahari tidak tertahan oleh awan, tetapi langsung terbuang dan hilang ke angkasa.

“Hal ini juga menyebabkan suhu udara musim kemarau menjadi lebih dingin dari suhu udara musim hujan. Selain itu pada musim kemarau kandungan air di dalam tanah juga semakin menipis, kandungan uap air di udara juga rendah, indikatornya bisa dilihat dari rendahnya kelembaban udara. Ini juga berpengaruh terhadap bertambah dinginnya udara,” lanjutnya.

Monsoon Dingin Australia akan berlangsung hingga bulan September nanti.

Salju Dieng

Bagaimana dengan fenomena salju Dieng? Kepala Stasiun Geofisika Banjarnegara (BMKG Banjarnegara) Setyoajie Prayoedhie sebagaimana dikutip dari Suara.com, menjelaskan fenomena embun es merupakan anomali cuaca ekstrem yang disebabkan oleh banyak faktor dan biasa terjadi di daerah dataran tinggi. Termasuk pengaruh angin timuran, yaitu massa udara dingin dan kering yang berasal dari Benua Australia.

Monsun Asia pada dasarian III Juni diperkirakan tidak aktif, sementara monsun Australia diperkirakan lebih kuat dibanding normalnya. Hal ini berpotensi mengurangi peluang pembentukan awan dan hujan di wilayah Indonesia khususnya bagian selatan.

Dampaknya, lanjut dia dataran tinggi berupa puncak gunung atau di atas lereng gunung menjadi dingin secara cepat. Hal itu diakibatkan karena kehilangan radiasi.

Menurutnya, embun es di dataran tinggi Dieng merupakan fenomena yang wajar, karena tahun-tahun sebelumnya juga terjadi di musim kemarau. “Itu wajar, karena di Jateng saat ini sudah masuk musim kemarau,” kata dia.

Ditulis oleh : Rini Yustiningsih

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.