Prabowo Bangga, Ini Alutsista Buatan Indonesia yang Mendunia

Alutsista buatan Indonesia yang dipakai TNI ada beberapa juga yang diminati negara lain seperti senjata laras panjang, panser, kapal, sampai kepala roket.

JEDA.ID–Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto mengaku bangga dengan alat utama sistem pertahanan atau alutsista Indonesia. Tidak sedikit alutsista buatan Indonesia yang sudah laku di pasaran dunia.

Saat pilpres lalu, Prabowo sempat menyebut sistem pertahanan Indonesia masih lemah. ”Sekarang saya bangga sudah punya kemampuan seperti sekarang,” kata Prabowo setelah meninjau Pameran Industri Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan di Kemenhan, Jakarta, Selasa (3/12/2019), sebagaimana dikutip dari Detikcom.

Prabowo mengaku kondisi alutsista Indonesia saat ini sudah membanggakan dan sudah memiliki kemampuan-kemampuan yang sangat bagus. Menhan pun optimistis Indonesia akan lebih mandiri di bidang alutsista dalam 5 tahun ke depan.

”Alhamdulillah kemampuan kita sudah sangat baik, sangat maju. Tentunya ada bagian-bagian yang masih harus kita mengadakan litbang lagi, tapi insya Allah saya optimistis lima tahun lagi kita akan menjadi lebih mandiri, berdiri di atas kaki kita sendiri,” ujar dia.

Alutsista buatan Indonesia yang dipakai TNI ada beberapa juga yang diminati negara lain. Ada yang buatan PT Pindad, ada pula dari perusahaan swasta lain. Berikut beberapa alutsista buatan dalam negeri yang sudah dipasarkan ke berbagai negara.

Senapan Serbu 2

SS2-V4 HB

SS2-V4 HB (Pindad)

Senapan Sebu (SS) 2 merupakan senjata api buatan PT Pindad. SS2 merupakan generasi penerus dari SS1. Bahkan saat ini PT Pindad sudah meluncurkan SS3. Ada beragam versi SS 2 yang dibuat Pindad.

Misalnya SS2-V5 yaitu varian SS2 dengan laras yang diperpendek. SS2-V5 menggunakan laras dengan panjang 255 mm yang dapat menembak dengan efektif sampai dengan jarak 200 meter.

SS2-V5 memiliki tingkat mobilitas yang sangat tinggi serta cocok untuk digunakan dalam berbagai skenario pertempuran jarak dekat. Ada juga SS2-V4 HB yaitu varian SS2 dengan laras yang diperkokoh, Heavy Barrel.

Heavy barrel yang disematkan pada SS2-V4 ini membawa peningkatan pada performa, dengan membuat senjata ini lebih akurat saat menembak. Senjata ini pula yang digunakan TNI Angkatan Darat (AD) saat menjuarai lomba tembak antarnegara, Australian Army Skill At Arms Meeting (AASAM) 2019.

Ini kali kedua belas TNI AD menjuarai ajang lomba tahunan tersebut. “Senjata yang dipakai salah satunya SS2 V4 HB dengan munisi kaliber 5.56 mm,” kata Sekretaris Perusahaan PT Pindad Tuning Rudyati sebagaimana dikutip dari Liputan6.com.

SS2 merupakan produk langganan negara-negara Afrika seperti Zimbabwe, Mozambik, dan Nigeria. Selain itu, Thailand dan Singapura juga kerap memesan senjata tersebut

Uni Emirat Arab, Brunei Darussalam, Irak, Bangladesh, dan Myanmar menjadi negara yang menggunakan produk dalam negeri ini. Setidaknya Pindad telah berhasil menjual senapan ini lebih dari 50.000 pucuk ke berbagai belahan dunia.

Panser Anoa

alutsista Indonesia

Panser Anoa amfibi (Pindad)

Alutsista Indonesia ini juga buatan PT Pindad. Perusahaan pelat merah itu memiliki beragam varian Anoa misalnya Anoa Mortar, amfibi, untuk ambulans, sampai untuk logistik, dan mengangkut personel.

Misalnya Anoa 6×6 Mortar adalah varian Anoa yang dilengkapi dengan pelontar mortir 81 mm dengan recoil system. Untuk mendukung pengoperasiannya, Anoa ini juga dilengkapi dengan rak munisi serta atap yang dapat dibuka dan ditutup secara otomatis dengan sistem hidrolis.

Kemudian ada Anoa Command yang didesain untuk menjadi kendaraan bagi komandan dalam memimpin serta mengarahkan pasukan dalam pertempuran. Kendaraan tempur ini memiliki kapasitas 7 orang personel termasuk pengemudi.

Anoa tipe Command Memiliki top speed 80 km/h pada jalan raya dengan daya jelajah 600 kilometer dengan daya maksimal 320 Horsepower. Terbaru ada panser APC Anoa 6×6 tipe amfibi.

Alutsista Indonesia mampu melakukan manuver baik di darat maupun permukaan air. Dalam beroperasi di air, Anoa Amphibious dapat mencapai top speed 10 km/jam.

Selain TNI Negara lain yang menggunakan panser ini adalah Malaysia, Brunei Darussalam dan Oman. Untuk memenuhi kebutuhan pasar dunia, kendaraan 6×6 ini terus dikembangkan oleh Pindad.

Kapal Stategic Sealift Vessel (SSV)

alutsista Indonesia

Kapal SSV buatan PT PAL (Liputan6.com)

Kapal SSV merupakan kapal perang yang diproduksi PT PAL (Persero). BUMN di sektor galangan ini telah mengekspor dua kapal perang ini ke Filipina.

Kapal SSV ini mampu menampung hingga 621 penumpang dan dapat bertahan di lautan selama 30 hari dengan bobot maksimal 7.200 ton.

Tak hanya itu, ia juga mampu menampung tank, kendaraan tempur, mobil rumah sakit, hingga kapal patroli dan transporter. Kapal ini memiliki panjang 123 meter dan lebar 21 meter.

Alutsista buatan Indonesia ini mampu menjangkau perairan dangkal serta dapat difungsikan sebagai rumah sakit apung dan SAR ketika sedang terjadi bencana.

SSV ini merupa kan kapal hasil inovasi dari produksi kapal sebelumnya, yaitu kapal landing platform dock (LPD) yang merupakan alih teknologi dengan Korea.

Kapal jenis ini telah banyak digunakan pada operasi militer dan kemanusiaan tingkat internasional dan telah diakui kemampuannya seperti penyelamatan MV Kudus di Somalia dan pencarian korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501.

Tidak hanya Filipina, sejumlah negara juga tertarik untuk membeli kapal perang buatan PT PAL, di antaranya Malaysia, Nigeria, Senegal, Guyana Bissau, dan Gabob.

Kepala Roket

Perusahaan nasional ternyata ada yang mampu membuat kepala roket (smoke warhead) yang produknya mampu bersaing dengan buatan negara lain. Perusahaan yang memproduksi kepala roket tersebut adalah PT Sari Bahari dari Ngalam, Malang, Jawa Timur.

Sebagaimana dikutip dari Liputan6.com, smoke warhead hasil produksi Sari Bahari telah diekspor ke Chili. Kualitas smoke warhead diakui mengalahkan produk serupa buatan pabrikan Amerika Serikat (AS) dan Rusia.

Pesawat CN325

pesawat CN 325

Pesawat CN 325 (Liputan6.com)

Pesawat CN 235 jenis Maritime Patrol Aircraft (MPA) produksi PT Dirgantara Indonesia menjadi salah satu alutsista buatan Indonesia yang diminati negara lain.

Pada 2011-2012 lalu, PT DI memenuhi permintaan Korea Selatan yang memesan empat pesawat itu melalui kontrak yang ditandatangani pada 2008 dengan nilai total US$94,5 juta.

Negara lain yang berminat dengan pesawat ini adalah Malaysia, Thailand Pakistan, Filipina hingga Uni Emirat Arab. Pesawat yang merupakan modifikasi dari CN-235 itu, cocok untuk melakukan patroli perairan di samping bisa difungsikan untuk angkutan personel.

Keunggulan dari pesawat dengan berkapasitas 49 penumpang yang termasuk alutsista Indonesia ini antara lain adalah mampu lepas landas dengan jarak yang pendek dan kondisi landasan yang belum beraspal.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.