Mereka yang Kecewa setelah Kabinet Indonesia Maju Terbentuk

Ada yang sempat kecewa, namun akhirnya batal karena akhirnya masuk Kabinet Indonesia Maju. Ada pula yang masih memendam kekecewaan.

JEDA.ID–Hiruk pikuk pembentukan kabinet pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin sudah berlalu. Namun, masih tersisa kekecewaan dari beberapa pihak terkait formasi Kabinet Indonesia Maju.

Ada 34 menteri, 4 pejabat setingkat menteri, serta 12 wakil menteri yang telah diumumkan Jokowi. Mereka berasal dari berbagai latar belakang mulai politikus, sukarelawan, sampai profesional.

Presiden Jokowi mengakui tidak bisa menyenangkan semua pihak dengan komposisi Kabinet Indonesia Maju yang baru saja diumumkannya itu.

”Jadi saya mohon maaf tidak bisa mengakomodasi semuanya karena ruangnya hanya 34 [menteri],” tutur Jokowi di Jakarta, Sabtu (26/10/2019), sebagaimana dikutip dari Detikcom.

Suara kekecewaan sempat muncul dari kalangan kiai Nahdlatul Ulama (NU) karena Menteri Agama (Menag) diisi Fachrul Razi yang memiliki latar belakang militer. Selama ini, posisi Menag kerap dipegang tokoh nahdliyin baik yang berkiprah di partai politik atau tidak.

Ketua Pengurus Harian Tanfidziyah PBNU KH Robikin Emhas mengaku mendapat banyak pertanyaan dari kiai. ”Selain pertanyaan, banyak kiai dari berbagai daerah yang menyatakan kekecewaannya dengan nada protes,” kata Robikin dalam keterangan tertulis, Rabu (23/10/2019).

Robikin menuturkan para kiai paham kemenag harus berada di garda depan dalam mengatasi radikalisme berbasis agama. Tapi, keputusan Jokowi memilih Fachrul Razi dipertanyakan kiai.

Wakil Menteri Jadi “Obat”

Dua hari berselang setelah pengumuman menteri Kabinet Indonesia Maju, Jokowi mengumumkan wakil menteri pada Jumat (25/10/2019), salah satunya Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid. Zainut merupakan politikus PPP yang juga berlatar belakang nahdliyin.

”Berkaitan dengan penunjukan Menteri, pembantu presiden, kewenangan penuh ada di Presiden dan saya yakin Presiden punya alasan dan tujuan terhadap penempatan pembantu-pembantunya. Meski saya mewakili PPP, warna saya, darah saya NU. Tapi ketika saya menjabat, kepentingan itu saya tanggalkan,” kata Zainut sebagaimana dikutip dari Antara.

Rekam jejaknya di NU antara lain, dia pernah menjadi Ketua Umum PP Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) selama dua periode pada tahun 1988-1996.

Sukarelawan Pro Jokowi (Projo) sempat melontarkan kekecewaan mereka saat 34 menteri Kabinet Indonesia Maju diumumkan. Bahkan mereka menyatakan membubarkan diri.

Namun, dua hari berselang, kekecewaan mereka ”terobati” saat Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi ditunjuk menjadi Wakil Menteri Desa PDTT.

Budi Arie menepis anggapan dipilih Jokowi jadi Wakil Menteri Desa PDTT di Kabinet Indonesia Maju karena ngambek dan membubarkan Projo. Budi mengatakan tidak boleh bawa perasaan dalam politik.

”Itu kan persepsi teman-teman. Kami mau istirahat. Kan sudah selesai, menang pilpres. Kalau ngambek kan kamu yang ngomong. Politik enggak boleh baper,” kata Budi setelah ditunjuk menjadi wakil menteri.

Muhammadiyah mengakui ada kekecewaan setelah posisi Mendikbud diisi Nadiem Makarim. ”Ada kekecewaan pasti, sebagaimana NU merasa dicuri portofolionya di Kemenag,” kata Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Fahmi Salim di Jakarta sebagaimana dikutip Detikcom.

Meski demikian, Fahmi menegaskan kekecewaan itu bukan dalam urusan pragmatis karena Muhammadiyah tidak ikut dalam politik praktis.

Dari beberapa kali kabinet, tokoh Muhammadiyah kerap mengisi pos Mendikbud. Terakhir ada Muhadjir Effendy. Dalam pemerintahan Jokowi-Ma’ruf, Muhadjir masih masuk kabinet Kabinet Indonesia Maju. Bahkan posisinya menjadi Menko PMK, menteri koordinator yang membawahi Kemendikbud juga.

Sikap Partai

Dari kalangan partai, kekecewaan disampaikan sejumlah kader Partai Hanura. Partai ini menjadi salah satu partai pengusung Jokowi-Ma’ruf di Pilpres 2019.

Ketua DPP Partai Hanura Inas Nasrullah Zubir mengakui partainya kecewa, tetapi dia mengklaim bukan berarti memaksakan kehendak untuk meminta-minta jatah dari Jokowi.

”Kami sepenuhnya mendukung keputusan apapun yang diambil oleh Presiden, dan itulah totalitas Hanura,” kata sebagaimana dikutip dari Bisnis.com.

Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief secara tidak langsung juga menyampaikan kekecewaannya karena Agus Harimutri Yudhoyono (AHY) tak masuk Kabinet Indonesia Maju.

Dia menganggap gagalnya Demokrat masuk kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin karena dijegal oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

“Awalnya saya menduga bahwa dendam Ibu Megawati itu hanya pada Pak SBY, ternyata turun juga ke anaknya, Agus Yudhoyono. Tadinya saya melihat Pak Jokowi mampu meredakan ketegangan dan dendam ini, rupanya belum mampu,” tutur dia.

PDIP menganggap pernyataan Andi itu penuh spekulasi yang tidak bisa diukur. “Itu adalah sekadar spekulasi yang sensasional. Ukuran rasionalnya apa? Tidak duduk dalam Kabinet Indonesia Maju?” ungkap anggota Fraksi PDIP Aria Bima.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.