Jejak 8 Minuman Beralkohol Tradisional di Indonesia

Masing-masing daerah punya minuman beralkohol tradisional yang dihasilkan dari beragam fermentasi buah-buahan atau tumbuhan.

JEDA.ID–Berbagai daerah di Indonesia memiliki minuman beralkohol tradisional. Terlepas dari kontroversi minuman beralkohol, sejumlah daerah di Tanah Air memiliki tradisi panjang dalam mengembangkan minuman dengan kandungan zat memabukkan.

Masing-masing daerah punya minuman beralkohol tradisional yang dihasilkan dari beragam fermentasi buah-buahan atau tumbuhan. Popularitas minuman beralkohol tradisional tidak bisa dianggap remeh.

Sebab, 38,7% pengonsumsi miras memilih minuman beralkohol tradisional. Kemudian baru bir, anggur, wiski, oplosan, dan miras lainnya. Berikut 8 minuman beralkohol tradisional yang dihimpun dari berbagai sumber, Jumat (2/8/2019).

Sopi

Sopi merupakan minuman tradisional asal Maluku dan Flores. Bahan utamanya adalah enau atau aren, yang disuling dan dibiarkan berfermentasi dalam sebuah batang bambu. Secara keseluruhan, proses ini bakal memakan waktu kurang lebih 10 hari.

Sebagaimana dikutip dari Liputan6.com, sopi pada umumnya memiliki rasa manis, tetapi kadang ada juga yang senang menambahkan bahan lain seperti rempah dan akar-akaran. Minuman yang namanya diambil dari kata Belanda, zoopje ini konon sudah menjadi salah satu favorit warga setempat sejak zaman penjajahan.

Sopi bagi masyarakat setempat layaknya sebuah simbol kebersamaan. Biasanya sopi disajikan dalam momen-momen khusus, ritual, atau upacara adat. Dalam kultur mereka, sopi dianggap minuman yang prestisius.

Swansrai

Jika kebetulan berkunjung ke Papua dan mendapatkan suguhan minuman swansrai, kamu boleh berbangga hati. Sebab minuman ini konon hanya disajikan warga setempat untuk menghormati tamu yang dianggap penting. Penyajiannya pun unik karena menggunakan wadah dari tempurung kelapa.

Minuman yang dihasilkan dari fermentasi air pohon kelapa yang sudah tua. Layaknya tuak dan arak, swansrai memiliki kadar alkohol lumayan tinggi, yakni berkisar 20-30 persen.

Ballo

Tana Toraja memiliki beragam kekayaan budaya menarik untuk diselami. Salah satunya adalah minuman beralkohol tradisional bernama Ballo. Minuman ini sering disajikan masyarakat Toraja ketika sedang mengadakan pertemuan atau menggelar ritual keagamaan.

Ballo sendiri dibuat dari getah pohon lontar dan termasuk salah satu minuman khas Sulawesi Selatan yang unik karena sering disajikan dalam gelas bambu. Jenisnya ada dua, varian pertama memiliki rasa manis dan ringan dengan kandungan alkohol sekitar 10 persen, sementara varian kedua lebih keras dan asam.

Ciu

Ciu merupakan minuman beralkohol yang banyak beredar di Jawa Tengah. Ada dua jenis yaitu ciu Bekonang yang berasal dari Sukoharjo dan ciu Banyumas. Sejarah ciu bisa ditelusuri lagi sejak zaman kolonial Belanda saat ada miras dengan label Batavia Arrack van Oosten.

Kala itu Batavia Arrack van Oosten memproduksi miras dengan bahan baku yang banyak ditemui di wilayah Nusantara seperti beras yang difermentasi, tetes tebu dan kelapa.

Masyarakat tradisional Banyumas sanggup membuat racikan miras menggunakan bahan baku ketela pohon. Bahkan sampai saat ini pembuatan ciu di daerah Banyumasan masih tergolong sangat tradisional dan sebenarnya tidak mengandung campuran dari bahan kimia buatan lainnya.

Sedangkan ciu Bekonang berkembang sejak 1950-an di Mojolaban, Sukoharjo. Sebagaimana dikutip dari Solopos.com, ciu Bekonang adalah sejenis minuman keras tradisional yang dibuat dari tetes tebu dengan cara disuling. Ciu merupakan produk dari proses pertama dalam pembuatan alkohol. Saking melegendanya ciu di daerah ini ada jalan yang diberi nama Jalan Ciu.

Cap Tikus

Minuman ini merupakan minuman tradisional orang Minahasa. Cap Tikus mengandung alkohol, sama seperti swansrai, tapi lebih tinggi, yakni lebih dari 40 persen.

Memang, kadar alkohol tersebut tergantung dengan teknik penyulingannya. Makin sering disuling dengan baik, kadar alkoholnya makin tinggi. Cap Tikus dibuat dari air nira atau saguer. Mirip seperti sopi yang ada di Flores.

Lapen

Lapen adalah minuman dari Yogyakarta. Lapen sedikit keras lantaran dibuat dari cairan alkohol murni yang kadarnya mencapai 80 persen. Cairan itu dicampur dengan air biasa dengan komposisi 1:4 atau 1:5.

Baru setelahnya, lapen dicampur dengan cairan perasa buah-buahan. Di beberapa tempat, lapen dijual ilegal karena termasuk minuman keras.

Tuak

Meski bisa memabukkan jika dikonsumsi dalam jumlah banyak, tuak termasuk minuman ringan karena kandungan alkohol di dalamnya hanya sekitar delapan persen. Maka tak heran jika banyak penduduk di berbagai sudut Indonesia meneguk minuman ini setiap hari untuk menjaga suhu badan.

Tuak adalah minuman tradisional yang cukup populer. Dibuat dengan bahan dasar gula aren, sejumlah varian bisa ditemui dengan mudah di berbagai wilayah di Indonesia. Tuak di Sumatra Utara misalnya, dicampur dengan buah-buahan kering. Sementara masyarakat Lombok justru senang mengombinasikannya dengan akar-akaran dan rempah.

Arak Bali

Kalau tuak memiliki kadar alkohol tak lebih dari belasan persen, arak Bali disinyalir punya kadar lebih tinggi, yakni mencapai 30-50 persen. Dalam takaran yang tak pas, arak bakal memabukkan. Namun, fungsi utama arak bukan untuk membuat orang mabuk.

Minuman ini dipakai untuk keperluan upacara adat dengan ritual tertentu. Sama seperti daerah lain, tujuannya untuk keakraban. Arak dibuat dari fermentasi dari sari kelapa dan buah-buahan. Umumnya, arak diminum dengan campuran, seperti jus atau sirup supaya rasanya lebih nikmat.

Itulah 8 minuman beralkohol tradisional asal Indonesia. Kondisi ini sama dengan negara lain yang juga memiliki minuman beralkohol tradisional seperti Jepang yang punya sake.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.