Rahasia Ayam Cemani sampai Dihargai Belasan Juta Rupiah

Ayam cemani ini kerap menjadi pelengkap ritual upacara menghindari santet sampai agar dagangan laris atau jualan mereka sukses.

JEDA.ID–Seluruh tubuh ayam ini berwarna hitam. Ayam dengan nama ilmiah Gallus gallus domesticus ini unik karena tubuhnya berwana hitam termasuk mata, tulang, sampai kuku. Begitu pula daging, jengger bahkan lidahnya. Ayam kedu atau ayam cemani serta kadang disebut ayam selasih, itulah nama ini.

Sesuai namanya, ayam ini bisa ditemui di Kedu, Temanggung. Bisa juga di Desa Kalikuto, Grabag, Magelang. Sedangkan nama cemani dalam bahasa sansekerta berarti hitam.

Konon, ayam cemani ini merupakan persilangan ayam hutan hijau dan ayam kampung biasa yang mengalami mutasi gen. Kini setidaknya ada empat tipe ayam cemani.

Pertama, ayam kedu hitam yang seluruh tubuh hitam tapi jengger dan kloaka (posterior) berwarna kemerahan. Kedua, ayam cemani yaitu seluruh bagian tubuhnya memang hitam legam termasuk mata, kuku, posterior, dan jengger.

Ketiga, ayam kedu putih yaitu seperti ayam kampung tapi warna bulunya putih. Terakhir, ayam kedu merah yaitu berbulu hitam namun berjengger merah.

Sebagaimana dikutip dari laman indonesia.go.id, Kamis (28/11/2019), konon ayam ini kali pertama dikembangkan Ki Ageng Mangkuhan pada masa Majapahit.

Kala itu, Ki Ageng membudidayakan ayam ini karena dianggap manjur sebagai obat daya tahan tubuh dan sebagai pelengkap ritual.

Kemudian dengan seluruh keunikan yang dimilikinya, ayam cemani sering digunakan dalam berbagai ritual dan upacara adat, misalnya upacara pembuatan candi.

Kisah ini turun temurun di kalangan masyarakat sehingga ayam cemani punya tiga fungsi mistis yaitu cemani widitra, cemani warastratama, dan cemani kaikayi yaitu untuk penolak bala, sihir, sampai untuk upacara adat.

Pelengkap Ritual

Ayam ini kerap dicari saat musin pernikahan atau khitan. Namun, pada hari-hari biasa, ayam cemani akan dicari orang dari berbagai daerah mulai Wonosobo, Semarang, Yogyakarta dan sebagian Jatim.

Mereka mencari ayam kedu ini untuk pelengkap ritual. Ada yang dipakai untuk upacara menghindari santet, sampai agar dagangan laris atau jualan mereka sukses.

Ayam ini bisa dibilang cukup sulit ditemukan di pasaran meski tidak bisa dikatakan langka. Dalam beberapa dekade terakhir, ayam cemani berhasil dibudidayakan.

Budi daya ayam kedu ini pun secara otomatis menurunkan harga yang sebelumnya selangit, meski tetap masih tergolong mahal.

Kini sepasang anakan ayam cemani harganya mencapai Rp500.000-Rp750.000. untuk sepasang indukan ayam kedu harganya Rp1 juta sampai belasan juta rupiah.

Harga ini tidak terlalu mahal dibanding pada 1997 sampai 2010 saat harga indukan mencapai Rp25 juta-Rp40 juta. Telurnya pun sampai dihargai Rp100.000/butir.

Harga ayam kedu yang tergolong tinggi itu tidak mengurangi permintaan karena sangat diminati pasar. Harga ayam ini cenderung mengikuti ketersediaan populasi cemani di masyakarakat.

Ayam kedu

Ayam kedu (Kecamatan Kedu)

Pada akhir 1985 jumlah ayam kedu di Temanggung dan Magelang berkisar antara 8.500 ekor. Saat 1997-2009, populasinya melorot dan hanya berkisar 2.000 ekor.

Sejak 2010 sampai sekarang popolasi cenderung normal yaitu berkisar antara 8.000 ekor. Ada sekitar 130 usaha rumahan milik penduduk Kedu dan Kalikuto mengembangbiakkan ayam ini sehingga populasinya kembali meningkat seperti 1985.

Lalu mengapa ayam ini berwarna hitam? Ayam cemani ini sebenarnya ayam lokal biasa yang mengalami mutasi gen. Kebanyakan vertebrata termasuk ayam memiliki gen yang dikenal sebagai endothelin 3 atau EDN3 yang fungsinya antara lain untuk mengontrol warna kulit.

Pada migrasi gen normal, endothelin memicu perpindahan melanoblast (sel- sel yang menciptakan warna) ke sel di kulit dan folikel bulu. Tapi pada ayam cemani yang merupakan ayam dengan hiperpigmentasi. Hampir semua endothelin bereaksi dan memicu melanoblast sampai 10 di atas normal.

Ini kemudian mewarnai semua bagian pada ayam, dari mata, jeroan, daging, tulang sampai kuku ayam. Sehingga semua bagian tubuh ayam ini berwarna hitam seperti benda yang terkena tinta cumi-cumi yang pekat.

Tidak Endemik

Ilmuwan vertebrata, Leif Andersen dari Universitas Uppsala, Swedia, mengatakan kasus mutasi gen mirip ayam cemani juga terjadi pada ayam svart hona yang gen kulitnya juga bermutasi menjadi berbulu lembut seperti kapas.

Kasus-kasus seperti itu juga muncul di kumbang hitam, flamingo, tokek sampai ular hitam, tapi mutasi gen pada ayam cemani, agak berbeda.

Andersen mengatakan ayam kedu ini cukup beruntung karena mutasi genetik yang dialaminya hanya berpengaruh pada warna dan tidak pada kesehatan ayam.

Sebenarnya ayam kedu ini tidak bersifat endemik. Ayam jenis ini juga ditemukan di India dan dikenal sebagai ayam kadanath atau ayam kalimasi. Berbeda dengan ayam kedu di Indonesia, ayam kadanath dikonsumsi.

Ayam kalimasi diburu oleh penikmat kuliner di India karena kandungan proteinnya tinggi, sedangkan lemak serta kolesterolnya rendah. Mereka mengatakan bahwa daging ayam kadanath unik dan kaya rasa.

Ayam kedu juga ditemukan bahkan dibudidayakan di Florida, Amerika Serikat (AS), tepatnya oleh Greenfire Farm. Harga ayam cemani di AS berkisar US$199 sampai US$400 atau sekitar Rp2,78 juta-Rp5,6 juta rupiah perekor. Di AS, ayam ini juga disukai penggemar kuliner karena rasanya unik.

Ayam ini memang berhasil dibudidayakan di berbagai negara. Namun, jumlahnya tetap terbatas. Jumlah ayam cemani di seluruh dunia (kecuali Indonesia) diketahui hanya sekitar 3.500 ekor.

Jumlah ayam ini tak bisa banyak karena ayam cemani bertelur hanya sekitar 60- 80 butir pertahun. Sedangkan ayam kampung lainnya mampu bertelur sekitar 230 butir per tahun.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Menarik Juga

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.