Kondisi Wamena Pulih, Begini Cara Memulihkan Anak-Anak dari Trauma

Menghilangkan trauma pada anak menjadi perhatian pascakerusuhan di Wamena, Papau yang bisa dilakukan dengan berbagai macam cara.

JEDA.ID— Menghilangkan trauma pada anak menjadi perhatian pascakerusuhan di Wamena, Papau. Pengungsi Wamena mulai berkurang. Sejumlah warga yang sempat berbodong-bondong meninggalkan Kota Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Papua tak lagi terlihat di Lanud Wamena.

Pesawat Hercules yang sebelumnya mengangkut 120-150 orang per satu kali terbang, pada Minggu (6/10/2019), hanya mengangkut 15 orang. Komandan Lanud Silas Papare Jayapura, Marsma TNI Tri Bowo Budi Santoso menuturkan untuk sementara evakuasi pengungsi dari Wamena dengan pesawat Hercules dihentikan.

“Pengungsi di Lanud Wamena sudah mulai berkurang, bahkan tidak ada lagi. Kalau pun ada pengungsi yang masih bertahan di Polres dan Kodim Jayawijaya , itu karena masih ragu dengan keamanan di Wamena. Semua akan berangsur pulih,” jelas Danlanud, Senin (7/10/2019) seperti dilansir Liputan6.com.

Menurut Danlanud, hingga Senin, sedikitnya 16.000 lebih pengungsi yang keluar dari Wamena. Untuk pengungsi yang diangkut dengan Hercules ada sekitar 11.000 orang lebih. Sementara untuk warga yang menggunakan pesawat sipil mencapai 4,000 orang lebih. Sebelumnya, kerusuhan di Wamena menyebabkan puluhan korban meninggal.

“Data terakhir ada 30 jenazah dan sebagian besar sudah dikirim ke Jayapura,” kata Gubernur Papua Lukas Enembe di Wamena, yang dikutip dari Antara, Rabu (25/9/2019).

Lukas, yang mewakili pemerintah, juga menyampaikan dukacita kepada keluarga korban. Lukas mengatakan aksi anarkistis itu terjadi tiba-tiba tanpa diketahui pemerintah. “Kejadian tiba-tiba dan memaksa siswa-siswa, oleh kelompok yang kami tidak tahu dari mana tetapi mereka memaksa anak-anak sekolah yang masih ulangan untuk melakukan aksi kriminal,” katanya.

Untunglah, suasana mencekam tak lagi terlihat di kota dengan julukan Lembah Baliem itu. Warga di Kota Wamena mulai pulih pasca rusuh, hilir mudik kendaraan juga terlihat memenuhi ruas jalan di Kota Wamena.

Termasuk dengan aktivitas perekonomian di Wamena mulai terlihat normal. Pasar Jibama dan Sinakma yang menjadi pasar terbesar di Wamena juga mulai terlihat aktivitasnya. Interaksi jual beli sudah terjadi di pasar tersebut. Pedagang sayuran mulai menggelar hasil kebunnya. Tak terlihat lagi raut muka takut atau khawatir akan terjadi rusuh susulan.

Menghibur Anak

Persatuan Istri Prajurit (Persit) Korem 172 Praja Wira Yakthi/PWY dari Kodam XVII/Cenderawasih mengajak anak-anak pengungsi korban kerusuhan Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua bermain dan bernyanyi.

Ketua Persit Koorcabrem 172 Dewi Binsar Sianipar di Jayapura, Selasa menjelaskan, dalam kegiatan yang dilakukan di tempat pengungsian Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) XVIII Jayapura, Distrik Abepura, Kota Jayapura pada Senin, ia didampingi sejumlah pengurus lainnya.

“Kerusuhan yang terjadi di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya pada dua pekan lalu telah menyebabkan duka mendalam yang dialami oleh warga perantau, khususnya anak-anak usia sekolah, selain itu juga mengakibatkan kerugian material maupun imaterial yang begitu besar,” katanya seperti dilansir Antara.

Selain itu, lanjut dia, kerusuhan itu juga “mencuri” keceriaan dan senyuman, khususnya anak-anak yang terdampak dan masih merasakan perasaan ketakutan serta trauma.

“Sehingga bersama pengurus Persit Koorcabrem 172/PWY kami melaksanakan bakti sosial dengan memberikan berbagai bantuan sebagai wujud kepedulian dan keprihatinan antarsesama serta menggelar pemulihan trauma kepada anak-anak,” katanya.

Menurut dia, berbagai cara dan pendekatan dilakukan oleh Persit Koorcabrem 172/PWY untuk mengembalikan keceriaan dan senyuman anak-anak pengungsi, salah satunya dengan membagikan buku bacaan, mengajak anak-anak bermain dan benyanyi bersama.

Sehari sebelumnya, kata Ny Dewi, Persit Koorcabrem 172 menerima sumbangan buku bacaan dari Ketua Umum Dharma Pertiwi Ny. Nanny Hadi Tjahjanto yang diserahkan secara simbolik oleh Ketua Dharma Pertiwi Daerah H, Ny Mudi Herman Asaribab.

Pemberian buku bacaan tersebut sebagai upaya Ketua Umum Dharma Pertiwi dalam meningkatkan literasi generasi muda Papua tercinta. “Buku yang kami terima cukup banyak, mulai dari tingkat TK hingga SMA. Untuk itu, segera kami salurkan atau berikan kepada anak-anak pengungsi korban kerusuhan Wamena, juga nantinya akan kita berikan kepada sekolah-sekolah,” katanya.

Menghilangkan Trauma

Tidak ada yang menginginkan kerusuhan terjadi di mana pun mereka tinggal. Mengingat kekerasan dan kerusuhan tidak akan memecahkan masalah, namun justru menimbulkan masalah baru. Tidak hanya korban jiwa, kerusuhan juga akan memberikan trauma bagi warga terutama anak-anak.

Agar trauma akibat kerusuhan pada anak tidak berlarut-larut orang tua dan lingkungan harus melakukan sesuatu. Berikut sejumlah cara meminimalisasi trauma pada anak seperti dilansir dari berbagai sumber.

1. Beri Anak Perhatian

Anak yang mengalami trauma harus mendapat perhatian khusus dan lebih dari lingkungan, keluarga, terutama orang tua. Beri mereka pelukan agar merasa lebih aman dan nyaman.

2. Juahkan dari hal-hal penyebab trauma

Anak-anak harus dijauhkan dari hal-hal yang berhubungan dengan penyebab trauma, sseperti tidak menonton tayangan kekerasan, bencana, atau kriminal. Hal ini hanya akan membuat trauma anak lebih buruk, anak dapat mengingat kembali apa yang terjadi, membuat anak takut dan stres.

3. Pahami reaksi anak terhadap trauma

Reaksi anak terhadap trauma berbeda-beda, Orang tua harus memahami dan menerima reaksi anak ini dapat membantu anak pulih dari trauma. Anak mungkin dapat bereaksi dengan cara sangat sedih dan marah, tidak dapat berbicara, dan mungkin ada yang berperilaku seolah-olah tidak pernah terjadi hal menyakitkan terhadap dirinya. Beri anak pengertian bahwa perasaan sedih dan kecewa merupakan perasaan yang wajar mereka rasakan saat ini.

4. Berbicara pada anak

Dengarkan cerita anak dan pahami perasaan mereka, beri jawaban yang jujur dan mudah dimengerti anak jika ia bertanya. Jika anak terus bertanya pertanyaan yang sama, artinya ia sedang kebingungan dan sedang mencoba untuk memahami apa yang terjadi. Gunakan kata-kata yang membuat anak nyaman, bukan menggunakan kata-kata yang dapat membuat anak takut. Bantu anak dalam mengutarakan apa yang mereka rasakan dengan baik.

5. Ajak Bermain dan Beraktivitas

Kegiatan bermain dan melakukan aktivitas positif bisa menjadi cara untuk melupakan trauma yang dirasakan anak.

6. Beri Dukungan

Saat merasa trauma, anak sangat membutuhkan orang tua dan kasih sayng orang-orang sekitar. Beri keyakinan pada anak bahwa ia bisa melewati hal ini dan juga katakan bahwa masih banyak orang-orang baik yang sangat menyayanginya.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Menarik Juga

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.