Raego dari Sulawesi Tengah, Paduan Suara Tertua di Indonesia

Syair dilantunkan dari paduan suara yang telah ditetapkan sebagai aset cagar budaya tak benda di Indonesia ini adalah bahasa daerah Uma tua.

JEDA.ID–Ada yang menyebut dengan istilah Raego. Ada pula Raigo. Atau Rego. Raego merupakan tarian dan syair tradisional yang berasal dari Sulawesi Tengah. Tak hanya itu, Raego merupakan paduan suara tertua di Indonesia, bahkan dunia.

Tarian ini milik masyarakat adat Suku Uma, Tobako, Ompa, Moma, dan Tabo yang mendiami sebagaian besar wilayah dataran tinggi Kulawi dan Pipikoro, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Suku bangsa ini menamakan Raego dengan penyebutan berbeda.

Suku Kulawi menyebut Raego, Kaili menyebut Rego, dan Bada menyebut Raigo. Penyebutannya berbeda-beda, namun maknanya sama, yaitu sebuah penghormatan terhadap Sang Pencipta.

Sambil menari, mereka akan melantunkan syair. Laki-laki akan mengenakan siga di kepala dan guma atau parang adat di pinggang. Sementara, perempuan mengenakan rok susun tiga dan halili atau baju adat yang lengkap dengan aksesori manik-manik.

Selama menari mereka melantunkan syair. Syair dilantunkan dari paduan suara yang telah ditetapkan sebagai salah satu aset cagar budaya tak benda di Indonesia ini adalah bahasa daerah Uma tua yang sudah tidak dipakai lagi dalam percakapan sehari-hari.

Tarian yang diiringi alunan suara dengan syair-syair yang dilantunkan secara lantang ini punya nilai sakral karena kerap dilakukan saat upacara adat, penyambutan tamu, peresmian rumah adat Lobop, syukuran hasil panen, hingga peristiwa duka.

Syair-syair dalam paduan suara tersebut berisikan pesan moral untuk masyarakat dan memiliki makna simbolis terhadap upacara ritual. Sebagaimana dikutip dari laman indonesia.go.id, Kamis (31/10/2019), warisan budaya ini sulit dilestarikan karena tidak semua suku memiliki sarana komunikasi dalam bentuk tulisan.

Sang pewaris pun hanya mengandalkan pada informasi ingatan dan lisan saja. Ditambah lagi, tidak semua lapisan Suku Kulawi memiliki kesempatan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam mengetahui bahkan menekuni Raego ini. Hanya beberapa anggota masyarakat berusia lanjut saja yang menjadi pelakunya.

Pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan Raigo menjadi generasi yang terbatas. Apalagi penyebaran informasi dan ilmu dari tarian ini tidak merata di semua lapisan masyarakat. Dampaknya adalah, jumlah dari para pelaku Raego semakin berkurang.

Bukan Suami Istri

paduan suara di Indonesia

Raego menjadi paduan suara tertua di Indonesia

Disebutkan kelompok paduan suara di tertua Indonesia ini terdiri atas lelaki dan perempuan. Dalam sejarahnya, pasangan lelaki dan perempuan dalam Reogo bukanlah sepasang suami istri, lelaki yang menjadi pasangannya dalam tarian tersebut harus menyediakan seserahan adat kepada suami atau keluarga dari pasangan dalam Raego.

Saat melantunkan syair-syair, mereka melakukan tarian. Para penari akan membentuk lingkaran dengan tangan saling merangkul, membentuk sebuah simpul yang disimbolkan kebersamaan dalam menghadapai situasi apa pun, bahagia dan duka.

Perempuan akan dirangkul oleh tangan kiri laki-laki yang menjadi pasangan. Sementara tangan kanan lelaki memegang parang yang dililitkan di pinggang sebelah kiri. Tarian mereka sangat seirama dengan lantunan syair.

Sesekali menghentakan kakinya di tanah sambil memekik. Mereka pun bernyanyi dengan suara lantang. Semua lagu memiliki khas yang sama, selalu mengulang syair beberapa kali. Perbedaannya adalah melodi dan tempo yang tinggi.

Sejatinya, dalam tarian dan paduan suara ini tak ada iringan musik. Tapi seiring berkembangnya zaman, ada Raigo yang dibawakan dengan diiringi musik, seperti tabuhan gendang dan gitar, terutama saat upacara sesudah panen atau pementasan kesenian.

Tarian dan paduan suara ini sudah melekat pada adat Suku Uma, Tobako, Ompa, Moma, dan Tabo, salah satu suku di Sulawesi Tengah, Indonesia. Sayang, tidak ada penelitian khusus yang mengungkap kapan dan dimana tarian ini pertama kali dibawakan.

Namun, bisa dipastikan paduan suara Raego telah muncul jauh sebelum masa penjajahan Belanda di Indonesia. Itulah sebabnya Raego bisa dikatakan salah satu paduan suara tertua di Indonesia dan dunia.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.