Sempat Jadi Trending, Ini Arti di Balik Kata ‘Indonesia Terserah

Belum lama ini, ungkapan 'Indonesia Terserah' sempat trending di media sosial. Hal ini disandingkan dengan komentar yang menunjukkan rasa kecewa masyarakat terhadap penanganan dan penerapan aturan untuk mencegah penyebaran virus Corona di Indonesia.

JEDA.ID-– Belum lama ini, ungkapan ‘Indonesia Terserah’ sempat trending di media sosial. Hal ini disandingkan dengan komentar yang menunjukkan rasa kecewa masyarakat terhadap penanganan dan penerapan aturan untuk mencegah penyebaran virus Corona di Indonesia.

Kecewa terhadap penanganan COVID-19, Indonesia Terserah menjadi perbincangan di Google Trend dan sempat muncul #indonesiaterserah di Twitter. Hashtag #indonesiaterserah menyuarakan ketidakpuasan netizen pada penerapan aturan pencegahan penyebaran virus corona.
“Negri Seterah, Negara suka suka, Hukum Asal bapak suka #indonesiaterserah,” tulis akun @R****R****.

Kekecewaan juga disuarakan @a****h****** yang menyesalkan penutupan masjid dan rumah ibadah lain, namun bandara dan pusat perbelanjaan justru mulai dibuka. Padahal masih dalam kondisi pandemi virus corona.

“Pak kami rela beribadah dirumah agar wabah ini segera berlalu. Tarawih, solat jamaah, tadarrus, jumatan, dll. Tapi anda buka bandara, banyak yg kumpul tdk soscial distancing. Bagaimana kami mendengar pemerintah kalau mereka tdk mendengar suara mereka sendiri? #indonesiaterserah,” tulisnya seperti dilansir detikcom. 

Menurut seorang psikolog, ungkapan ini menunjukkan sikap kekecewaan hingga frustrasi

“Ini adalah ungkapan geram, frustrasi dan kekesalan terhadap perilaku anggota masyarakat maupun kebijakan, yang dinilai tidak kooperatif dalam turut serta bahu membahu menghentikan pandemi Covid-19. Geram dan kekesalan ini tampak diungkapkan dalam bentuk ungkapan sinis atau sarkastik [sarkasme],” jelas psikolog klinis dari Personal Growth, Veronica Adesla seperti dilansir detikcom, Senin (18/5/2020).

Menurut Veronica, rasa geram, frustasi, dan kesal ini jika berlangsung lama pada seseorang tanpa adanya kepastian yang jelas, bisa berkembang menjadi rasa putus asa.

“Selain itu, ini juga bisa membawa seseorang pada sikap perilaku tidak peduli atas apa yang terjadi, bahkan hingga pada perilaku fatalistik,” katanya.

Saat seseorang bilang ‘terserah’, apakah berarti benar-benar pasrah dan ikhlas dengan apa yang bakal terjadi? Sepertinya tidak selalu demikian, sebab kata-kata seperti ‘terserah’ atau ‘ya sudah’ seringkali justru mewakili sikap yang dinamakan pasif-agresif.

Kiat Menjalani New Normal Setelah Pandemi Corona dari Pakar Google

Apa itu pasif-agresif?

Dikutip dari Healthline, seseorang dengan perilaku pasif agresif mengekspresikan perasaan negatif lewat perilaku, bukan mengungkapkannya secara langsung lewat kata-kata. Ini menciptakan jarak antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan.

Sebagai contoh, seseorang tidak setuju dengan sebuah rencana. Seseorang yang pasif agresif mungkin tidak akan membantah, tetapi diam-diam tidak mau mendukung apalagi menjalankannya. Pokoknya, “Terserah!”

Kontribusi Ibnu Sina Memperkenalkan Karantina Diri Mencegah Persebaran Penyakit

Kenapa orang mengatakan ‘terserah’?

Dikutip dari Rachrecovery, seseorang dengan perilaku pasif agresif pada level tertentu meyakini bahwa situasi hanya akan menjadi lebih buruk jika orang lain mengetahui perasaan negatifnya. Karenanya, ia akan memilih mengungkapkannya diam-diam lewat sikapnya dibanding kata-kata.

Menarik diri dari diskusi dan percakapan lewat ungkapan ‘terserah’ atau ‘ya sudah’ adalah contohnya. Biasanya, diikuti dengan ngomong di belakang.

Perilaku atau sikap pasif agresif juga bisa berkaitan dengan kondisi tertentu seperti:

Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH)
Stres
Gangguan kegelisahan (anxiety)
Bipolar
Skizofrenia
Penyalahgunaan narkoba.
Bagaimana sebaiknya menanggapi kata ‘terserah’?

Banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya bersikap pasif agresif, dan bahkan merasa normal dengan hal itu. Bisa jadi, malah merasa sikap itu yang terbaik demi menghindari pertikaian.

Salah satu cara yang dianjurkan untuk menyikapinya adalah dengan bersikap asertif tanpa melabelinya ‘pasif agresif’. Kadang, cara ini efektif untuk memberi contoh cara mengungkapkan perasaan dengan lebih tegas.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.