Habibie, Mr. Crack, dan Teori Monumental Dunia Penerbangan

Dengan munculnya teori Habibie, para insinyur dunia penerbangan bisa menghitung letak dan besar retakan sehingga bobot pesawat pun bisa dikurangi.

JEDA.ID–Presiden ketiga B.J. Habibie tutup usia di RSPAD Jakarta, Rabu (11/9/2019). Sosok Habibie tidak bisa dilepaskan dari pesawat terbang. Salah satu karya monumentalnya yang digunakan industri penerbangan seluruh dunia saat ini adalah teori Habibie.

Habibie yang meninggal di usia 83 tahun menelurkan crack progression theory alias teori Habibie saat masih berusia 32 tahun. Atas temuan teori ini, Habibie mendapatkan julukan Mr. Crack.

Teori tersebut dipakai untuk memprediksi crack propagation point atau letak awal retakan pada pesawat terutama sayap. Sayap pesawat terbang yang merupakan struktur penyangga sehingga selalu menahan tekanan, apalagi saat take off (lepas landas), landing (mendarat), dan mengalami turbulensi.

Sebagaimana dikutip dari Suara.com, pria kelahiran 25 Juni 1936 itu berhasil membuat perhitungan teori Habibie sangat detail sampai ke tingkat atom.

Sebelum Habibie menemukan teori ini, kecelakaan pesawat sangat sering terjadi lantaran kelelahan material struktur pesawat sulit dideteksi.

Kemudian para insinyur pun meningkatkan safety factor dengan menambah kekuatan konstruksi untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.

Namun, cara itu bukan tanpa masalah. Salah satu masalah besar dari penerapan cara itu adalah pesawat menjadi lebih berat, terbang lebih lambat, sulit bermanuver, dan menghabiskan lebih banyak bahan bakar.

Namun, dengan munculnya teori Habibie, para insinyur dunia penerbangan bisa menghitung letak dan besar retakan sehingga bobot pesawat pun bisa dikurangi. Inilah yang disebut faktor Habibie.

Berkat temuan Habibie ini, pesawat d seluruh dunia lebih hemat bahan bakar dan standar keamanan pada pesawat ditingkatkan. Risiko kecelakaan pesawat pun berkurang, dan proses perawatannya menjadi lebih mudah dan murah.

Teori Habibie itulah yang kemudian melegenda. Namun, Habibie tidak hanya menelurkan teori, dia juga sangat lekat dengan beberapa jenis pesawat terbang yang terkenal.

Pesawat N250

Pesawat N250 tentu sangat akrab dengan nama Habibie. Awalnya, Habibie mengepalai tim pembuatan pesawat terbang Indonesia N250 pada 1995.

Pesawat penumpang sipil regional komuter turboprop ini menjadi primadona IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia) dalam upaya merebut pasar di kelas 50-70 penumpang.

Dari rencana semula dibuat empat pesawat prototipe N250, hanya dua yang telah diwujudkan yaitu Gatot Kaca, yang terbang perdana dengan 50 penumpang pada 10 Agustus 1995 dan Krincing Wesi dengan 68 penumpang pada 19 Desember 1996. Produksi pesawat ini terhenti karena krisis ekonomi 1997.

Proyek pesawat R80 juga menjadi salah satu jenis pesawat yang terkenal. Sebagaimana dikutip dari Suara.com, Habibie menggandeng putra sulungnya, Ilham Akbar Habibie, untuk mendirikan PT Regio Aviasi Industri.

Perusahaan inibergerak dalam bidang perancangan, pengembangan, dan manufaktur pesawat terbang. Produk dari perusahaan tersebut adalah pesawat RAI R80, yang merupakan lanjutan dari N250. Proyek R80 diluncurkan pada 2012 dan terbang perdana pada 2017.

Keunggulannya, pesawat R80 dilengkapi teknologi fly by wire, sistem kendali yang menggunakan sinyal elektronik dalam memberi perintah. Selain itu, pesawat ini irit bahan bakar dan bisa mengakses bandara kecil, meskipun memuat banyak penumpang.

Saat ini, status pesawat berkapasitas 80 sampai 92 penumpang ini masih dalam rancangan, tetapi 155 unit sudah terjual. Itulah beberapa karya monumental Habibie khususnya di dunia industri penerbangan.

Ditulis oleh : Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.