Naik Turun Harga BBM dari Era Soeharto hingga Jokowi

Dari era Soeharto hingga Jokowi, naik turun harga BBM selalu menjadi headline pemberitaan lantaran berkaitan dengan hajat hidup orang banyak.

JEDA.ID – Tahun 2020 disambut dengan harga BBM yang mulai turun per 5 Januari. Pertamina mengumumkan penyesuaian harga yang berlaku untuk BBM (bahan bakar minyak) jenis Pertamax, Pertamax Turbo, Pertamina Dex dan Dexlite.

Sejak menjabat sebagai Presiden pada periode pertama 2014-2019, Joko Widodo (Jokowi) mengubah sistem penyesuaian harga BBM. Dari semula BBM dengan harga tetap bersubsidi menjadi harga BBM yang menyesuaikan pasar.

Presiden ke-7 RI itu juga mengalihkan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke anggaran infrastruktrur, sehingga harga BBM bersubsidi naik. Racikan strategi BBM itu sebenarnya sudah disuarakan ketika masa kampanye Pemilihan Presiden.

Beban subsidi BBM di APBN 2014-2017 turun 58 persen, sehingga pemerintah bisa mengalihkan anggaran untuk subsidi BBM ke belanja lain yang lebih produktif.

SBY dan Gus Dur

Hal ini berbeda dengan sejumlah Presiden era sebelumnya. Di masa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), subsidi BBM menguras anggaran pemerintah. Meski negara merugi, rakyat lebih mendapat kepastian tentang harga BBM yang konsisten.

Menaikan BBM di era SBY akan menjadi beban politik. Apalagi, di tahun-tahun periode kedua SBY terus mendapat tekanan gelombang protes dan penolakan akan kenaikan harga BBM.

Selama dua periode kepemimpinan SBY, telah terjadi tiga kali kenaikan harga BBM. Dengan rata-rata kenaikan di atas Rp2.000 per liter.

Presiden SBY tiga kali menaikkan harga BBM dan tiga kali pula menurunkan harga BBM. Sepanjang sejarah Indonesia merdeka, SBY tercatat sebagai presiden yang paling tinggi menaikkan harga BBM.

Pada Maret 2005, SBY menaikkan harga BBM sebesar Rp2.100 per liter. Semula, harga BBM sebesar Rp2.400 dan dinaikkan menjadi Rp4.500 per liter.

Kenaikan harga BBM tertinggi kedua sepanjang sejarah dilakukan oleh Presiden SBY. Setelah menaikkan harga BBM dari Rp2.400 menjadi Rp4.500, SBY kembali menaikkan harga BBM pada Mei 2008.

Besaran kenaikannya sekitar Rp 1.500 per liter. Dari semula Rp4.500 menjadi Rp6.000 per liter. Sejauh ini, harga tersebut adalah harga BBM paling tinggi sepanjang sejarah.

Sebelum SBY, Abdurrahman Wahid juga sempat menaikkan harga BBM pada Oktober 2000. Besaran kenaikan Rp550 per liter dari semula Rp600 menjadi Rp1.150 per liter.

Namun kebijakan kenaikan ini sebelumnya diikuti dengan harga BBM yang sempat turun Rp600 per liter pada April 2000.

Era Soeharto

Di zaman Soeharto kenaikan harga BBM terjadi alam selang waktu yang cukup lama. Pada April 1968 naik empat kali lipat, Mei 1980 naik tiga kali lipat, Juli 1991 naik 20% dan Mei 1998 naik paling tinggi hingga 71%.

Harga BBM pernah konstan berada di kisaran Rp700 per liter. Namun nahas, krisis ekonomi menghantam Indonesia pada 1998.

Soeharto menaikkan harga BBM sebesar Rp500 per liter. Dari semula Rp700 menjadi Rp1.200 per liter pada 5 Mei 1998.

Kebijakan ini yang memperburuk kinerja Soeharto di mata masyarakat hingga akhirnya pada bulan itu juga Soeharto lengser dari kursi presiden yang dikuasainya selama lebih dari 32 tahun.

Kejadian ini berbanding terbalik dengan kenaikan di era 1960-an. Era itu ekonomi Indonesia sedang hancur-hancurnya. Hiper Inflasi maha tinggi pernah terjadi pada zaman Presiden Sukarno.

Sukarno akhirnya pun lengser pada 12 Maret 1967, setahun setelah Supersemar 1966. Soeharto menjadi Pejabat Presiden kemudian pada 27 Maret 1968 Soeharto dilantik menjadi presiden Indonesia.

Belum genap sebulan jadi presiden, Soeharto, berpidato 24 April 1968 mengumumkan kenaikan harga bensin sebesar empat kali, dari Rp4 menjadi Rp16 per liter.

Selain harga bensin harga minyak tanah dinaikkan dari Rp1,75 menjadi Rp4 per liter, minyak solar dari Rp3,50 menjadi Rp12.

Saat harga BBM naik, tak ada gejolak yang membuat Soeharto dituntut mundur oleh banyak kelompok karena menaikkan harga BBM.

Cara Beli BBM Tanpa Uang Cash dan Kendalanya

Naik Turun Era Jokowi

Mari melihat apa yang terjadi pada era Jokowi. Selang sebulan berkantor di Istana Negara pada November 2014, Jokowi mengubah skema subsidi menjadi penugasan ke Pertamina dan turut mengerek harga BBM.

Kala itu, harga Premium naik menjadi Rp 8.500 per liter dari semula Rp 6.500 per liter. Sedangkan, harga Solar melonjak menjadi Rp 7.500 per liter dari Rp 5.500 per liter.

Tak lama tahun berganti, Jokowi menurunkan harga BBM. Alasannya, mengikuti perkembangan harga minyak mentah dunia dan kebijakan subsidi tetap yang diterapkannya. “Harga BBM turun mengikuti harga pasar dunia,” katanya saat itu.

Namun, lagi-lagi baru dua bulan berselang, Jokowi kembali mengerek harga BBM pada Maret 2015. Saat itu, Premium naik dari Rp6.600 menjadi Rp6.800 per liter dan kemudian naik lagi menjadi Rp7.400 per liter. Sedangkan Solar dari Rp6.400 menjadi Rp6.900 per liter.

Nonsubsidi Disasar

Tak hanya BBM subsidi, pemerintah juga mengerek harga BBM nonsubsidi pada 2015. Pertalite dan Dexalite masing-masing naik Rp1.000 per liter. Pada 2016, kini giliran harga Pertamax yang naik dari Rp8.600 menjadi Rp8.900 per liter. Lalu, Pertamax Turbo naik dari Rp9.600 menjadi Rp10.100 liter dan Dexalite dari Rp9.250 menjadi Rp10 ribu per liter.

Namun, pada April 2016, harga Premium dan Solar kembali diturunkan, masing-masing turun Rp450 dan Rp550 per liter. Lalu, pada Oktober 2016, harga Premium kembali turun Rp450 per liter, sedangkan harga Solar naik Rp600 per liter. Kemudian, pada November 2016, giliran harga Pertamax dan Pertamax Plus yang naik sekitar Rp250 per liter.

Memasuki awal 2017, Jokowi kembali mengerek harga Pertalite, Pertamax, dan Dexalite, masing-masing Rp300 per liter. Meski Jokowi tak mengerek harga di pertengahan tahun, namun pada akhir 2017, ia kembali mengerek harga Pertamax sekitar Rp300 per liter.

Pada awal 2018, Jokowi sempat menaikkan harga Pertamax sebesar Rp200 per liter menjadi Rp8.600 per liter, dan Pertamax Turbo naik Rp250 per liter menjadi Rp9.600 per liter. Lalu, sekitar Februari 2018, harga Pertamax dan Pertamax Turbo kembali naik, masing-masing Rp300 dan Rp500 per liter.

Usai Lebaran, harga Dexalite naik Rp900 per liter, Pertamax naik Rp600 per liter, Pertamina Dex Rp400 per liter, dan Pertamax Turba Rp500 per liter. Setelahnya, harga Pertamax naik Rp900 per liter menjadi Rp10.400 per liter pada 10 Oktober 2018 lalu.

Setelahnya, harga BBM konstan hingga pada akhirnya dilakukan penyesuaian pada awal 2020 ini.

Pertalite & Premium, BBM Sejuta Umat Diusulkan Dihapus

Ditulis oleh : Jafar Sodiq Assegaf

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.