Gejala Anosmia dan Cara Menangkal Covid-19 saat New Normal

Gejala virus corona baru atau Covid-19 terus berkembang, termasuk anosmia. Umumnya, mereka yang terinfeksi akan mengalami batuk, pilek, hingga panas tinggi, namun belakangan dilaporkan gejala lainnya berupa anosmia.

JEDA.ID- Gejala virus corona baru atau Covid-19 terus berkembang, termasuk anosmia. Umumnya, mereka yang terinfeksi akan mengalami batuk, pilek, hingga panas tinggi, namun belakangan dilaporkan gejala lainnya berupa anosmia.

Lantas apa yang dimaksud anosmia? Dilansir bisnis.com dari Express UK, Rabu (3/6/2020), anosmia adalah hilangnya sebagian atau seluruh indera penciuman. Biasanya, anosmia disebabkan oleh cedera kepala, penyumbatan hidung, atau infeksi, seperti pilek, namun kini menjadi gejala dari Covid-19.

Profesor Claire Hopkins, Konsultan Ahli Bedah THT di London Bridge Hospital menjelaskan anosmia adalah ketidakmampuan untuk mencium berbagai hal.

“Kehilangan penciuman yang bisa sangat tiba-tiba, seperti dengan cedera kepala atau infeksi virus, atau hilangnya dapat terjadi secara bertahap, terkait dengan usia. Ini termasuk bau baik dan buruk seperti kopi kental atau popok bayi,” ujarnya.

Selain gejala yang jelas tidak bisa mencium, anosmia juga bisa memengaruhi indera perasa. Prof Hopkins menjelaskan, merasakan rasa manis, asin, asam, pahit atau rasa daging, berasal dari indera penciuman.

“Jadi, ketika kita kehilangan ini, merusak kemampuan kita untuk mendeteksi rasa ketika kita makan, dan makanan terasa sangat hambar,” sebutnya.

Profesor Hopkins berkata ada banyak penyebab hilangnya indera penciuman. Penyebabnya bisa dibagi menjadi dua kelompok. Antara lain penyakit yang menyebabkan penyumbatan hidung dan menghalangi masuknya bau ke bagian atas hidung, di mana ujung saraf bau ditemukan, atau penyakit yang secara langsung memengaruhi saraf.

“Cedera saraf dapat terjadi setelah cedera kepala atau setelah infeksi virus seperti flu biasa,” tambahnya.

Berusia hingga Ribuan Tahun, Inikah Tumbuhan dan Hewan Paling Tua?

Segera Periksa

Anosmia juga dapat disebabkan sebagai akibat dari penuaan, dan biasanya berlangsung secara bertahap. Sebanyak 80% dari mereka berusia di atas 75 tahun.

“Kehilangan indera penciuman juga kadang-kadang dapat dikaitkan dengan gangguan neurodegeneratif termasuk Parkinson dan Alzheimer,” imbuhnya.

Hopkins juga mengidentifikasi, anosmia bisa terjadi pada mereka yang terlalu sering menggunakan kokain, atau kadang-kadang dapat terjadi sebagai efek samping dari obat yang diresepkan.

“Jarang, indera penciuman bisa absen sejak lahir jika saraf penciuman tidak berkembang dengan baik,” katanya.

Sementara itu, penyebab orang dengan Covid-19 dapat kehilangan indera penciuman mereka karena virus melukai ujung saraf pada epitel penciuman dan merusak bola penciuman.

Hopkins menyebut penelitian menunjukkan bahwa 70-80 persen pasien Covid-19 kehilangan indera penciuman.

Profesor Hopkins menyarankan agar mereka dibawa ke dokter umum atau spesialis THT. Jika itu berlangsung lebih dari dua hingga tiga pekan, kembali ke dokter untuk memeriksa lebih dalam penyebab timbulnya anosmia.

Andai kata terkait Covid-19, Hopkins mengimbau agar mengisolasi diri di rumah dan melakukan swab test.

Jangan Sampai Tertipu, Ini Cara Kenali Akun Online Shop Palsu

Sudah Siapkah Penerapan New Normal?

Di sisi lain, penerapan new normal atau adaptasi kehidupan baru terus dipersiapkan oleh pemerintah. Dalam beberapa kesempatan, Presiden Joko Widodo meminta seluruh masyarakat tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan ketika seluruh kegiatan ekonomi beroperasi kembali.

Sebelum vaksin yang efektif ditemukan, kedisiplinan merupakan vaksin alami yang harus dijaga oleh masyarakat ketika harus hidup berdamai dengan Covid-19 dalam beberapa waktu ke depan.

Erlina Burhan Dokter Spesialis Paru RSUP Persahabatan, menegaskan, bila masyarakat tidak disiplin dan lengah menjalankan protokol kesehatan, bukan tidak mungkin akan terjadi gelombang kedua pandemi Covid 19 di Indonesia setelah Juni 2020.

Apalagi saat ini sebetulnya penambahan jumlah kasus Covid-19 masih terus meningkat dan belum ada penurunan. Menurutnya, sebuah negara baru bisa menerapkan kebijakan new normal dengan beberapa syarat.

Pertama, ketika telah terbukti bahwa transmisi penyebaran virus Covid-19 telah terkontrol. Dua, kapasitas tenaga kesehatan untuk mendeteksi dan mengobati sudah cukup bagus.

Ketiga, risiko penyebawaran wabah pada orang-orang yang berisiko tinggi sudah bisa diatasi dan sudah ada upaya pencegahan. Keempat, kasus-kasus impor sudah dapat dikendalikan, dan terakhir, masyarakat sudah teredukasi dengan baik serta memiliki kedisiplinan yang tinggi.

“Saat ini kita masih dalam tahap transisi belum new normal, ada hal-hal yang perlu diperhatikan. Kita harus tetap menjaga kebiasaan yang sudah dijalankan saat pandemi Covid-19. Pertama adalah disiplin untuk social distancing, jaga jarak, pakai masker, cuci tangan, hidup bersih, dan sehat, termasuk meningkatkan daya tahan tubuh,” ujarnya, dalam Diskusi Online ASTHIN Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Alami Selama Pandemi Covid-19 dengan Antioksidan, Rabu (3/6/2020) seperti dilansir Bisnis.com.

Untuk meningkatkan daya tahan tubuh, masyarakat harus melakukan makan yang cukup, istirahat yang cukup, memiliki suasana hati yang bagus atau jangan stress, minum vitamin, dan sebagainya. Bagi masyarakat yang tidak begitu yakin apakah makanan yang dikonsumsi sudah cukup mengandung vitamin, maka dapat melengkapinya dengan mengonsumsi produk vitamin atau suplemen.

“Saat ini belum ada vaksin dan belum ada obat yang betul-betul spesifik, maka penting bagi masyarakat untuk mengonsumsi vitamin atau suplemen yang mengandung antioksidan seperti vitamin B, C, E, dan zinc yang juga terdapat pada buah, dan sayur-mayur.

Ditulis oleh :

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.