Kejahatan Jalanan Mengintai, Bela Diri Ini Cocok bagi Perempuan

Kaum perempuan harus berani dan bila perlu membekali diri dengan ilmu bela diri.

JEDA.ID- Jalanan tampaknya masih belum aman dan ramah bagi kaum hawa. Aksi kejahatan jalanan kerap mengintai mereka kapanpun dan di manapun seperti kasus penjambretan, pembegalan hingga pelecehan seksual.

Hal itulah yang membuat Indrawati, 34, warga Mojosongo, Jebres, Solo ini selalu waspada saat berada di jalanan terutama kala sendirian. Karyawati swasta ini berusaha mencari jalan yang ramai saat terpaksa harus mengendarai sepeda motor sendirian.

“Sampai sekarang, untunglah belum pernah mengalami ya [jadi korban kejahatan di jalan]. Tapi kalau say abaca-baca berita memang ngeri juga. Kejahatan penjambretan sering banget terjadi. Untuk itu saya selalu waspada saat naik motor sendirian, cari jalan yang ramai, biar kadang macet nggak apa-apa yang penting aman,” ujar Indrawati kepada Jeda.id, Rabu (7/8/2019).

Kasus kejahatan jalanan memang lebih sering mengintai kaum perempuan yang dianggap sebagai kaum lemah oleh pelaku. Komisioner Komnas Perempuan, Saur Situmorang berujar perempuan memang rentan menjadi korban tindak kejahatan jalanan.

“Kekerasan terhadap perempuan di mana saja hampir tidak ada ruang aman bagi perempuan baik diruang publik, dan termasuk di jalanan,” kata Saur Situmorang saat berbincang dengan Okezone belum lama ini.

Studi yang dilakukan oleh perusahaan riset Singapura, Value Champion, menemukan bahwa Indonesia adalah negara paling berbahaya kedua bagi perempuan di kawasan Asia Pasifik. Dari 14 negara Asia Pasifik yang dianalisis, India, Indonesia dan Filipina dianggap sebagai negara yang paling tidak aman bagi perempuan.

Akses di bawah standar untuk perawatan kesehatan, lemahnya undang-undang tentang keselamatan perempuan dan ketidaksetaraan gender adalah alasan ketiga negara tersebut berada di posisi tiga terbawah. India mendapat skor terendah, diikuti oleh Indonesia, yang berada di peringkat ke-13, dan Filipina di urutan ke-12.

“Sikap patriarkal yang mengakar kua menyebabkan perempuan [di tiga negara ini] lebih khawatir akan kesejahteraan mereka daripada (perempuan) di negara lain dalam daftar kami,” tulis Anastassia Evlanova yang merupakan analis riset di Value Champion.

Berani Melawan

Untuk menghentikan munculnya lagi korban-korban kasus kejahatan jalanan, kaum perempuan harus bisa membela diri. Seperti yang dilakukan Nur Alfia Mardiana, 20, mahasiswi perguruan tinggi Solo asal Kecamatan Wonosegoro, Boyolali, yang menjadi korban penjambretan di Jl. Jaya Wijaya, Banjarsari, Solo, Sabtu (3/8/2019) lalu. Namun dengan penuh keberanian, Nur Alfia berhasil menggagalkan kejahatan jalanan yang mengancamnya.

Pada Senin (5/8/2019), Nur Alfia datang ke Mapolsek Banjarsari untuk memberikan keterangan terkait kasus penjambretan yang dialaminya. Meskipun beberapa bagian wajah, tangan, dan kakinya masih tertutup perban ia bersyukur luka yang dialaminya tidak begitu parah. Luka di sekujur tubuhnya terjadi saat ia jatuh terguling seusai menabrak penjambret yang mengambil dompetnya. Nur Alfia datang memberikan keterangan ke Mapolsek Banjarsari dengan berjalan tertatih dibantu keluarganya.

Ditemui Solopos.com di Mapolsek Banjarsari, Nur Alfia mengaku tidak menyangka ia berani mengejar penjambret bahkan menabraknya menggunakan sepeda motor Honda Vario berpelat nomor AD 3927 KW. Ia mengaku tidak memiliki bekal bela diri apa pun, hanya bermodal nekat saat mengejar penjambret.

“Saya juga tidak tahu kok berani, pokoknya saya tidak mau kehilangan benda-benda saya seperti handphone dan dompet saya kan ada STNK. Pas dompet saya diambil saya refleks mengejar, eh motor pelaku Yamaha Fino berpelat nomor AD 6703 AND kok tidak bisa lari kencang. Setelah satu kilometer [km] saya tabrak terus saya jatuh ke kiri,” ujarnya.

Ia mengaku sempat jatuh berguling-guling, bahkan sempat cekcok dengan pelaku. Semula, warga mengira hanya kecelakaan biasa, namun setelah Nur Alfia berteriak jambret warga langsung menangkap pelaku.

Keberanian memang modal utama untuk mencegah aksi kejahatan di jalanan seperti yang dilakukan Nur Alfia. Namun tak ada salahnya kaum perempuan membekali diri dengan ilmu bela diri agar lebih percaya diri dan lebih berani melawan saat bahaya mengancam seperti kejahatanan jalanan.

Berikut beberapa jenis bela diri yang bisa dipelajari kaum perempuan agar lebih berani dan percaya diri yang dikutip Jeda.id dari berbagai sumber.

1. Taekwondo

Bela diri asal Korea Selatan ini menjadi ilmu bela diri yang banyak dipelajari oleh wanita. Popularitas taekwondo telah menyebabkan seni ini berkembang dalam berbagai bentuk. Seperti banyak seni bela diri lainnya, taekwondo adalah gabungan dari teknik perkelahian, bela diri, olahraga, olah tubuh, hiburan, dan filsafat.

Seni bela diri ini menekankan tendangan  dengan menggunakan daya jangkau dan kekuatan kaki yang lebih besar untuk melumpuhkan lawan dari kejauhan. Ilmu bela diri yang fokus pada teknik menendang ini dapat dipergunakan para wanita ketika berhadapan dengan pelaku kejahatan.

Pria memiliki kekuatan tubuh bagian atas yang lebih besar dibanding wanita, dan ini bisa membuat wanita lebih rentan kalah jika bertarung dengan pria. Dengan teknik tendangan Taekwondo, wanita bisa mengalahkan kekuatan pria.

2. Muay Thai

Salah satu bela diri yang sedang populer di kalangan para wanita adalah Muay Thai.  Muay Thai adalah olahraga nasional Kerajaan Thai dan turunan dari bela diri kuno Muay Boran. Sekilas Muay Thai dan Kickboxing memiliki teknik pertarungan yang hampir sama. Dalam ilmu bela diri muay thai, ada gerakan-gerakan seperti memukul, menendang, sikutan, dan serangan lutut yang dapat melindungi para wanita dari bahaya.

3. Aikido

Seni bela diri lainnya yang cocok untuk wanita yaitu Aikido. Seni beladiri yang mempunyai akar pertumbuhan dan budaya dari Jepang ini merupakan manifestasi dari modernisasi pemikiran Jepang dengan selimut budaya Jepang tradisional. Hal ini membuat seni beladiri yang dikembangkan oleh Morihei Ueshiba sekitar tahun 1800-an menjadi sangat diminati berbagai kalangan pada abad modern ini sebagai sebuah gaya hidup.

Bela diri yang mengajarkan keterampilan untuk mengembalikan kekuatan lawan dan melumpuhkannya, dapat menjadi ilmu untuk melakukan perlawanan ketika berhadapan dengan situasi yang berbahaya. Dalam bela diri asal Jepang ini, para wanita akan diajarkan teknik berupa elakan, kuncian, lemparan, hingga bantingan yang berfungsi untuk melawan bahkan melumpuhkan lawan ketika pelaku kejahatan akan melakukan aksinya.

4. Pencak Silat

Pencak silat atau silat adalah suatu seni bela diri tradisional yang berasal dari Indonesia. Seni bela diri ini juga dikenal luas di Malaysia, Brunei, dan Singapura, Filipina selatan, dan Thailand selatan sesuai dengan penyebaran berbagai suku bangsa Nusantara. Pencak silat berkembang dari ilmu beladiri dan seni tari rakyat, menjadi bagian dari pendidikan bela negara untuk menghadapi penjajah asing. Dalam sejarah perjuangan melawan penjajah Belanda, tercatat para pendekar yang mengangkat senjata, seperti Panembahan Senopati, Sultan Agung, Pangeran Diponegoro, Teuku Cik Di Tiro, Teuku Umar, Imam Bonjol, serta para pendekar wanita, seperti Sabai Nan Aluih, Cut Nyak Dhien, dan Cut Nyak Meutia.

5. Krav Maga

Krav Maga adalah bela diri yang berpusat pada pertahanan diri. Pasukan pertahanan dan badan-badan penegak hukum internasional juga menerapkan bela diri ini seperti FBI, SWAT, dan lain-lain. Sistem bela diri ini memberikan keuntungan bagi para wanita karena Krav Maga berfungsi untuk menyeimbangkan fungsi mental dan fisik ketika dalam situasi berbahaya. Ilmu bela diri ini juga mengajarkan bahwa penggunanya dapat menggunakan berbagai bagian tubuh untuk melumpuhkan lawan seperti lutut, siku, bakan telapak tangan.

6. Wing Chun

Wing Chun adalah seni bela diri Tiongkok dan bentuk bela diri yang mengkombinasikan penyerangan dan pergulatan dan spesialisasi di pertarungan jarak dekat. Wing Chun dikembangkan oleh seorang biksu perempuan. Dengan menggunakan tenaga yang tak cukup besar, wanita dapat melumpuhkan lawan secara efektif.

Selain itu, jurus-jurus dalam ilmu bela diri Wing Chun lebih berfokus untuk pertarungan jarak dekat. Sebagaimana tindakan kejahatan yang kerap dilakukan di kendaraan umum atau gang sempit, para wanita dapat menggunakan teknik Wing Chun untuk pertahanan diri.

Ditulis oleh : Anik Sulistyawati

Menarik Juga

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.