Saatnya Mengembangkan Peta Kanker Indonesia

Prevalensi kanker tertinggi ada di DIY yaitu 4,86 per mil. Artinya ada 4-5 orang dari 1.000 orang di DIY sakit kanker.

JEDA.ID–Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mendorong pemerintah membuat peta kanker Indonesia agar tidak semakin mewabah. Bila mengacu hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi kanker di Indonesia mencapai 1,79 per mil. Artinya, ada 1-2 orang dari 1.000 orang yang sakit kanker.

“Peta kanker sudah dilakukan pemerintah Tiongkok pada 1960-an sebagai dasar pembuatan peta jalan penanggulangan kanker,” kata Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi sebagaimana dikutip dari Antara, Senin (8/7/2019).

Tulus menilai Indonesia sudah mengalami darurat kanker karena prevalensi kanker semakin meningkat. Kebutuhan peta kanker Indonesia ini  mendesak. Dalam Riskesdas 2013 menyatakan prevalensi kanker 1,4 per mil dan menjadi 1,79 per mil dalam Riskesdas 2018.

Dalam Risdaskes 2018 sebagaimana dikutip dari laman depkes.go.id, prevalensi kanker tertinggi ada di DIY yaitu 4,86 per mil. Artinya ada 4-5 orang dari 1.000 orang di DIY sakit kanker. Prevalensi tertinggi berikutnya adalah Sumatra Barat dengan prevalensi 2,47 per mil, Gorontalo 2,44 per mil, dan DKI Jakarta 2,33 per mil.

Tiga provinsi dengan prevalensi terendah yaitu Nusa Tenggara Barat dengan 0,85 per mil, Maluku 0,90 per mil, dan Maluku Utara 0,94 per mil. Usulan Tulus ini disampaikan setelah Kepala Pusdatin & Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho meninggal karena kanker paru stadium IVB.

Sutopo mengaku menjaga perilaku hidup sehat dan tidak merokok. Namun, dia  juga menyatakan kerap mendapati lingkungan kerja yang penuh asap rokok dan tidak bisa menghindar.

”Salah satu pemicu dan pencetus prevalensi kanker adalah asap rokok. Salah satu korbannya adalah Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho. Akankah putra-putri terbaik bangsa Indonesia terus bertumbangan oleh penyakit kanker dan asap rokok menjadi tersangka utamanya?” kata Tulus.

Registrasi Kanker

Selain prevalensi kanker, data orang yang sakit kanker juga dikumpulkan Indonesian Cancer Profile (Inacare). Sebagaimana dikutip dari laman inacare.org, Inacare adalah suatu wadah yang digunakan dalam pengisian registrasi kanker yang berbasis rumah sakit di berbagai rumah sakit utama di Indonesia.

Inacare dikembangkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (PORI). Dalam data Inacare, penderita kanker selama 2009-2019 mencapai 126.614 orang.

Tertinggi ada di Jawa Timur yaitu 24.982 orang. Kemudian di DKI Jakarta 16.929 orang, Jawa Barat 14.604 orang, Jawa Tengah 10.103 orang, Sumatra Utara 8.420 orang, dan DIY 5.932 orang.

Dari sisi usia, jenis kelamin, perempuan yang sakit kanker adalah 85.844 orang dan laki-laki 47.655 orang. Bila dilihat dari sisi usia, didominasi di atas 25 tahun yaitu 110.637 orang. Dari sisi pekerjaan, penderita kanker didominasi ibu rumah tangga yaitu 27.294 orang. Disusul pegawai swasta 13.875 orang, dan PNS 7.723 orang.

Inacare menyebut jenis kanker yang paling banyak diderita adalah kanker payudara yaitu 19.736 orang, kanker serviks 15.642 orang, dan kanker narsofaring 6.269 orang.

Sementara itu, data Globocan menyebutkan pada 2018 terdapat 18,1 juta kasus baru dengan angka kematian sebesar 9,6 juta kematian akibat kanker di seluruh dunia. Globocan menyebut 1 dari 5 laki-laki dan 1 dari 6 perempuan di dunia mengalami kejadian kanker. Data tersebut juga menyatakan 1 dari 8 laki-laki dan 1 dari 11 perempuan meninggal karena kanker.

Kemenkes menyebut kejadian penyakit kanker di Indonesia 136,2 per 100.000 penduduk. Indonesia berada di urutan ke-8 di Asia Tenggara dan di Asia urutan ke-23. Kemenkes mengatakan untuk pencegahan dan pengendalian kanker, pemerintah melakukan berbagai upaya.

Antara lain deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim pada perempuan usia 30-50 tahun dengan menggunakan metode Pemeriksaan Payudara Klinis untuk payudara dan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) untuk leher rahim.

”Kementerian Kesehatan juga mengembangkan program penemuan dini kanker pada anak, pelayanan paliatif kanker. Ada juga deteksi dini faktor risiko kanker paru, dan sistem registrasi kanker nasional,” kata Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Anung Sugihantono.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.