Kisi-Kisi Pendidikan Seksual untuk Anak SD

Pendidikan seksual untuk anak juga bisa menyentuh tentang arti pernikahan. Ajarkan bahwa setiap orang punya hak untuk menikah.

JEDA.ID–Banyak orang tua yang masih menganggap tabu pendidikan seksual untuk anak-anak. Padahal, berbagai penelitian menyebutkan pentingnya pendidikan seksual sejak dini. Lantas bagaimana orang tua menyampaikan pendidikan seksual untuk anak yang masih masih usia SD?

Lembaga internasional UNICEF, WHO, dan UNAIDS memiliki panduan pendidikan seksual konprehensif bagi orang tua dan guru di sekolah. Ketiga lembaga tersebut membagi pendidikan seksual anak berdasarkan usia.

Berikut kisi-kisi pendidikan seksual untuk anak usia SD sebagaimana dikutip dari laman Sahabat Keluarga Kemendikbud, beberapa waktu lalu.

Usia 5-8 Tahun

Pada usia ini, pendidikan seksual bisa dimulai dari hal mendasar yaitu menjelaskan kepada anak mengenai fungsi dan peran keluarga. Orang tua juga memberikan penjelasan bahwa ayah dan ibu berperan sebagai orang tua yang bertanggung jawab terhadap anak-anak.

Setiap anggota keluarga harus saling menjaga satu sama lain. Komunikasi yang baik antar anggota keluarga akan membangun hubungan yang sehat dalam keluarga.

Kemudian orang tua harus mengajarkan anak untuk berteman dengan siapa pun. Ajarkan mereka untuk berteman berlandaskan pada rasa percaya, peduli, empati, dan solidaritas.

Alasan Mengapa Usia Masuk SD Harus 7 Tahun

Saat usia ini, pendidikan seksual juga mencakup tentang cara mengekspresikan cinta dan kasih. Bisa mulai mengajarkan anak tentang cara mengekspresikan kasih sayang, baik dengan kata-kata maupun perbuatan. Termasuk mengajarkan untuk mengatakan salam dan berterima kasih.

Anak juga harus dikenalkan dengan perbedaan. Setiap orang terlahir unik dan layak untuk dihargai. Setiap orang memiliki hak yang sama untuk hidup dengan baik.

Pada tahap berikutnya, bisa mulai memberikan pemahaman tentang arti pernikahan. Ajarkan bahwa setiap orang punya hak untuk menikah. Ceritakan bagaimana orang tua bisa menikah dan lantas punya anak.

Ini akan membangun pemahaman dasar bahwa anak lahir setelah ada hubungan pernikahan antara ibu dan ayah.

Usia 9-12 Tahun

Di jenjang usia ini, pendidikan seksual akan berkembang seiring perkembangan mereka. Pada tahap ini anak tak hanya tahu peran, namun juga tanggung jawab sebagai anggota keluarga, misalnya kakak dan adik juga bertanggung jawab saling menjaga selama bermain.

Misalnya jika ada hal yang membahayakan, kakak atau adik harus segera memberi tahu ayah atau ibu. Kemudian bisa melibatkan anak dalam mengambil keputusan. Hargai anak dengan mengajak dalam musyawarah keluarga.

Anak akan merasa dihargai dan lebih percaya diri untuk mengungkapkan isi pikiran mereka. Pendidikan seksual untuk anak usia ini juga bisa menyentuh soal pertemanan yang sehat. Orang tua bisa mengenalkan anak tentang hubungan pertemanan yang sehat dan tidak sehat.

Manfaat Teka-Teki Kreatif yang Bisa Asah Otak Anak

Jika dalam pertemanan terjadi kekerasan, seperti memukul, mencaci atau membully, artinya hubungan pertemanan tidak sehat. Melecehkan, mengucilkan, dan memukul itu melukai hati seseorang.

Tentang pernikahan, anak usia ini bisa mulai disampaikan tentang kehamilan terjadi karena wanita dan pria sepakat menikah. Pendidikan seksual untuk anak usia juga harus menyampaikan tentang orang tua bisa mengadopsi anak atau cara lain untuk punya anak.

Bisa pula memberikan penjelasan lebih detail apa itu hamil dan mengapa orang mengadopsi anak. Setiap orang berhak memutuskan untuk menjadi orang tua.

Setelah menjadi orang tua, orang dewasa harus bertanggung jawab terhadap anak mereka. Beberapa hal itu bisa menjadi kisi-kisi atau bahan awal untuk menyampaikan pendidikan seksual untuk anak SD.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.