Anak Tantrum: Beda Usia, Beda Indikasi

Menghadapi anak yang sedang tantrum bukanlah hal mudah. Reaksi orang tua yang tidak tepat menyebabkan emosi anak semakin tak terkendali.

JEDA.ID–Fenomena anak menangis, marah, dan berteriak di tempat umum adalah hal lumrah. Perilaku anak semacam itu biasa disebut tantrum. Menghadapi tantrum memerlukan strategi yang tepat agar mereka tetap terkontrol.

Tantrum merupakan hal yang wajar bagi anak batita (bawah tiga tahun) seperti dirangkum dari Temper Tantrums: Guidelines for Parents and Teachers, Selasa (3/9/2019).

Perilaku tersebut merupakan cara anak mengekspresikan emosi. Namun, orang tua harus mewaspadai jika anak mulai menyakiti diri atau orang lain.

Mungkin tantrum sering membuat orang tua frustasi. Akan tetapi, gunakan tantrum sebagai sarana mengajarkan buah hati mengontrol emosi.

Menurut dokter spesialis anak RSUD Dr Soetomo Surabaya, Meta Hanindita, tantrum merupakan ledakan emosi yang tak terkendali. Tantrum merupakan hal normal dari proses perkembangan anak.

”Tantrum pasti akan ada akhirnya. Biasanya saat anak memasuki umur empat tahun. Tantrum umumnya muncul saat anak berumur satu tahun dan makin parah saat berumur dua tahun,” kata Meta dalam buku Play and Learn seperti dikutip dari Detikcom.

3 Fase

Penelitian National Association of School Psychologist, Universitas Miami, Amerika Serikat, menunjukkan perkembangan dan tahapan tantrum terbagi dalam tiga fase. Tahap pertama tantrum dapat terjadi pada umur 12 bulan-15 bulan.

Pada umur satu tahun, anak mulai aktif bergerak dan lebih peka terhadap perasaan suka atau tidak suka. Penglihatan anak terhadap benda di sekitarnya pun lebih peka. Bentuk tantrum bisa berupa tangisan kencang, berpura-pura jatuh, dan selalu menempel pada orang tua.

Dilansir Just The Facts Baby, pada usia 12 bulan, anak tantrum bukan untuk mencari perhatian. Tantrum tahap pertama terjadi akibat ledakan emosi. Anak merasa frustrasi saat ingin berkomunikasi namun kemampuan bicaranya terbatas.

Puncak tantrum terjadi saat buah hati berumur 18 bulan-36 bulan. Hal itu dapat dilihat dari frekuensi, intensitas, dan waktu tantrum. Beberapa  tantrum terjadi pada waktu singkat atau 10 detik-15 detik. Pada anak lain, tantrum dapat terjadi selama satu jam hingga dua jam.

Bentuk pelampiasan emosi anak pun lebih beragam. Mulai dari melemparkan diri ke lantai, menggigit badan, sampai menahan napas. Menurut Fetsch dan Jacobson, pada usia dua tahun hingga tiga tahun anak mulai membentuk rasa percaya diri.

Anak umur tersebut berada pada tahap autonomy vs shame and doubt. Maksudnya, anak seolah-olah ingin menunjukkan sesuatu, padahal tidak. Emosi mereka pun berkembang lebih cepat daripada kemampuan pengendaliannya.

Ekspresi Lewat Ucapan

anak tantrum

Ilustrasi anak menangis (Freepik)

Pada umur tiga tahun, kemampuan berbahasa anak semakin berkembang. Anak mulai bisa mengekspresikan keinginannya melalui ucapan. Hal itu menyebabkan bocah tak sering mengalami tantrum. Akan tetapi, mereka mulai tantrum jika keinginannya tidak dipenuhi.

Menurut psikolog asal Amerika Serikat, Michelle Borba, sekitar 23%-83% anak umur dua tahun hingga empat tahun melakukan tantrum sekali dalam sepekan. Selain itu, ada 20% anak yang melakukan tantrum setiap hari.

Tak semua anak mengalami penurunan frekuensi tantrum pada umur tiga tahun. Banyak pula bocah umur empat tahun bahkan lima tahun yang masih tantrum.

Frekuensinya yakni, 20% di antaranya tantrum dua kali atau lebih dalam sehari. Pada bocah usia di atas empat tahun hanya 11% yang melakukan tantrum lebih dari dua kali sehari.

Ketika menginjak usia sekolah, seharusnya anak tidak mengalami tantrum. Tantrum saat usia sekolah dapat berupa perilaku impulsif, membangkang, dan mudah frustrasi. Anak pun mudah meledak saat sedang marah.

Tantrum saat usia sekolah dapat dipicu oleh trauma atau aturan ketat orang tua. Perubahan lingkungan yang tajam karena pindah rumah atau perceraian juga memicu tantrum.

Cara Hadapi Tantrum

Menghadapi buah hati yang sedang tantrum bukanlah hal mudah. Reaksi orang tua yang tidak tepat menyebabkan emosi anak semakin tak terkendali. Penelitian Tantrum and Anxiety in Early Chilhood oleh Mireaut dan Trahan, menunjukkan fakta menarik.

Pada 33 orang responden, didapatkan gambaran mengenai perilaku tantrum dan bagaimana orang tua merespons tantrum. Hasilnya, banyak respons orang tua yang tidak tepat dalam menghadapi tantrum.

Respons orang tua dibagi ke dalam empat bagian. Pertama, mencoba menuruti kemauan anak sebesar 59%, membiarkan anak sebesar 37%, mencoba menenangkan anak sebesar 31%, dan penggunaan hukuman disiplin sebesar 66%.

Strategi orang tua dalam mengatasi tantrum merupakan hal yang krusial. Strategi tersebut dibagi dalam tiga tahap seperti dikutip dari penelitian Strategi Ibu Mengatasi Perilaku Temper Tantrum pada Anak Usia Toddler di Rumah Susun Keudah Kota Banda Aceh, oleh Sri Intan, Staf Pengajar Universitas Syiah Kuala, Aceh.

Dari 31 responden, diperoleh data sebagai berikut:

  • Sebelum tantrum: 19 ibu menghadapi tantrum dengan positif dan 12 dengan negatif.
  • Saat tantrum: 16 ibu menghadapi dengan positif dan 15 dengan negatif.
  • Setelah tantrum: 15 ibu menghadapi dengan positif dan 16 dengan negatif.

Dapat dilihat, kebanyakan orang tua akan melakukan strategi positif sebelum anak tantrum. Mereka melakukan strategi positif karena mengenal stimulus penyebab tantrum.

Selain itu, orang tua juga berusaha mengenali situasi dan kebutuhan anak. Bisa jadi anak tantrum karena tak suka berada di keramaian atau karena mereka lapar serta mengantuk.

Hasil penelitian juga menunjukkan 38,7% orang tua menggunakan strategi negatif sebelum tantrum terjadi. Hal ini terjadi karena orang tua kurang memahami perkembangan anak.

Orang Tua Cenderung Membatasi

Orang tua juga cenderung membatasi anak. Pemilihan strategi mengahadapi tantrum merupakan hal yang penting. Berikut tips untuk mengahadapi tantrum pada anak seperti dikutip dari laman Stanford Children’s Health:

  1. Tetap tenang.
  2. Membiarkan anak meluapkan emosi. Tunggu sampai kemarahan mereka mereda.
  3. Melakukan cara halus dalam mengatasi tantrum. Hindari memukul pantat atau mencubit mereka.
  4. Tidak mudah menyerah menghadapi tantrum. Kedepannya, anak akan menggunakan tantrum sebagai ancaman saat keinginannya tak terpenuhi.
  5. Hindari memberi hadiah untuk menghentikan tantrum. Anak akan semakin tak terkendali saat menginginkan hadiah.
  6. Jauhkan anak dari benda-benda berbahaya. Terkadang anak yang tantrum sering melempar benda yang ada di sekitar mereka.
  7. Gunakan waktu untuk membiarkan anak mengendalikan diri.

Ada banyak hal yang memicu tantrum. Mungkin karena kemauan anak tak dipahami atau dipenuhi orang tua. Bisa jadi anak tantrum akibat situasi yang menyebabkan kemarahan. Hal tersebut meliputi berbagai macam pembatasan.

Pembatasan yang dilakukan orang tua dapat berupa rintangan gerak, keinginan, dan aktivitas anak. Pengekangan rencana dan niat juga memicu konflik yang menyebabkan anak tantrum.

Hal lain penyebab tantrum yakni, mencari perhatian orang tua. Contohnya, anak berguling-guling di lantai mini market karena orang tua melarang membeli permen.

Tantrum bisa menjadi reaksi buah hati dalam menolak hal yang tak diinginkan. Hal itu biasa terjadi saat orang tua menyuruh anak tidur atau mandi.

Semakin bertambah umur, anak mulai menggunakan tantrum sebagai ancaman. Anak merasa tantrum efektif untuk membuat keinginannya terkabul. Sudah saatnya orang tua mengenal fase-fase tantrum pada anak sehingga bisa memberikan respons positif.

Ditulis oleh : Atina Firdausa Qisthi/Danang Nur Ihsan

Sign up for the Newsletter

Join our newsletter and get updates in your inbox. We won’t spam you and we respect your privacy.